Semilir-semilir angin berhembus, menyapu pepohonan, sawah Pak Tani, dan rumah-rumah penduduk desa. Inilah sebuah desa yang aman tentram dan damai, Desa Buibui. Penduduknya ramah-ramah, suka tersenyum, dan saling menolong satu sama lain. Tidak jauh dari desa, ada sebuah hutan belantara. Hutan itu tidak hanya dihuni oleh Sang Raja Hutan dan kawan-kawannya, tetapi berbagai macam peri pun tinggal disana. Salah satu peri itu adalah Peri Hujan.
Peri Hujan di Desa Buibui biasa dipanggil Teru oleh peri-peri lainnya. Dia mempunyai badan yang kecil, sebesar ibu jari orang dewasa. Sayapnya indah seperti sayap kupu-kupu, berwarna hijau muda. Peri Hujan mempunyai tugas untuk menurunkan hujan ditempat kekeringan. Setiap daerah memiliki Peri Hujannya masing-masing.
Suatu hari, Teru ingin melihat dunia lain selain hutan dan desa-desa di sekitarnya. Ia pun mempersiapkan perbekalan menggunakan tas kecilnya. Beberapa bekal yang dibawanya adalah kismis peri, serbuk sihir, dan air ajaib.
Dengan penuh semangat, Teru mengepakkan sayapnya menuju daerah yang belum pernah ia tuju. Terkadang angin berhembus dengan kencangnya sehingga Teru harus berlindung dibalik pepohonan. Jika lapar ia akan memakan kismis peri. Satu kismis peri dapat membuatnya kenyang selama tiga hari.
Di tengah perjalanan, Teru melihat seorang wanita tua renta yang kesusahan. Wanita tua itu kebingungan mencari air karena sumurnya mengering. Bahkan sudah berhari hari ia tidak makan dan minum. Rasa kasihan membuat Teru ingin menolong wanita tua itu. Peri tidak dapat terlihat oleh manusia biasa, oleh sebab itu Teru menggunakan serbuk sihir agar wanita itu dapat melihatnya.
“Hwaaa…” wanita tua itu berteriak.
Teru juga kaget mendengar teriakan yang cukup keras itu. Namun ia segera menghilangkan kepanikannya. “Nek, tenang nek… aku tidak bermaksud jahat, aku ingin membantumu. Aku adalah seorang peri, namaku Teru,” kata Teru berusaha menenangkan sang nenek.
“Oh, peri?? Apakah peri memang nyata?” sang nenek terheran-heran.
Teru pun tersenyum, “Tentu saja nek… sekarang ceritakanlah masalah nenek. Aku akan membantu sebisaku.”
“Oh… Nenek sangat haus dan lapar. Nenek juga tidak mampu berjalan jauh untuk menjual hasil-hasil panen yang dititipkan oleh penduduk desa ke kota. Karena itu nenek sangat miskin, tidak punya uang,” kata sang nenek sambil bersedih.
“Malangnya… Apakah nenek tidak punya keluarga?,” Tanya Teru.
Nenek kembali memasang wajah muramnya, “Nenek punya seorang anak laki-laki. Tapi dia meninggalkan nenek setelah menikah dengan seorang wanita. Wanita itu adalah gurbenur di kota tempat nenek berjualan. Sudah lama sekali anak laki-laki nenek tidak pernah menemui nenek.”
“Hmm… Apa yang menyebabkan anak laki-laki nenek tidak pernah pulang?” Tanya Teru, penasaran.
“Wanita yang dinikahinya bukanlah wanita baik-baik. Dia suka sekali membuang sampah sembarangan dan tidak melarang penduduk kota untuk membuang sampah ke sungai. Dia juga melarang anak nenek untuk menemui nenek karena nenek dianggap memalukan,” jawab sang nenek.
Teru sungguh bersedih hati mendengar penduduk kota dan gurbenurnya suka membuang sampah sembarangan. Ia pun memberikan sang nenek beberapa butir kismis peri dan air ajaib agar sumurnya tidak mengering. Nenek pun sangat senang dan berterima kasih kepada Teru.
Dengan segera, Teru mencari Peri Hujan yang bertugas di kota itu. Dalam waktu yang tidak lama, Teru menemukannya. Nama Peri Hujan itu adalah Biribiri. Biribiri ternyata sedang sekarat. Gurbernur menyewa penyihir jahat untuk membunuh Biribiri. Biribiri pernah menurunkan hujan lebat hingga membuat kota banjir untuk menyadarkan bahwa membuang sampah sembarangan bukanlah hal yang baik.
Teru sangat marah kepada gurbernur. Dengan geram ia menemui gurbernur untuk memarahinya. Sebelumnya ia sudah menggunakan serbuk sihir untuk melindunginya dari penyihir jahat. Gurbernur tidak memperdulikan Teru. Ia malah mengusir Teru agar tidak pernah kembali ke kotanya.
Teru masih terus bersabar meskipun selalu diusir gurbernur setiap ia menasehatinya. Namun kelakukan gurbernur dan penduduk kota tidak dapat ditolerir lagi. Akhirnya Teru meminta bantuan Peri Laut, namanya Ruby. Teru meminta agar Ruby membuat bencana tsunami atau ombak yang sangat besar dari laut untuk menyapu habis kota itu. Ruby memenuhi permintaan Teru karena ia juga tidak menyukai sikap gurbernur.
Sebagai persiapan Teru mengungsikan nenek tua yang ditolongnya dan penduduk desa yang dekat dengan kota itu ke tempat yang aman. Setelah itu Ruby membuat tsunami dengan ombak yang sangat besar sekali, dan ditambah hujan lebat buatan Teru. Ombak tersebut menyapu perlahan-lahan ke daerah kota. Gurbenur dan para penduduknya sangat panik. Mereka lari kesana kemari berusaha mencari tempat yang tinggi.
Beberapa hari kemudian, air laut yang ada di kota mulai surut. Gurbenur dan penduduk kota kembali menuju rumah masing-masing. Namun rumah mereka dipenuhi oleh sampah-sampah yang mereka buang selama bertahun-tahun ke sungai. Karena tidak punya tempat tinggal lain, dengan terpaksa mereka membersihkan rumah dan seluruh kota dari sampah-sampah. Gurbernur dan penduduknya pun menyesali perbuatan mereka. Ternyata sampah-sampah yang selama ini dibuang membuat lingkungan menjadi sangat kotor sekali, kumuh, dan tidak enak untuk dilihat.
Teru dan Ruby pun senang gurbernur dan penduduk kota sudah menyadari kesalahannya. Tidak lupa nenek tua juga sudah mampu berjalan jauh untuk berjualan dari desanya ke kota. Merasa tugasnya sudah selesai, Teru pun kembali ke rumahnya, disebuah pohon, di hutan belantara Desa Buibui.

No comments:
Post a Comment