Emosi yang sukar terkendali...
Kurangnya manajemen waktu...
Ilmu parenting yang tidak memadai...
Passion fotografi yang compang camping...
Alhamdulillah, Allah pertemukan aku dengan Sekolah Online Bengkel Diri, sehingga aku mampu memperbaikinya satu persatu, perlahan-lahan. Setelah post partum selama kurang lebih delapan bulan, aku memutuskan untuk bangkit, dan Bengkel diri menjadi jalan bagiku. Ini adalah sebuah langkah yang besar.
Tidak hanya itu, aku juga mendapatkan teman-teman baru. Salah satu yang menarik adalah Ayna, perempuan shalihah lulusan dari pondok pesantren Gontor. Sebab, aku punya rencana untuk mengarahkan Naylah ke Gontor. Sungguh kehendak Allah yang indah. Entahlah, tapi aku merasa, jalanku seperti terbuka.
Disini aku mendompleng diri sendiri terhadap kekurangan diri dahulu, yaitu tidak menghormati ilmu dan meremehkan guru. Caranya dengan mengosongkan akal sebelum menerima materi, bahwa sejatinya guruku selalu lebih tahu dariku, dan kenyataannya memang demikian. Penyesalan yang luar biasa sekali, dulu aku amat mudah meremehkan, bukankah ini sombong namanya? hiks...
Semoga Allah mengampuni aku... doaku sedikit banyak terkabul melalui langkah besarku untuk mengikuti Sekolah Online Bengkel Diri ini... Terima kasih Bengkel Diri, dan terima kasih kepada guru-guruku semuanya... semoga aku menjadi saksi atas amal jariyah berupa ilmu yang kalian sampaikan kepadaku...
Saturday, August 10, 2019
Monday, April 17, 2017
Kepingin Kaya
Di sebuah forum, seorang ibu yang sedang tidak bisa tidur bercerita mengenai kehidupannya. Ia bahagia mempunyai seorang suami yang baik, sholeh, selalu mengalah, setia, sangat jujur dan juga polos. Disisi lain, ia berpikiran kenapa tidak bisa seperti teman-teman yang lain, punya rumah, mobil, uang yang sangat banyak, bisa jalan-jalan kemana-mana. Sedangkan, bisa menabung setiap bulan saja dirinya sudah merasa beruntung. Hingga ia sendiri tidak bisa menjawab pertanyaan suaminya, "Kamu nyesel nikah sama aku ?"
Saya jadi tertarik untuk sharing masalah ini, cuma sharing saja lho! Soalnya saya juga masih terus belajar. Tapi, saya disini tidak ingin menggunakan kata "saya", melainkan "gw", supaya lebih santai, hahaha, siapa juga yang bakal mempermasalahin yak?
Jadi gini, ini sih berdasarkan pengalaman gw. Kadang emang ada kalanya pikiran membanding-bandingkan itu ada. Apalagi kalau habis liat-liat media sosial. Jadi racun juga nih sebenarnya. Makanya ada yang bilang kalau medsos itu bukan tempatnya orang yang iri dengki, tapi mudah-mudahan orang lain juga tidak bermudah-mudahan merasa aman dari sifat riya dan membanggakan diri. Masing-masing dari kita pasti kena ujian, yang kelihatan kaya bukan tidak diuji, tetapi kekayaannya memang bentuk ujiannya. Dan boleh jadi, bahkan pastinya, kita berhusnudzon, kenikmatan mereka adalah bentuk dari kerja keras mereka selama ini. Sedangkan, kita perlu bekerja lebih keras lagi.
Seperti yang gw bilang, kalau masing-masing kita diuji, dan diujinya pasti dititik lemah, karena kalau dititik yang paling kuat, kita pasti lulus. Dalam rumah tangga, ada yang suaminya baik, tapi finansialnya kurang baik; ada yang finansialnya baik, tapi kehidupan rumah tangganya hambar; ada yang suaminya baik, finansialnya baik, tapi hubungan dengan mertuanya kurang baik; ada yang suaminya baik, finansialnya baik, tapi belum punya anak; ada juga yang suami baik, finansialnya cukup, pas butuh-pas ada, tapi sudah diberi rejeki berupa anak; dan lain sebagainya. Gw belajar dari kasus-kasus ini, supaya ga sembarangan ngejudge dan sok tahu sama rumah tangga orang, supaya ga jadi emak-emak nyablak kayak ibu-ibu komplek yang kalau komentar ga dipikir dulu, hahahaha. Karena belajar butuh proses, jadi mohon maaf kalau pernah ada yang tersakiti sama gw.
Kalau kasusnya sama seperti ibu di forum itu, percaya deh, ga ada yang bisa menggantikan suami sholeh. Soal rejeki sudah dijamin sama Allah, tinggal kita jemput. Di surga nanti banyaknya orang miskin. Bukan gw ngajarin kita miskin ajah, bukan lho hahaha. Bisa diambil pelajarannya, orang kaya dihisabnya lama, dan bisa jadi banyak orang yang ga lulus saat diuji dengan kekayaan. Jadi, kalau saat ini kita belum kaya, santai aja, usaha tetep jalan terus. Kita ibadah juga butuh uang, untuk naik haji, umrah, sedekah, zakat, ikut kajian ke mesjid-mesjid, dan lain-lan. Buat yang udah kaya, jangan lupa itu ujian, amat mudah bagi Allah untuk mengambil lagi apa yang dititipkan, jadi gw cuma ingetin ajah, supaya dipergunakan dengan baik dan benar.
Yah bisa dibilang untuk menghindari sifat iri dengki ini, kita perlu berhenti untuk membanding-bandingkan, berdoa sama Allah, jangan mikirin yang ga ada, dan jangan sering-sering liat medsos, hehehe betul tidak ?
Friday, March 31, 2017
Pelakor
Pelakor alis perebut laki orang, kini cukup ramai dikalangan netizen Instagram. Salah satu kisahnya adalah mengenai seorang istri yang berprofesi sebagai dokter. Pernikahan yang masih seumur jagung dan kehamilan sang istri, nampaknya tidak menyurutkan niat sang suami untuk melirik wanita lain yang juga memiliki profesi yang sama seperti istrinya. Wanita lain itu sudah diperingatkan, tapi apalah daya ketika cinta yang berlatar belakang hawa nafsu ini telah membabi buta, hubungan "kakak-adik" pada mulanya.
Rasa sakit istri membuatnya kalap memposting hubungan suaminya dan wanita itu di Instagram. Ia pun mendapat banyak simpati dari netizen, yang kemudian meminta akun gosip lambe_turah untuk memviralkannya. Dengan follower lebih dari dua juta orang, lambe_turah mampu mengumpulkan masa lebih banyak untuk mendukung sang istri. Habislah suami dan wanita itu, terkena sumpah serapah masyarakat.
Cerita tentang pelakor semacam ini juga banyak ditemukan diforum-forum internet lainnya. Memang bukan masalah baru, tapi kemajuan media sosial menjadi salah satu bagian dari timbulnya persoalan ini.
Biasanya... kita tidak perlu jauh-jauh mencari siapa yang menjadi wanita idaman lain suami, kalau bukan wanita dari masa lalunya, berarti teman kerja wanitanya. Pelakor sejatinya tidak menanggung beban cacian sendirian. Sebab, baik suami yang berselingkuh dan pelakor sama-sama salah. Konsepnya tamu tidak akan masuk kalau tuan rumahnya tidak membukakan pintu. Namun, entah kenapa, pelakor dilihat sebagai orang yang paling bersalah, dan paling jelek aibnya. Anehnya juga, biasanya, sebagian besar pelakor yang diperingati tidak merasa bersalah, justru sebaliknya, "playing as victim". Pelakor malah lebih galak daripada istri sahnya, kalau sedang dinasehati.
Tentunya kita tidak memukul rata semua persoalan. Tak dipungkiri memang ada laki-laki yang sifatnya suka "bermain" dengan wanita. Sehingga amat mudah tergoyahkan hatinya. Bahkan sanggup berbohong bahwa dirinya masih bujang lapuk. Sifat seperti ini lebih tergolong sebagai penyakit. Disisi lain, ada pula wanita polos yang menerima si bujang lapuk yang berbohong ini. Tapi... tidak sedikit wanita yang niatnya memang buruk, sudah tahu ada laki beristri, tapi tetap kalap menggoda sana sini.
Berbeda ya dengan poligami...! Poligami yang diawali dengan perselingkuhan, benar-benar tidak berkah hasilnya. Rumah tangga akan kehilangan fondasinya. Kalau pun bertahan, ketenangan tiada didapat. Jika berniat berpoligami, lakukanlah sesuai syariat dan adab.
Hayo... siapa yang pernah jadi pelakor ?? Hehehe, jangan yah... cobalah posisikan diri kalian kalau orang yang kalian cintai direbut sedemikian rupa. Ingat pula, bahwa apa yang kalian lakukan pasti akan kembali ke diri kalian sendiri. Kalau seorang laki-laki sanggup meninggalkan seseorang demi kalian, berarti dia juga sanggup meninggalkan kalian demi wanita lain. Sudah banyak kisah nyata yang ada disekitar saya pribadi. Ada yang kehidupannya semakin susah, kesulitan ini itu baik secara finansial maupun sakit parah, malah ada yang tidak jadi menikah.
Saya juga pernah bertanya pada beberapa teman, ternyata ada pula kekhawatiran dari istri apabila suami pindah ke lain hati. Meskipun demikian, mereka lebih memilih percaya kepada suaminya. Sebabnya janganlah para suami mengkhianati kepercayaan besar yang diberikan istri. Cerita-cerita pelakor semacam ini seringkali saya ceritakan juga ke Abi, hehe... sambil berkata "Jangan begitu ya biii...", sembari mencari hikmahnya, apa-apa yang perlu diperbaiki dari rumah tangga kami. Salah satu komitmennya adalah tidak saling menyembunyikan. Abi adalah orang yang paling tahu siapa orang yang bikin saya sebal, jengkel, dan ngomel-ngomel sendiri, hahaha...
Mudah-mudahan Allah selalu melindungi rumah tangga kami, dan rumah tangga kalian...
Subscribe to:
Posts (Atom)