"Aku kira kamu orangnya kalem..." -Abi
Siang Pertama
Alhamdulillah, pernikahan kami berjalan dengan lancar dan baik. Segera setelah resepsi, kami pulang ke rumah bapak terlebih dahulu, lalu menuju ke kontrakan yang jaraknya tidak terlalu jauh. Bayangkan orang yang tidak pernah bersama bahkan asing harus berdua-duan di dalam kontrakan. Dengan malu-malu, wajah yang kemerah-merahan, sambil tersenyum-senyum *hahahaha
Tapi, asli tidak bohong, saya malu banget waktu itu.
Berhubung belum shalat dzuhur bersegeralah kami shalat berjamaah. Nah, sehabis shalat Abi menoleh ke belakang, duduk menghadap saya. Saya pun tersenyum penuh kebingungan, sambil berpikir, "Masa sih sekarang?" *hahahahahah parah
Beliau mengulurkan tangan, dengan sangat malu sekali saya menyalami tangannya dan segera menunduk. Seketika itu beliau mencium kening saya kemudian berdoa, masya Allah...
Saya masih bingung, ini akibat dari tidak mempersiapkan ilmu. Tapi, kejadian itu membuat saya speechless, oh sungguh betapa indahnya Islam itu. Terasa sekali kelembutannya. Bahkan orang pacaran sekalipun meskipun melakukan hal yang sama rasanya tidak akan selembut itu.
Malam Pertama
Malam pertama kelihatannya adalah malam terpenting bagi pengantin baru. Sebenarnya tidak seperti itu juga sih. Hanya saja, ini menjadi langkah awal pengenalan lebih dalam. Di malam itu, saya tidak bisa tidur sampai malam esok harinya lagi, padahal saat itu saya sakit kepala, tapi mata tetap tidak bisa terpejam. Betapa tidak biasanya tidur disebelah orang asing. Hal yang sama terjadi pada malam kedua, hingga saya memberanikan diri untuk pindah tidur diruang tamu. Akhirnya saya bisa tidur sebentar. Karena Abi terbangun ditengah malam, saya disuruh pindah lagi ke dalam kamar, alhasil saya tidak bisa tidur lagi *hahahah
Ada baiknya dipelajari terlebih dahulu adab-adabnya, mana yang diperbolehkan dan mana yang tidak. Sudah banyak ulama yang menulis hal tersebut disitus-situs islami terpercaya. Kalian dapat pula menemukannya di buku-buku hadist.
Learning by Doing
Untuk para akhwat banyak sekali permasalahan setelah menikah yang nantinya harus dihadapi. Mohon maaf jika ada beberapa point yang terlalu vulgar, namun nampaknya persoalan ini harus saya sampaikan.
1. Darah perawan tidak selalu muncul pada setiap akhwat. Kemunculannya pun tidak selalu pada saat berhubungan. Ada beberapa orang yang bahkan masih mengeluarkan darah setelah beberapa kali berhubungan. Jika darah tersebut keluar setelah mandi junub, setahu saya kita tidak perlu mandi lagi. Namun pakaian yang terkena darah perlu diganti.
2. Pelajarilah siklus menstruasi. Hal ini sangat diperlukan untuk membedakan antara darah perawan/karena luka, darah haid, dan darah flek kehamilan. Mengapa? karena ini berkaitan dengan kesucian, boleh tidaknya kita beribadah seperti shalat, dan puasa. Menurut beberapa artikel yang saya baca, terdapat dua cara untuk membedakan darah tersebut, yang pertama berdasarkan kebiasaan, yang kedua berdasarkan sifat darah. Membedakan darah berdasarkan sifat darahnya dilakukan secara visual dan agak sulit dibedakan jika darah sudah mengering, Oleh sebab itu pelajarilah siklus menstruasi, sehingga dapat menjadi patokan apakah darah tersebut merupakan darah haid atau bukan.
3. Belajarlah memasak, *hahahaha. Kelihatannya di zaman modern itu nampak sepele, namun ternyata efeknya besar sekali jika sudah menikah.
4. Berilah perhatian-perhatian kecil kepada suami. Abi pernah menegur saya, "Pengen sih sekali-sekali ditanya mau minum apa.." *hahahaha, jujur saja saya tipe orang yang tidak terlalu perhatian seperti itu karena melihat kebiasaan beliau yang lebih banyak minum air putih, saya berpikir bahwa beliau tidak menginginkan jenis minuman yang lain.
5. Wajib hukumnya untuk menjaga lidah agar tidak menyakiti hati suami.
6. Lakukan hal-hal yang membuat suami menjadi ridho terhadap istrinya.
Adab Adab yang Perlu Dijaga.
Sudah banyak sekali yang menuliskan mengenai adab-adab ini terutama adab suami istri setelah menikah. Namun, disini saya akan menulis adab-adab yang perlu dijaga oleh orang yang sudah menikah terhadap orang lain yang belum menikah. Saya mendapatkan ini dari seorang teman, tapi saya tidak menemukan sumber aslinya. Bagi yang mengetahui, silahkan memberitahu saya.
Ujian paling berat itu adalah ketika kita diberi kemudahan-kemudahan lalu terlena didalamnya sehingga menyakiti hati sesama manusia lainnya.
1. Kehamilan dan persalinan yang mudah, lancar, normal cenderung tanpa kesulitan, sering membuat mencemoh yang susah hamilnya, penuh resiko, atau bermasalah dengan kata-kata mandul, manja, dan lain-lain.
2. Anak-anak yang cenderung sehat, serba normal, penuh aktivitas, mudah diurus, penuh kasih sayang, sering menimbulkan rasa riya', merasa diri ibu sempurna hingga merendahkan ibu yang lain dan enggan belajar.
3. Suami yang setia, tidak neko-neko, romantis dan begitu perhatian, membuat kita terlena untuk memperbaiki diri dan ahlak agar terus menjadi bidadari surga dan bukan pencela pasangan lain yang bermasalah.
4. Keuangan yang stabil bahkan berlebihan, kadangkala membuat terlupa menengok ke bawah, lupa rasanya bersyukur, mudah menghakimi yang lain pemalas dan tak mau kerja keras layaknya dirinya.
5. Orangtua dan mertua yang pengasih, mudah beradaptasi, membuat kita merasa sempurna sebagai anak, sering membuat kita mudah menghakimi mereka yang bermasalah dengan orang tua dan mertua sebagai anak durhaka, tak tau terima kasih.
6. Rumah tangga yang lengkap membuat mulut kita ringan bercanda dengan kalimat status janda dan duda tanpa memikirkan kesedihan apa yang dirasakan apabila kita menjadi orang yang mengalami status tersebut.
7. Jodoh yang datang cepat membuat kita menggunjingkan orang yang belum menikah di usia patut dengan berbagai alasan.
Begitulah, karena terlalu berbahagia, kita menjadi lupa, sehingga menumpulkan peka untuk berhati-hati dalam berbicara dan menulis status di sosial media. Oleh sebab itu saya cukupkan The Wedding Guide dalam tiga bagian saja untuk menjaga perasaan teman-teman lain yang belum menikah.
Semoga bermanfaat, mohon maaf untuk semua kata-kata yang tidak berkenan dan menyakiti hati.
Allahu a'lam