Wednesday, September 30, 2015

The Wedding Guide - 3

Setelah The Wedding Guide - 2, tulisan ini akan menjadi bagian terakhir dari trilogy The Wedding Guide.

"Aku kira kamu orangnya kalem..." -Abi

Siang Pertama

Alhamdulillah, pernikahan kami berjalan dengan lancar dan baik. Segera setelah resepsi, kami pulang ke rumah bapak terlebih dahulu, lalu menuju ke kontrakan yang jaraknya tidak terlalu jauh. Bayangkan orang yang tidak pernah bersama bahkan asing harus berdua-duan di dalam kontrakan. Dengan malu-malu, wajah yang kemerah-merahan, sambil tersenyum-senyum *hahahaha
Tapi, asli tidak bohong, saya malu banget waktu itu.
Berhubung belum shalat dzuhur bersegeralah kami shalat berjamaah. Nah, sehabis shalat Abi menoleh ke belakang, duduk menghadap saya. Saya pun tersenyum penuh kebingungan, sambil berpikir, "Masa sih sekarang?" *hahahahahah parah
Beliau mengulurkan tangan, dengan sangat malu sekali saya menyalami tangannya dan segera menunduk. Seketika itu beliau mencium kening saya kemudian berdoa, masya Allah...
Saya masih bingung, ini akibat dari tidak mempersiapkan ilmu. Tapi, kejadian itu membuat saya speechless, oh sungguh betapa indahnya Islam itu. Terasa sekali kelembutannya. Bahkan orang pacaran sekalipun meskipun melakukan hal yang sama rasanya tidak akan selembut itu.

Malam Pertama

Malam pertama kelihatannya adalah malam terpenting bagi pengantin baru. Sebenarnya tidak seperti itu juga sih. Hanya saja, ini menjadi langkah awal pengenalan lebih dalam. Di malam itu, saya tidak bisa tidur sampai malam esok harinya lagi, padahal saat itu saya sakit kepala, tapi mata tetap tidak bisa terpejam. Betapa tidak biasanya tidur disebelah orang asing. Hal yang sama terjadi pada malam kedua, hingga saya memberanikan diri untuk pindah tidur diruang tamu. Akhirnya saya bisa tidur sebentar. Karena Abi terbangun ditengah malam, saya disuruh pindah lagi ke dalam kamar, alhasil saya tidak bisa tidur lagi *hahahah

Ada baiknya dipelajari terlebih dahulu adab-adabnya, mana yang diperbolehkan dan mana yang tidak. Sudah banyak ulama yang menulis hal tersebut disitus-situs islami terpercaya. Kalian dapat pula menemukannya di buku-buku hadist.

Learning by Doing

Untuk para akhwat banyak sekali permasalahan setelah menikah yang nantinya harus dihadapi. Mohon maaf jika ada beberapa point yang terlalu vulgar, namun nampaknya persoalan ini harus saya sampaikan.

1. Darah perawan tidak selalu muncul pada setiap akhwat. Kemunculannya pun tidak selalu pada saat berhubungan. Ada beberapa orang yang bahkan masih mengeluarkan darah setelah beberapa kali berhubungan. Jika darah tersebut keluar setelah mandi junub, setahu saya kita tidak perlu mandi lagi. Namun pakaian yang terkena darah perlu diganti.

2. Pelajarilah siklus menstruasi. Hal ini sangat diperlukan untuk membedakan antara darah perawan/karena luka, darah haid, dan darah flek kehamilan. Mengapa? karena ini berkaitan dengan kesucian, boleh tidaknya kita beribadah seperti shalat, dan puasa. Menurut beberapa artikel yang saya baca, terdapat dua cara untuk membedakan darah tersebut, yang pertama berdasarkan kebiasaan, yang kedua berdasarkan sifat darah. Membedakan darah berdasarkan sifat darahnya dilakukan secara visual dan agak sulit dibedakan jika  darah sudah mengering, Oleh sebab itu pelajarilah siklus menstruasi, sehingga dapat menjadi patokan apakah darah tersebut merupakan darah haid atau bukan.

3. Belajarlah memasak, *hahahaha. Kelihatannya di zaman modern itu nampak sepele, namun ternyata efeknya besar sekali jika sudah menikah. 

4. Berilah perhatian-perhatian kecil kepada suami. Abi pernah menegur saya, "Pengen sih sekali-sekali ditanya mau minum apa.." *hahahaha, jujur saja saya tipe orang yang tidak terlalu perhatian seperti itu karena melihat kebiasaan beliau yang lebih banyak minum air putih, saya berpikir bahwa beliau tidak menginginkan jenis minuman yang lain.

5. Wajib hukumnya untuk menjaga lidah agar tidak menyakiti hati suami.

6. Lakukan hal-hal yang membuat suami menjadi ridho terhadap istrinya.

Adab Adab yang Perlu Dijaga.

Sudah banyak sekali yang menuliskan mengenai adab-adab ini terutama adab suami istri setelah menikah. Namun, disini saya akan menulis adab-adab yang perlu dijaga oleh orang yang sudah menikah terhadap orang lain yang belum menikah. Saya mendapatkan ini dari seorang teman, tapi saya tidak menemukan sumber aslinya. Bagi yang mengetahui, silahkan memberitahu saya.

Ujian paling berat itu adalah ketika kita diberi kemudahan-kemudahan lalu terlena didalamnya sehingga menyakiti hati sesama manusia lainnya.

1. Kehamilan dan persalinan yang mudah, lancar, normal cenderung tanpa kesulitan, sering membuat mencemoh yang susah hamilnya, penuh resiko, atau bermasalah dengan kata-kata mandul, manja, dan lain-lain.

2. Anak-anak yang cenderung sehat, serba normal, penuh aktivitas, mudah diurus, penuh kasih sayang, sering menimbulkan rasa riya', merasa diri ibu sempurna hingga merendahkan ibu yang lain dan enggan belajar.

3. Suami yang setia, tidak neko-neko, romantis dan begitu perhatian, membuat kita terlena untuk memperbaiki diri dan ahlak agar terus menjadi bidadari surga dan bukan pencela pasangan lain yang bermasalah.

4. Keuangan yang stabil bahkan berlebihan, kadangkala membuat terlupa menengok ke bawah, lupa rasanya bersyukur, mudah menghakimi yang lain pemalas dan tak mau kerja keras layaknya dirinya.

5. Orangtua dan mertua yang pengasih, mudah beradaptasi, membuat kita merasa sempurna sebagai anak, sering membuat kita mudah menghakimi mereka yang bermasalah dengan orang tua dan mertua sebagai anak durhaka, tak tau terima kasih.

6. Rumah tangga yang lengkap membuat mulut kita ringan bercanda dengan kalimat status janda dan duda tanpa memikirkan kesedihan apa yang dirasakan apabila kita menjadi orang yang mengalami status tersebut.

7. Jodoh yang datang cepat membuat kita menggunjingkan orang yang belum menikah di usia patut dengan berbagai alasan.

Begitulah, karena terlalu berbahagia, kita menjadi lupa, sehingga menumpulkan peka untuk berhati-hati dalam berbicara dan menulis status di sosial media. Oleh sebab itu saya cukupkan The Wedding Guide dalam tiga bagian saja untuk menjaga perasaan teman-teman lain yang belum menikah. 

Semoga bermanfaat, mohon maaf untuk semua kata-kata yang tidak berkenan dan menyakiti hati.


Allahu a'lam






Tuesday, September 29, 2015

The Wedding Guide - 2

Melanjutkan tulisan dari The Wedding Guide - 1, berikut ini saya akan berbagi pengalaman mengenai persiapan lebih lanjut sebelum proses akad nikah berlangsung.

Sekiranya perlu diputuskan terlebih dahulu, apakah akan menikah dirumah atau menyewa gedung. Tentunya dari kedua pilihan tersebut terdapat kekurangan dan kelebihan. Misalnya saja, jika menikah dirumah harganya tentu akan lebih murah karena tidak perlu uang sewa. Namun perlu izin kepada tetangga disekitar rumah sebab mungkin saja halaman rumah kurang luas. Umumnya kita juga perlu menyewa tenda dan kursi. Kekurangannya, jika menikah dirumah 'seperti' tidak ada batas waktu akhir resepsi, sehingga mungkin tamu dapat datang sesuka hati meskipun sudah lewat dari waktu yang ditentukan. 

Menikah di gedung memang terlihat lebih mahal, namun kita tidak perlu membereskan rumah, serta lebih berakhir tepat waktu sehingga dapat menyiapkan stamina untuk malam pertama. *eeeaaa
Jika memutuskan untuk menikah di gedung segeralah putuskan tanggal pernikahan. Semakin cepat memutuskan, maka semakin cepat pula gedung dapat di booking. Pastinya tidak hanya satu orang saja yang menyewa gedung tersebut. Ini adalah hal paling pertama yang ketika itu kami lakukan. Sisanya untuk dekorasi dan cathering akan menyusul mengikuti.
Beberapa orang mungkin mempunyai masalah berbeda. Misalnya saja menginginkan dekor dari penata rias tertentu, namun cathering atau gedung yang diinginkan tidak bersedia ditanggal tersebut. Intinya semua perlu dikoordinasikan.

Pada kasus saya penata rias sudah sepaket dengan dekorasi, mungkin ada juga yang tidak demikian. Pilihlah penata rias yang tidak kaku dan memiliki banyak pilihan busana. Agar kita dapat mengakali berpakaian syar'i. Penata rias saat ini saya kira sudah memahami trend hijab dan mempunyai kemampuan akan hal itu. Sehingga riasan pun dapat dikondisikan sesuai dengan keinginan kita.

Acara resepsi yang terpisah antara ikhwan dan akhwat tidak selalu disetujui oleh orang tua. Kemungkinan karena alasan praktis. Saya hanya mengingatkan untuk tidak berdebat dengan mereka dan berbicaralah dengan baik jika ada perbedaan pendapat.
Selain itu, sebaiknya calon pengantin pria dan wanita tidak disandingkan bersama sebelum ijab qabul terucap. Saya kira ini merupakan satu hal yang paling mudah untuk diakali.
Kemudian setelah akad biasanya terdapat acara adat. Tapi, saya pribadi memilih untuk tidak mengikutinya, sebab menurut saya itu tidak terlalu penting *hehehe

Biaya terbesar akan dihabiskan oleh cathering. Oleh sebab itu hitunglah jumlah orang yang akan diundang. Pikirkan dengan baik siapa saja yang akan diundang. Saya hanya memberi saran, sebaiknya diusahakan hidangan tidak habis ketika tamu masih berdatangan. Memuliakan tamu adalah tujuannya. Dengan perhitungan yang cermat tentang jumlah undangan, kemungkinan hidangan habis saat tamu masih berdatangan dapat diminimalisir. Inilah salah satu penyebab saya tidak bisa mengundang semua orang yang saya kenal pada saat itu. Tapi, beberapa orang mungkin akan berbeda pendapat dalam persoalan ini. 

Selain itu kita dapat mengakali agar hidangan tidak cepat habis. Biasanya selain menu prasmanan, terdapat gubukan/stand makanan. Pilihlah hidangan sedikit berat untuk mengisi gubukan/stand makanan tersebut seperti siomay, sate padang+lotong, kambing guling+lontong, zuppa soup dan lain-lain. Dengan memilih makanan yang cenderung sedikit berat, tentunya para tamu undangan tidak mampu menampung banyak makanan, sehingga makanan tidak cepat habis *hahahah

Bagian yang paling saya tidak sukai adalah sesi pemotretan. Saya bukan orang yang suka difoto, begitu pula dengan Abi. Saat kami disetting untuk melakukan gaya tertentu, terutama yang memerlukan sentuhan, saya tak kuasa untuk beristigfar *hahahaha. Fotografernya sampai keheranan dan meyakinkan bahwa kami sudah halal. Berbeda sekali rasanya disentuh oleh seorang laki-laki. Terlebih lagi, laki-laki yang kita sukai. Deg-deg-an dan bingung yang saya rasakan saat itu. Apalagi saat berpegangan tangan dilihat oleh orang banyak. 

Jadi waktu nikah saya suka sama Abi? Jawabannya iya, menurut saya beliau ganteng *hahahaha

Kurang lebihnya itulah yang dapat saya sampaikan. Mengenai hal-hal kecil seperti seserahan saya kira bisa dikondisikan masing-masing. Berikutnya saya akan berbagi cerita tentang siang dan malam pertama.


The Wedding Guide - 1


Menikah, penyatuan dua insan melalui ikatan akad, sakral, dan disaksikan. Saya sendiri penasaran bagaimana rasanya menikah. Dan ternyata setelah dua minggu menikah dengan Abi, hasilnya sungguh tidak disangka-sangka.

Seringkali Abi berkata, "Kenapa masih ada orang yang berzina? Padahal... Masya Allah nikmatnya yang halal", hahahaha

Beliau berkata demikian sebab segala sesuatu yang kita lakukan dalam ikatan halal akan membuahkan pahala, menguatkan rasa cinta, menumbuhkan syukur yang tiada henti-hentinya, serta tidak lupa melatih kesabaran.

Bahagiakah setelah menikah? Saya katakan awalnya 'iya', setelahnya? Bukan berarti tidak bahagia, namun kita perlu berlatih untuk lebih banyak melihat dari kacamata positif. Dari pikiran yang sehat, serta syukur dan sabar, insya Allah itulah jalan menuju kebahagiaan.

Pernikahan bagian dari kehidupan, sedangkan dari perjalanan hidup kita harus belajar saat prosesnya. Seperti itulah menikah, tidak jauh dari kata belajar. Artinya ujian dalam pernikahan pastilah ada. Jalannya tidak selalu lurus, kadang berliku, menanjak, dan berbelok-belok. Sehingga kita butuh penguat, perlu suplemen dan vitamin, serta pengingat-pengingat. Perlu juga dimantapkan lagi, apa tujuanmu menikah?

Saya sendiri menargetkan menikah pada tahun 2016, namun Allah bekehendak lain, saya menikah satu tahun lebih cepat dari yang ditargetkan. Ada seorang laki-laki yang diberi kekuatan dan kemampuan oleh Allah untuk melamar saya. Teman-teman banyak yang bertanya, apa yang ada di dalam laki-laki ini sehingga saya menerima lamarannya?

Memilih Pasangan

Semua orang punya kriteria tersendiri dalam memilih pasangan. Saya pun begitu dan tidak muluk-muluk, tapi juga manusiawi. Saat itu apa yang saya lihat dari Abi? Secara dzahir beliau nampak sederhana dan berakhlak baik. Akhlak ini mencerminkan ibadah seseorang. Jika hubungan seseorang terhadap sesama manusia itu baik, maka insya Allah baik pula hubungan orang itu terhadap Sang Illahi. Kemudian kelebihan dan kekurangannya sebanding dengan saya. Artinya kelebihannya tidak terlalu "Wow", sehingga saya nantinya tidak menjadi terlalu rendah diri, serta saya dapat menerima kekurangannya. Jika kalian bingung memilih ikhwan, saran saya utamakan memilih ihkwan yang kekurangannya dapat kalian terima, sebab semua orang pasti bisa menerima kelebihan seseorang. Dari segi fisik, saya memang berharap mempunyai suami yang berbadan tinggi. Selain keren *hehe, tubuh saya yang pendek ini cukup kesulitan untuk menjangkau tempat-tempat tinggi. Misalnya saja selama ini, Abi-lah yang menutup jendela dikontrakan yang posisinya cukup tinggi bagi saya.

Tentunya kita tidak dapat melihat sifat asli seseorang dengan benar dan tepat sebelum menikah. Hal itu akan muncul setelah menikah. Jadi bersiaplah jika dalam beberapa hal, pasangan kita tidak sesuai dengan ekspektasi. Disitulah kita memperlajari kesabaran.

Buat kalian yang masih menjadikan kriteria fisik di nomor teratas, harap dipikirkan kembali. Memang manusiawi, namun apakah nyaman jika seseorang yang berwajah tampan atau cantik putih nan mulus mempunyai akhlak yang buruk? Mungkin hasilnya adalah nikah-cerai. 

Cinta atau Tidak Cinta?

Beberapa orang bingung dan merasa bahwa kita harus mencintai terlebih dahulu baru menikah. Tidak semua proses berjalan demikian. Saya mendapat cerita dari seorang akhwat. Dari proses taaruf, rasa itu belum-lah muncul. Namun perlahan-lahan dari genggaman tangan seorang imam, muncullah perasaan cinta, dan akhirnya selalu rindu jika tidak bersama. Percayalah, cinta itu dapat tumbuh setelah menikah. Jangan takut dengan taaruf. Taaruf ini memang hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang kepercayaannya terhadap Allah tinggi. Kelihatannya memang mengkhawatirkan, namun teman-teman saya yang taaruf, Alhamdulillah mereka hidup berbahagia. 

Apa yang Perlu Disiapkan?

Sikap saya ini jangan dicontoh. Boleh dibilang saya tidak melakukan persiapan, terutama dalam hal ilmu. Alhasil saya kelimpungan setelah menikah. Perasaan bingung itu berjalan lebih dari satu minggu lamanya. Mempelajari ilmu untuk persiapan setelah menikah akan memudahkan kita dalam menjalankan sunnah.

Dengan ilmu pula, prosesi akad yang sesuai syariat akan lebih terbantu. Misalnya saja memahami rukun-rukunnya, apa yang perlu dan apa yang tidak perlu. Jangan lupa diusahakan untuk memilih pakaian pernikahan yang sesuai syariat. Terkadang keinginan orang tua berbeda dengan anak, meskipun yang akan menikah adalah anaknya. Hal-hal seperti itu perlu dibicarakan. Sekiranya saya juga perlu mengingatkan dan berhati-hati agar dalam make-up tidak perlu mencukur alis.

“Allah melaknat tukang tato, orang yang ditato, al-mutanamishah, dan orang yang merenggangkan gigi, untuk kecantikan, yang mengubah ciptaan Allah.” (HR. Bukhari 4886, Muslim 2125, dan lainnya). Al-Mutanamishah adalah para wanita yang minta dicukur bulu di wajahnya. Sedangkan wanita yang menjadi tukang cukurnya namanya An-Namishah. (Syarh Muslim An-Nawawi, 14/106). (http://www.konsultasisyariah.com/hukum-merapikan-alis/)

Adab merupakan hal penting lainnya. Dalam proses menuju akad sangat memungkinkan terjadi perbedaan pendapat, baik itu orang tua terhadap anak, atau terhadap calon besan. Saya akui menikah dengan mengikuti syariat secara sempurna itu sangat sulit terlebih lagi jika sebagian paham dan sebagian lainnya tidak. Menurut saya ada baiknya berlapang dada dan mengalah, jika dibandingkan karena satu atau dua hal tidak jadi menikah. Saya bukan bermaksud menyepelekan syariat. Tapi mencoba menimbang-nimbang menyesuaikan keadaan, mencari-cari apa yang bisa diakali. Terkadang tradisi yang kuat dari orang tua sangat sulit untuk ditentang. Dan menasehati keluarga, terutama orang tua jauh lebih sulit dibandingkan menasehati teman sendiri.

Finansial hal yang sangat krusial. Memang bukan segala-galanya, tapi tidak dapat dipungkiri bahwa kita sangat membutuhkannya. Bagi para akhwat mudahkanlah ikhwan dalam membeli maharnya. Mahar murah bukan menandakan wanita itu murahan.

“Di antara kebaikan wanita ialah memudahkan maharnya dan memudahkan rahimnya.” (HR. Ahmad) dan “Pernikahan yang paling besar keberkahannya ialah yang paling mudah maharnya.” (HR. Abu Dawud)

Begitulah kira-kira, kekurangannya semoga bisa saya sampaikan ditulisan berikutnya. 


Allahu a'lam