WAR NEVER ENDS QUIETLY
Saturday, January 17, 2015
Fury
Tuesday, January 13, 2015
Please...
Ketika saya punya ide, hal yang pertama kali saya lakukan adalah menyimpannya baik-baik. Lalu jika tiba waktunya, saya akan mengutarakan ide itu kepada seseorang, hanya satu orang.
Jika saya pikir ide itu tidak akan diterima, maka saya bocorkan ide itu ke anggota kelompok yang lain. Dan pada akhirnya meskipun yang lain setuju, saya tetap mengalah untuk menyerahkan prosedur ide itu kepada orang lain, sebab orang yang pertama kali saya beritahu ide itu terlihat malas dengan ide saya dan tidak menyukainya. Jadi saya bilang "TERSERAH".
Kode untuk orang yang tidak peka, kalau saya banyak mengucapkan kata "TERSERAH" tandanya saya udah males banget ngurusin itu.
Saya males ribut orangnya, tapi ga tahu kenapa, ada aja orang yang ga sadar kalau dia suka nyari ribut.
Meskipun saya santai orangnya. Namun beberapa kali, seseorang harus diberi ketegasan, agar dia tidak melulu asal bermain-main dengan kita. Adakalanya bercanda, adakalanya serius.
Saya mencamkan baik-baik perkataan Salim A. Fillah dalam bukunya Dalam Dekapan Ukhuwah. Pada intinya ukhuwah atau hubungan baik lebih penting dari sekedar ego.
Tapi masalahnya ga semua orang mikir gitu kan. Meskipun kita berusaha mengamalkan Al Fushilat 34, terkadang kita ngebatin. Oh, mungkin ini tandanya ga ikhlas.
Perlulah kita menenangkan diri, bersikap tidak terlalu pragmatis, meskipun kadang memang perlu, agar ucapan yang ada dipikiran kita tidak serta merta keluar dari mulut, kemudian menyakiti orang lain.
Seringkali kalau ada ide, saya kerjakan sendiri -__-
Karena hampir ga ada orang yang setuju sama ide saya, mungkin ide saya aneh.
Oh, God please, satu atau dua orang setidaknya ada yang mengerti ide saya.
Monday, January 12, 2015
Merunduk Tunduk
Kesedihan hanya segelintir perasaan, surut dan pasang.
Izinkan kami untuk menunduk pilu dalam kesedihan abadi jikalau jiwa raga ini tak mampu lagi mengimani.
Tak kuasa kami, terhadap bau harum menipu yang tersingkap, itulah dosa.
Tak kuasa kami, berdiri sendiri, berlagak mandiri.
Tak kuasa pula kami, membakar diri.
Engkau lebih dekat dari nadi. Jikalau kita sedekat ini, mengapa kami masih tidak berakhlak baik?
Aku, kami, meletakkan kepala dibawah.
Teguhkan kami agar tidak mendongak dalam riya dan kebanggaan.
Aku, kami, menatap langit.
Teguhkan kami berpengharapan baik agar tidak berputus asa.
Aku, kami, saling mencintai.
Teguhkan kami berkasih sayang agar tidak hilang sifat kemanusian.
Allah, izinkan kami memberi bukti, hanya Engkau yang kami ingini.
Saturday, January 10, 2015
Menjahit Hati
Tak terhitung berapa kali hati ini terluka, sobek, menahan kegundahan.
Bukan karena orang lain berlaku atau berkata tentang sesuatu yang menyakitkan. Tapi, lebih kepada menyalahkan diri sendiri yang tidak mampu mengelola hati.
Teori-teori kebaikan yang dijadikan aplikatif oleh Allah melalui Muhammad saw, itu sulit.
Kenapa ya kita tidak bisa seperti beliau?
Mungkin bercak-bercak hitam dihati penyebabnya.
Sumbernya pikiran negatif, mata dan anggota badan lainnya mengikuti.
Kadangkala kita pun tak bisa menepis ini kelemahan manusia, naik turunnya iman.
Sungguh baik jika saat lemah iman, semena-mena kita tersadar kemudian bangkit kembali.
Kami membutuhkanMu, Allah.
Untuk meneguhkan hati, menguatkan iman.
Tak terkecuali hal sia-sia dan kemaksiatan yang melelahkan jiwa raga.
Menurunkan semangat ibadah dan menuntut ilmu.
Membuat kami sulit mempositifkan diri, tidak mampu menerima takdirMu.
Terkadang, sentilan-sentilan kecil diabaikan. Hingga suatu saat, kami menyesal. Sungguh menyesal.
Sebelum menjahit hati, kami pun perlu meluruskan benang-benang aqidah, fiqih dan lainnya, yang nampak kusut karena perbedaan yang tak terhargai.
Oh, sungguh, bantu kami untuk menjahit hati ini dengan pengampunan dan kasih sayangMu.
