Saturday, January 17, 2015

Fury




WAR NEVER ENDS QUIETLY

Fury adalah sebuah film yang bertemakan action, drama, dan war. Film yang mendapat rating IMDb cukup tinggi ini, yaitu 7.8, disutradarai oleh David Ayer.

Saya tidak merekomendasikan film ini untuk ditonton, jika Anda adalah orang yang mudah bosan. Plot dari film ini tidak rumit, tidak kreatif, dan mudah ditebak. Menceritakan perang antara Amerika dan Nazi, German. Saat itu tank buatan Amerika dapat dikalahkan oleh anti-tank buatan German. Norman Ellison (Logan Lerman) merupakan seorang juru ketik yang dilatih untuk menulis 60 kata per menit, ditugaskan untuk berperang bersama kelompok militer Amerika yang dipimpin oleh Don Collier (Brad Pitt). Kelompok tersebut berperang menggunakan tank yang bertuliskan "Fury", dengan anggota lainnya yaitu Boyd Swan (Shia LaBeouf), Trini 'Gordo' Gracia (Michael Pena), dan Grady Travis (John Bernthal). Norman yang tidak pernah membunuh orang sebelumnya, merasa tertekan dan tidak sanggup untuk berperang. 

Kelompok "Fury" dan beberapa kelompok lainnya ditugaskan untuk menyelamatkan tentara Amerika yang terjebak di suatu kawasan. Saat itu tank-tank Amerika berjalan melewati daerah bersemak-semak. Norman melihat ada tentara German dibalik semak tersebut, namun ia tidak sanggup menembaknya karena tentara itu masih anak-anak. Ternyata, tentara Nazi mampu membakar tank yang berada paling depan, tepat didepan tank Fury. Tentara Amerika yang ikut terbakar meronta-ronta kesakitan, kemudian bunuh diri dengan pistolnya. Akibat kejadian itu, ketika Don berhasil menyelamatkan tentara Amerika dan mengalahkan beberapa anti-tank German, Don memaksa Norman untuk membunuh seorang tentara Nazi yang selamat.

Menurut saya, satu-satunya keunggulan dari film ini adalah akting dari pemainnya sangat baik. Logan Lerman yang kita tahu pernah memerankan Percy Jackson, mampu untuk menampilkan karakter Norman yang ketakutan, ragu-ragu, tegar, sekaligus romantis. Begitu pula dengan Brad Pitt, karakter Don yang tegas, namun beberapa kali terlihat frustasi. Tidak kalah bagus akting dari Shia LaBeouf yang memerankan karakter lebih tenang dan religius dibanding perannya, Sam Witwicky di Transformers.


Tuesday, January 13, 2015

Please...

Beberapa hari ini saya berpikir, jadi pemimpin ternyata tidak mudah. Apalagi tipe orang kayak saya gini.
Ketika saya punya ide, hal yang pertama kali saya lakukan adalah menyimpannya baik-baik. Lalu jika tiba waktunya, saya akan mengutarakan ide itu kepada seseorang, hanya satu orang.

Jika saya pikir ide itu tidak akan diterima, maka saya bocorkan ide itu ke anggota kelompok yang lain. Dan pada akhirnya meskipun yang lain setuju, saya tetap mengalah untuk menyerahkan prosedur ide itu kepada orang lain, sebab orang yang pertama kali saya beritahu ide itu terlihat malas dengan ide saya dan tidak menyukainya. Jadi saya bilang "TERSERAH".

Kode untuk orang yang tidak peka, kalau saya banyak mengucapkan kata "TERSERAH" tandanya saya udah males banget ngurusin itu.
Saya males ribut orangnya, tapi ga tahu kenapa, ada aja orang yang ga sadar kalau dia suka nyari ribut.
Meskipun saya santai orangnya. Namun beberapa kali, seseorang harus diberi ketegasan, agar dia tidak melulu asal bermain-main dengan kita. Adakalanya bercanda, adakalanya serius.

Saya mencamkan baik-baik perkataan Salim A. Fillah dalam bukunya Dalam Dekapan Ukhuwah. Pada intinya ukhuwah atau hubungan baik lebih penting dari sekedar ego.
Tapi masalahnya ga semua orang mikir gitu kan. Meskipun kita berusaha mengamalkan Al Fushilat 34, terkadang kita ngebatin. Oh, mungkin ini tandanya ga ikhlas.

Perlulah kita menenangkan diri, bersikap tidak terlalu pragmatis, meskipun kadang memang perlu, agar ucapan yang ada dipikiran kita tidak serta merta keluar dari mulut, kemudian menyakiti orang lain.

Seringkali kalau ada ide, saya kerjakan sendiri -__-
Karena hampir ga ada orang yang setuju sama ide saya, mungkin ide saya aneh.

Oh, God please, satu atau dua orang setidaknya ada yang mengerti ide saya.

Monday, January 12, 2015

Merunduk Tunduk

Keabadian itu Allah.
Kesedihan hanya segelintir perasaan, surut dan pasang.
Izinkan kami untuk menunduk pilu dalam kesedihan abadi jikalau jiwa raga ini tak mampu lagi mengimani.

Tak kuasa kami, terhadap bau harum menipu yang tersingkap, itulah dosa.
Tak kuasa kami, berdiri sendiri, berlagak mandiri.
Tak kuasa pula kami, membakar diri.

Engkau lebih dekat dari nadi. Jikalau kita sedekat ini, mengapa kami masih tidak berakhlak baik?

Aku, kami, meletakkan kepala dibawah.
Teguhkan kami agar tidak mendongak dalam riya dan kebanggaan.

Aku, kami, menatap langit.
Teguhkan kami berpengharapan baik agar tidak berputus asa.

Aku, kami, saling mencintai.
Teguhkan kami berkasih sayang agar tidak hilang sifat kemanusian.

Allah, izinkan kami memberi bukti, hanya Engkau yang kami ingini.


Saturday, January 10, 2015

Menjahit Hati

Tak terhitung berapa kali hati ini terluka, sobek, menahan kegundahan.
Bukan karena orang lain berlaku atau berkata tentang sesuatu yang menyakitkan. Tapi, lebih kepada menyalahkan diri sendiri yang tidak mampu mengelola hati.
Teori-teori kebaikan yang dijadikan  aplikatif oleh Allah melalui Muhammad saw, itu sulit.

Kenapa ya kita tidak bisa seperti beliau?

Mungkin bercak-bercak hitam dihati penyebabnya.
Sumbernya pikiran negatif, mata dan anggota badan lainnya mengikuti.
Kadangkala kita pun tak bisa menepis ini kelemahan manusia, naik turunnya iman.
Sungguh baik jika saat lemah iman, semena-mena kita tersadar kemudian bangkit kembali.

Kami membutuhkanMu, Allah.
Untuk meneguhkan hati, menguatkan iman.
Tak terkecuali hal sia-sia dan kemaksiatan yang melelahkan jiwa raga.
Menurunkan semangat ibadah dan menuntut ilmu.
Membuat kami sulit mempositifkan diri, tidak mampu menerima takdirMu.

Terkadang, sentilan-sentilan kecil  diabaikan. Hingga suatu saat, kami menyesal. Sungguh menyesal.

Sebelum menjahit hati, kami pun perlu meluruskan benang-benang aqidah, fiqih dan lainnya, yang nampak kusut karena perbedaan yang tak terhargai.

Oh, sungguh, bantu kami untuk menjahit hati ini dengan pengampunan dan kasih sayangMu.

Thursday, January 1, 2015

Resurrection




Resurrection adalah salah serial TV Show yang diangkat dari novel fiksi berjudul "The Returned" karya Jason Mott. Dirilis pada tanggal 9 Maret 2014 dan saat ini on going untuk season yang kedua.

Cerita diawali dari seorang bocah laki-laki yang terbangun ditengah sawah di suatu desa di Cina. Karena nampak seperti orang Amerika, bocah ini kemudian dikirim ke Amerika oleh Pemerintah Cina. Agen Federal/FBI Martin J. Bellamy (Omar Epps) dari Badan Imigrasi dan Bea Cukai ditugaskan untuk menangani kasus tersebut. Dari kaos berwarna merah yang dikenakan, bocah ini diketahui bernama Jacob (Landon Gimenez). Pada awalnya Jacob menutup mulut tidak ingin bicara. Namun perlahan-lahan, ia mulai memberikan respon positif pada Agen Bellamy dan memberitahunya bahwa ia berasal dari Arcadia, Missouri.

Agen Bellamy pun bersedia mengantarkan Jacob ke rumahnya di Arcadia, Missouri. Saat tiba dirumah Jacob, Agen Bellamy cukup dibuat kebingungan, sebab pemilik rumah, Henry Langston (Kurtwood Smith), mengatakan bahwa anaknya yang bernama Jacob Langston sudah meninggal 32 tahun yang lalu. Istri Henry, Lucille Langston (Frances Fisher) yang terkejut atas kedatangan Jacob, bersedih, namun ia menerima Jacob sebagai anaknya dulu. Akhirnya, Jacob tinggal dirumahnya kembali. Sementara itu, Henry menjelaskan pada Agen Bellamy bahwa 32 tahun yang lalu anaknya meninggal terbawa hanyut aliran sungai. Bibi Jacob, Barbara Langston (April Billingsley) yang sedang membawa anak bayinya, Maggie (Devin Kelley), berjalan-jalan berusaha menolong Jacob dan ikut tewas dalam kejadian tersebut.

Atasan Agen Bellamy, Dr. Toni Willis (Tamlyn Tomita) memerintahkannya untuk membawa Jacob kepada pihak Federal. Namun Agen Bellamy menolaknya dengan alasan pemerintah akan menggunakan Jacob sebagai kelinci percobaan.

Kemudian Jacob menceritakan peristiwa kematiannya yang sebenarnya terjadi. Ternyata bukan Barbara yang menolong Jacob, namun sebaliknya. Saat Barbara terjatuh di sungai dan berpegangan pada sebatang pohon kayu, Jacob berusaha menolongnya, tetapi ia ikut terjatuh ke dalam sungai. Dan samar-samar ada seorang laki-laki yang berusaha menyelamatkan Barbara. Diketahui laki-laki itu bernama Samuel Catlin (Ned Bellamy).

Maggie dewasa yang telah menjadi seorang dokter dan bekerja di klinik pun memeriksa kesehatan Jacob dan semuanya nampak normal. Meskipun Maggie merasa aneh. Ia kemudian menceritakan peristiwa tersebut kepada sahabatnya, Elaine Richards (Samaire Armstrong). Tidak lama kemudian, mucullah Caleb Richards (Sam Hazeldine), ayah Elaine yang tewas 13 tahun yang lalu.

Kejadian "bangkitnya orang mati" ini tidak berhenti sampai disitu. Kekasih Pastor Tom Hale (Mark Hildreth), yang bunuh diri 13 tahun yang lalu, Rachael Braidwood (Kathleen Munroe) juga "bangkit kembali". Terlebih lagi setelah memeriksakan kesehatan dirinya pada Maggie, hasil tes menunjukkan bahwa Rachael sedang mengandung. Kejadian ini membuat pernikahan Tom dan istrinya, Janine Hale (Lori Beth Sikes) berada dalam masalah.