Sunday, December 28, 2014

Dahulu Kala

Hmm... diperlukan mengingat masa lalu, agar kita tahu ada yang berubah atau tidak dalam diri kita.
Semakin baik atau semakin buruk, bertambah ilmu dengan hati merendah atau menambah noda dengan tingginya hati.

Dahulu, kita banyak membuat resolusi. Catatan kecil yang perlahan kita coret sebanyak target yang telah berhasil dilalui. Sedangkan, target-target yang belum dikehendaki Tuhan dapat dimasukkan ke dalam resolusi di tahun berikutnya.

Pergi ke suatu tempat adalah kategori list paling banyak yang biasa ditulis. Kedua adalah pengembangan diri. Entah terpikirkan atau tidak, pengembangan ini bertujuan untuk dunia, akhirat, atau keduanya.

Dahulu hingga saat ini, betapa lazimnya resolusi hanya sebuah tulisan dengan angan-angan kosong. Menulis target setinggi-tingginya namun dibersamai dengan minimnya usaha.
Semangat tinggi menggebu-gebu saat kita menuliskannya. Beberapa hari kemudian, goyahlah, "Apa saya mampu?".
Pertengahan tahun, banyaknya kesibukan membuat kita seakan-akan mengalami demensia. Target jangka panjang telah tertimbun oleh banyaknya target jangka pendek.
Kita berencana, Tuhan tahu yang terbaik. Mungkin Dia berkata, "Belum saatnya".
Atau bisa jadi, penyebab Tuhan yang belum menghendaki keinginan kita adalah masih kurangnya kita berusaha, berdoa, dan berbuat baik kepada sesama.

Dahulu kala, teori Evolusi Darwin sedang berada dipuncaknya. Pro dan kontra para ilmuan, masing-masing memberikan sumbangsih pemikiran.
Diawali dari mikroorganisme yang hidup di perairan. Mereka berkembang biak dengan membelah diri. Ada kecacatan genetik yang diturunkan dari induk ke anaknya. Kecatatan ini bernama mutasi. Mutasi gen merubah sifat dari mikroorganisme tersebut. Saat siang hari mikroorganisme yang terkena sinar matahari akan mati, sedangkan yang berada jauh di dalam perairan tetap hidup. Mutasi gen yang terjadi membantu makhluk kecil itu untuk bertahan hidup melewati seleksi alam. Mikroorganisme ini mempunyai "sensor" yang secara otomatis akan menjauhi permukaan air jika terdapat sinar matahari. Mikroorganisme yang gennya bermutasi itu akan tetap hidup, sedangkan yang tidak bermutasi akan mati, tersisih. Mutasi terus berlanjut hingga membentuk mata, kaki, reptil, kera, dan akhirnya adalah manusia.

Alquran, sebuah firman Tuhan membantah teori tersebut. Bukankah Adam diciptakan dari tanah, dan Hawa dari tulang rusuknya?
Bukan dari unsur-unsur karbon yang muncul karena meledaknya bintang yang kemudian membentur bumi?

Dahulu, adab atau akhlak adalah ilmu yang sangat penting. 
Pandai mengabaikan adalah sifat manusia saat ini. 
Merasa paling benar, begitu katanya.
Merasa paling cakap, begitu katanya.
Dahulu, para murid tunduk, menjaga diri dan lidah pada ilmu yang belum berada dalam kapasitasnya.
Saat ini, kita berbicara seolah-olah lebih pandai dari ulama.
Oh, kekasih, lebih baik kita menuntut ilmu, memperbaiki diri atau sekedar berbasa basi, mengucap sana sini tanpa ilmu di dalam pikiran dan hati ini?
Pun juga, dahulu, para murid merelakan diri dalam perjalanan jauh untuk menuntut ilmu kepada sang guru.
Saat ini, perjalanan jauh menanjak gunung, merasakan desiran ombak laut, untuk menghibur dirikah? atau menambah ilmu dari lukisan ayat-ayat Tuhan di alam?
Betapa jiwa-jiwa yang begitu merindui Tuhan, mengais rezeki siang dan malam untuk satu tiket menuju tanah suci.

Dahulu, para gadis ranum menunduk malu-malu dihadapan lelaki. 
Saat ini, lelaki diberi suguhan manis foto-foto selfie.
Kecantikan itu dari hati, katanya.
Kecantikan itu terpancar dari taatnya wanita kepada Tuhan, katanya.
Faktanya, wanita taat atau yang berpotensi taat tidak menjadi pilihan utama.
Ditulislah segala macam persyaratan fisik sebagai headline dalam cv yang diajukan laki-laki.
Tidak banyak wanita seperti Khadijah saat ini, "Kami takut ditolak" atau "Aku seperti tidak punya harga diri, jika meminta seorang laki-laki menikahiku".

Dahulu, para sahabat yang berbeda pendapat, menjalin ukhuwah dengan baik sekali, Tidak kuasa menceburkan diri ke dalam pertengkaran sesama muslim. Saling menghargai, juga saling mengakui kelebihan satu sama lain.
Saat ini, jiwa-jiwa muda, kader katanya, mengelu-elukan ukhuwah dalam sesama komunitas yang mempunyai pemikiran yang sama.
Bukti ukhuwah sesama muslim menjadi tidak nyata.
Apakah kami akan dijauhi karena tidak ikut dalam golongan itu? Apakah kami akan dianggap sesat jika tidak sependapat dengan golongan itu?

Dahulu, aku suka berbicara, layaknya sanguinis sejati. Kemudian satu persatu hati tersakiti karena lidah ini. Akhirnya aku belajar membisu. 
Diam dalam sepi, sepi dalam menulis. Aku berpikir berkali-kali untuk mencantumkan kalimat-kalimat yang tepat. Kemudian satu persatu tersindir geram.
Aku mulai banyak membaca buku. Aku suka buku, membantuku dalam menentukan diksi-diksi.
Tidak hanya itu, buku membuka pikiran dan hatiku. Juga, membantuku berimajinasi liar.

Dahulu, aku berpikir bahwa mereka selalu salah, dan aku selalu benar. Kemudian satu persatu teman merasakan buruknya tabiatku. Aku mulai mengetahui, inilah pentingnya adab.
Aku memulai diri untuk mempelajarinya dan tidak lagi menyalahkan orang lain.

Saat ini aku pragmatis, melihat berdasarkan fakta bukan akar permasalahan yang menimbulkan fakta itu. Kemudian satu persatu teman dan kerabat merasakan tidak perasanya aku.
Aku mulai belajar memahami mereka sesuai karakter yang membentuk kebiasaan-kebiasaan mereka.

Dahulu, aku benci sekali lelaki, mereka pembohong sejati nan ulung. Sekarang betapa aku saat ingin dinikahi, hahahahahah, kagak enak banget endingnya hahaha