Monday, September 12, 2016

Cerita Satu Tahun Pernikahan




Hari ini, setahun yang lalu, 13 September 2015, telah terjadi perjanjian seorang hamba dengan Tuhannya. Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah, hamba itu adalah suami saya. Seseorang yang terlalu berani mengambil resiko untuk menerima ketidak-shalihan dan ketidaksempurnaan saya.

Dari pernikahan, kita dapat mempelajari dan merasakan banyak hal.  Ada malu-malu saat pertama kali berhadapan, segan, serta takut kalau-kalau banyak sifat dalam diri kita yang tidak disukai pasangan. Lewat dari 6 bulan, perasaan malu itu akan berganti dengan malu-maluin hahahah, sudah tidak malu-malu lagi. Bahkan sering melakukan sesuatu diluar kewajaran akal manusia, istilahnya, menggila bersama-sama. Tapi, kadang saya suka penasaran, kalau pernikahan model ikhwan-akhwat nan lemah lembut itu seperti apa ? Mungkin saat kami tertawa terbahak-bahak mereka hanya tersenyum, ketika kami menggila mereka sedang bermusyawarah, atau mungkin ketika kami bermalas-malasan mereka sedang bermunajat.

Selalu Memantaskan Diri

Baru saja mendengar ihwal ini dari suami, bahwa katanya Ustadz Fauzil Adhim tidak setuju jika sebelum menikah saja kita mati-matian memantaskan diri untuk mendapat jodoh yang diinginkan. Memantaskan diri ini seharusnya tetap dilakukan setelah menikah. Artimya kita tetap belajar untuk menjadi seseorang yang lebih baik.

Ta'aruf sebenar-benarnya adalah setelah menikah. Memahami kesukaan, ketidaksukaan, dan sifat-sifat pasangan. Misalnya saya suka tempe, suami suka tahu. Saya tidak suka saat suami begitu, dan suami tidak suka saat saya begini. Terkadang saya menjadikan "ngambek" sebagai senjata, kalau sudah begitu maka saya akan diam seribu bahasa. Dan suami amat tidak suka didiamkan, kebingungan katanya.

Pencemburu

Cemburu itu nyatanya tidak selalu masalah hubungan laki-laki dengan perempuan lain. Tetapi juga perhatian-perhatian yang tidak ditujukan kepada pasangan. Terlalu sibuk dengan gadgetnya, chatting dengan temannya, dan lain-lain. Saya memang pencemburu, semua hal selain saya, saya cemburui. Parah memang. Bersyukurnya, suami menjadi tahu bahwa saya sangat mencintainya. Dari cemburu juga, seorang perempuan bisa menjaga izzah-nya, misalnya bagaimana kita bersikap terhadap laki-laki lain. Belum lama ini, saya menghapus semua kontak ikhwan, kecuali keluarga, dan tiga orang ikhwan yang memang ada beberapa kepentingan.

Nasihat untuk saya sendiri, jangan sekali-kali curhat dengan ikhwan lain, apalagi tentang persoalan rumah tangga. Sudah banyak kisah nyata, bahwa dimulai dari curhatlah perselingkuhan terjadi. Oleh sebab itu, jadilah suami-istri, pendengar yang baik bagi pasangannya.

Tidak Percaya Diri dan Berpikiran Negatif

Tidak pintar, tidak cantik, tidak bisa masak dan lain-lain. Pikiran seperti ini mulai bergerumul setelah menikah, setiap ada kejadian tidak menyenangkan. Lama-kelamaan menjadi momok bagi saya. Dan ketika saya survey, teman saya pun turut merasakan ketidakpercayaan diri ini, terutama masalah fisik.

Kalau jalan-jalan ke mall, kadang suka heran. Perempuan tidak dandan, hanya pakai kaos biasa dan celana pendek, tapi kelihatan cantik sekali. Saya, sudah semaksimal mungkin, tapi rasanya tetap jelek setiap saat, hahaha. Dari dulu saya tidak suka dandan. Dan takut dandan saat keluar rumah. Pikiran bertanya-tanya, kalau saya dandan itu buat apa? Soal dandan ini menjadi social pressure bagi saya. Terlebih lagi selebgram-selebgram yang bertebaran membuat saya jadi bingung. Saya sampai mencari-cari dan mempermasalahkan lagi, ini hijab syar'i atau bukan. Namun, saya harus sadar diri, dan melunak, setelah membaca pendapat dari Ustad Ahmad Sarwat. Sebaiknya kita tidak menjudge syar'i atau tidak syar'i seperti itu, karena dalam pengertian hijab/jilbab/khimar dan istilah lainnya saja terdapat perbedaan pendapat pada sebagian ulama. Jadi, yang paling penting adalah menutup aurat.

Kita memang menjalani pernikahan dengan sangat bahagia. Tapi omongan-omongan usil orang lain seringkali mengganggu. Terlebih lagi saya tidak langsung hamil setelah menikah. Kami sendiri tidak menunda, namun berserah diri, biarlah Allah yang menentukan kapan waktu yang terbaik. Hingga akhrinya, di bulan Ramadhan saya positif hamil. Tekanan sedikit berkurang, setidaknya saya bisa tersenyum saat ditanya di Hari Raya. Allah berkehendak lain setelah 9 minggu usia kehamilan. Dokter menyatakan bahwa janin saya tidak berkembang. Tidak boleh menunggu lama, saya harus segera dikuret karena dapat menimbulkan infeksi pada rahim. Sedih, tapi ternyata ibu saya yang terlihat paling sedih. :(

Ini menjadi pelajaran tersendiri, untuk berhati-hati dalam berbicara, bertanya, kepo soal ini itu. Kadang orang tidak tahu apa yang kita alami, begitu pula sebaliknya. Saya menutup diri dari banyak orang, bahkan menghindari pertemuan-pertemuan.

Ada pula tetangga yang bilang, katanya saya tidak mengurusi suami saya. Kalau saya kasar, dan jahat, saya rasanya mau bilang ke tetangga ini, kenapa dia tidak mengurusi anaknya yang jarang sholat ?? Tapi, lagi-lagi, mulutmu harimaumu, kata ibu saya biarkan saja, jangan didengarkan. Agaknya kejadian ini menjadi lahan introspeksi diri, mungkin saya memang belum bisa mengurusi suami.

Jadilah diri sendiri, itulah yang dinasihatkan oleh suami. Menjadi diri sendiri juga membuat saya bingung, saya harus bagaimana ? Sampai akhirnya saya memutuskan untuk menjadi diri saya yang dulu, yang nyaman dengan segala kepolosan. Toh, dulu pun, sebelum menikah, dihadapan suami saya tidak pernah memakai make up, atau berpura-pura menjadi wanita cantik nan-modis. Itu saya apa adanya. Yang teman-teman saya lihat di kampus, itulah saya. Akhirnya, hanya suami saya yang menerima saya apa adanya.

Pikiran negatif ini terjadi karena adanya perasaan membanding-bandingkan. Padahal setiap hal punya keelokkannya masing-masing. Sungguh, menjadi diri sendiri adalah kenikmatan dalam kebaikan, yang membuat kita bersyukur, bahwa Allah telah menjadikan kita sebaik-baik bentuk, ya inilah kita, inilah saya, dan inilah Anda.

Makan dan Memasak

Apakah saya bisa memasak? Oh, tentu tidak, hahaha. Memasak juga bukan hobi saya. Tapi saya tetap belajar memasak karena kesenangan melayani. Barangsiapa yang rajin memasak, maka berkuranglah pengeluaran bulanan, hahaha. Karena jajan atau makan diluar memang menghabiskan banyak biaya. Jika seratus ribu sudah mampu terbeli berbagai macam sayuran dan lauk, untuk makan diluar hanya satu kali makan saja.

Sama-sama menyukai makanan membuat saya tidak kesulitan untuk menyiapkannya. Kami bukan orang yang pilih-pilih makanan. Ada kerupuk kesukaan kami, dapat dibeli di warung Tamat, hahaha. Harganya dua belas ribu, tapi habis hanya dalam waktu tiga hari. Ada juga cakwe SD yang selalu menjadi incaran kami, tapi sayangnya kami sudah tidak menemukan penjualnya lagi. Tidak hanya yang asin, yang manis pun kami santap dengan lahap. 

PlayStation

Setelah menikah adalah saat dimana saya untuk pertama kalinya bermain game console, PlayStation 2. Sudah jadul memang, tapi tak apa. Pun saya juga merasakan kesenangannya. Saya dan suami hobi sekali tertawa terbahak-bahak, tidak jelas pula apa yang ditertawai, hahaha. Saat bermain PS pun demikian. Hingga suatu saat, tetangga sebelah tertanggu oleh suara tertawa kami sebab cucunya sedang sakit. Kejadian itu agaknya membuat kami menjadi lebih berhati-hati, lebih peka akan keadaan sesama.

Naruto, Metal Slug, Crash Bandicoot, multiplayer game yang kami mainkan bersama. Suami saya tertawa geli, ketika bermain menggerakkan tangan ke atas bawah dan kiri kanan, padahal itu tidak berpengaruh pada gerakan karakter game-nya, *face palm, lol

Poligami

Pembahasan yang tidak pernah surut, dikhawatirkan, ditakuti, sebagian besar wanita menafikannya. Dulu sekali, saya berpikir bahwa poligami mampu mengembangkan pribadi seorang wanita. Meskipun demikian, saat ini dan nanti saya tidak ingin dipoligami. Bukan mengingkari kebolehan dari perintah Allah. Namun esensinya memang tidak mudah. Teman diskusi saya, M.E. mengatakan, bahwa dia akan membuang madu dan anaknya ke jurang jika suaminya poligami. Suaminya sendiri tidak bisa berjanji untuk tidak poligami karena sebagai manusia kita tidak tahu takdir yang menanti. Hakikatnya, inilah yang membuat para istri galau. Teman lain yang berinisial W.A. pernah berpikir untuk mengizinkan suaminya berpoligami sebab dalam satu tahun pernikahannya dia belum juga diberi karunia seorang anak. Tapi, sesungguhnnya dia memang amat sangat tidak rela berbagi suami.

Harus adil syaratnya, tapi bukan dalam perasaan. Sudah fitrahnya hati akan condong kepada salah satunya. Tidak dipungkiri, malah hal ini yang terlihat sangat memberatkan. Sungguh indah jika kita diberi kelembutan dan kelapangan hati untuk menerima, bersyukur, dan bersabar, tapi... itu lagi... tidak rela, sulit, Rasanya hati hancur, padahal saya belum mengalaminya hahaha, dan juga tidak ingin mengalaminya. "Jangan poligami ya bii, plisss, ..." begitu kata saya, hahaha.




Tiada kata lagi yang mampu ditumpahkan, selain perasaan bahagia, bersyukur, berterima kasih kepada Allah, terima kasih sudah dipertemukan. Satu tahun waktu yang amat singkat. Dalam hitungan akhirat mungkin tidak sampai sehari. 

Ujian selalu menanti, yang berupa kesedihan atau kebahagiaan. Namun, semoga, semoga, dan semoga... kami bisa melaluinya, terus, lurus, hingga akhir waktu. Mudah-mudahan dipertemukan kembali dikehidupan yang kekal.

Terima kasih banyak untuk suami, yang selalu memahami dan mendengarkan, yang mau menerima dan mendidik kebobrokan jiwa raga ini, yang selalu bersedih ketika saya bersedih, yang ikut tertawa ketika saya tertawa, yang mengingatkan untuk menjadi diri sendiri, percaya diri, dan berprasangka baik, yang tidak pernah lupa apa-apa yang tidak saya sukai, yang membiarkan saya asyik masyuk melakukan hobi, yang menyadarkan saya, bahwa hidup ini adalah sekolah kehidupan, dan yang bersedia menerima rasa cinta ini. Saya sangat mencintaimu...





Saturday, August 27, 2016

Seorang Ibu Pasti Bekerja

Belum juga habis ihwal banding membandingkan antara status seorang ibu, mana yang lebih baik, bekerja atau tidak bekerja di luar rumah ? Tentunya sebab ini banyak muncul karena berbagai faktor. Mulai dari latar belakang pendidikan keluarganya, lingkungan, atau adanya pengaruh-pengaruh pemikiran dari orang lain, dan sebagainya. 

Menurut pandangan seorang teman berinisial M.E.,"Istilah "Ibu Bekerja" dan "Ibu Tidak Bekerja" kan sebetulnya ada baru2 ini aja.  Dulu pas kita kecil kayaknya gak ada masalah mau ibu kerja atau gak. Gimana ya bilangnya. Ya pokoknya gitu. Ibu bekerja tetep disebut ibu, apalagi alasannya kuat yaitu bantu ekonomi keluarga. Yg digarisbawahi adalah jangan sampai karena sibuk kerja kewajiban mendidik anak jadi kelupaan. Ntar kalo gw bilang "asal jangan lupa ngurus rumah", yg punya asisten rumah tangga gak masuk variabel haha."

Sedangkan, seorang anonim yang bekerja sebagai pegawai negeri mengatakan, "Klo gw sih sebenernya karena sayang aja not, kan kerjaan yg ini dptnya stlh bbrp kli ikut tahapan seleksi, panjanglah gtu prosesnya, trus ibu terutama mamah (nenek) juga yg waktu itu nyaranin nyoba ikut dan pas lolos seneng bgt jadinya ga ada kata mundur atau ga jdi gtulah. Dan menurut gw klo ngikutin apa kata org tua itu lbh berkah dan lbh ada hasilnya gtu, tapi itu berlaku selama suami juga ridho dan ngijinin juga ya."

Pertanyaan yang saya tulis di awal tulisan ini, "...mana yang lebih baik, bekerja atau tidak bekerja di luar rumah ?" adalah contoh dari pertanyaan yang salah mengenai ihwal ini. Merupakan adab yang buruk jika kita berpikir bahwa salah satunya lebih baik diantara lainnya. Ibu yang di rumah saja atau bekerja di luar rumah (red: kantor) pasti mempunyai alasan kuat, mengapa memilih satu diantaranya. 

Masing-masing pilihan ada sisi positif dan konsekuensi. Misalnya saja, memang ibu yang tidak bekerja kantoran tidak mempunyai lebih dari satu sumber penghasilan, dan sosialisasi yang lebih banyak dibanding ibu yang bekerja kantoran. Kadang hal seperti ini membuat mereka jadi mengeluh kurangnya penghasilan suami atau kebutuhan hidup sehari-hari. Dan juga, kalau ibu ini tipe yang tidak termotivasi untuk mengembangkan diri, biasanya akan kekurangan informasi dalam berbagai hal, seperti tidak memahami teknologi atau perkembangan zaman lainnya. Ini terjadi pada tetangga saya, sehingga jika ada ibu lain yang mengajaknya bicara, ibu ini banyak tidak mengerti apa yang dibicarakan.

Saya sendiri adalah seorang istri yang memutuskan tidak bekerja kantoran. Keterlambatan informasi berbagai pengetahuan telah saya alami. Setiap orang mempunyai cara tersendiri, kalau saya adalah dengan banyak membaca entah itu dari buku atau browsing melalui internet. Belajar jualan secara online juga banyak membuat saya mengetahui berbagai hal. Mulai dari situs-situs online terpercaya, metode pembelian, cara transfer, trik-trik marketing dan penulisan iklan, serta desain dan paduan warnanya. Jualan secara online juga dapat membantu perekonomian keluarga. Namun, bagi saya tidak hanya sekedar itu. Berdagang bukan hanya soal untung rugi, sebab Allah pasti memberikan rizki, bergantung bagaimana kita menjemputnya, dengan cara yang halal atau haram. Oleh sebab itu banyak fiqih jual beli atau muamalat kontemporer yang perlu dipelajari.

Bagi yang memutuskan untuk bekerja diluar rumah (red: kantor, pabrik, lab dll), hendaknya tujuannya adalah hal yang mulia. Sebab, jika alasannya hanya karena ingin dipandang setara dengan laki-laki untuk bekerja, ini malah menjadi hal yang salah, yaitu salah satu pemikiran para Feminis. Kita tahu bahwa dalam Islam, baik laki-laki maupun perempuan adalah mulia dan setara sesuai fitrahnya.
Salah satu contoh dari konsekuensi yang dialami oleh ibu bekerja dialami oleh tetangga saya, yaitu anaknya menjadi lebih dekat dengan orang lain dibanding ibunya. Ketika waktunya pulang, si anak seringkali menangis tidak mau pulang kerumah ibunya. Ibunya sendiri seringkali bilang, "Aku ini ibumu...," ke anaknya, namun karena masih kecil mungkin si anak belum mengerti maksudnya. Oleh sebab itu mungkin ibu yang ingin bekerja menyiapkan trik-trik agar anak tetap lebih dekat dengan ibunya. Tentunya hal seperti ini tidak bisa disamaratakan. Dan tetap perlu menyadari bahwa tugas seorang ibu adalah tugas yang paling utama.

Sekali lagi yang perlu dihindari adalah ibu yang tidak bekerja merasa lebih baik dari ibu yang bekerja di luar rumah, begitu pula sebaliknya. Keduanya sama-sama berjuang untuk keluarga. Toh, setiap ibu pasti bekerja, entah bekerja dirumah mengerjakan pekerjaan rumah, atau bekerja dikantor.


Allahu a'lam

Monday, August 22, 2016

Sudah Hamil Belum ?

Bertanya kabar pun tak pernah, namun tetiba bertanya, "Sudah hamil belum?" hahaha. Itulah pertanyaan yang selalu ditanyakan kepada para pasangan yang baru menikah. Saya sendiri bingung jawabnya, sebab saya menganggap bahwa kehidupan saya bukanlah konsumsi publik. Tapi setelah ini pasti dicela. Toh, siapa saya? Saya juga butuh doa dari orang lain, maklum, seorang pendosa.

Apa yang dirasakan pasangan muda yang tidak langsung hamil pada umumnya adalah perasaan kesal. Kesal bukan karena iri, dengki, atau bahkan menginginkan nikmat orang lain yang lebih dahulu memiliki anak menjadi hilang. Tapi kesal karena sedih, siapa sih yang tidak mau punya keturunan?

Ada memang, orang-orang yang tidak ingin punya keturunan. Nampaknya hal ini banyak terjadi di daerah barat. Mereka menganggap punya anak merupakan sesuatu yang merepotkan. Sombong ? Bisa jadi, mungkin mereka merasa mampu mengurus diri sendiri saat tua, apalagi panti jompo selalu tersedia. Sejatinya memang bukan karena ingin diurus oleh anak dimasa tua, ada yang lebih dari itu. Yah, tidak dipungkiri ini adalah soal akhirat, para orang tua membutuhkan doa dari anak-anak yang shalih.

Berkaca pada seorang Bunda, Ummi Khanza, itulah nama yang beliau gunakan di sebuah forum. Menunggu selama 16 tahun untuk mempunyai keturunan. Bayangkan pertanyaan, "Sudah hamil belum ?" selalu didengarnya selama 15 tahun. Bukan tidak berusaha, sama sekali bukan. Beliau sudah berobat kesana kemari, ke dokter yang disana dan disini. Tapi, Allah punya rencana lain. Rencana hebat untuk seorang ibu yang hebat. Allah mendidiknya dengan cara-Nya. Ketika sudah sampai puncaknya, bertawakal-lah Ummi Khanza kepada Allah, ya... mungkin belum saatnya. Sungguh, bukankah Allah tidak pernah menyia-nyiakan hamba-Nya? Ya, saat berserah diri itulah dirinya diberi amanah seorang anak, alhamdulillah. Sabarnya, syukurnya, tawakalnya, ikhtiar dan doanya dididik oleh Allah selama 15 tahun. Hanya orang-orang merugilah yang tidak bisa mengambil pelajaran dan nyinyir, "Kok belum hamil?", "Gak bisa buatnya ya?", hehehe
Kalau mau tahu dan penasaran seperti apa sedihnya menunggu diberi amanah keturunan, silahkan berkunjung ke forum-forum ibu hamil.

Seorang akhwat berinisial L. A. berkata bahwa kita harus selalu berhusnudzon kepada orang lain karena apa yang kita lihat, itu asumsi kita, belum tentu keadaannya sesuai dengan apa yang dipikirkan. Mudah-mudahan yang bertanya "Sudah hamil belum?" benar-benar peduli dan ingin mendoakan. Tapi apa iya semuanya begitu ? Hahaha, yah teko hanya mengeluarkan isi teko. 

Hmm, ada juga beberapa pasangan yang memang berniat untuk menunda mempunyai keturunan. Misalnya saja teman saya yang berinisial M.U., dia ingin menunda karena ingin merasakan dan menikmati halalnya pacaran setelah menikah. Ketika mengutarakan maksudnya, mertua pun dapat memahami dan memakluminya. Lain hal, salah satu keluarga saya juga ingin menunda karena berencana melanjutkan kuliah di luar negeri.

Masing-masing sudah punya rencana, apa daya, rencana kita pun tidak lebih baik dari rencana Allah. Ketika banyak yang bertanya kepada saya, "Salah ga sih gw kayak gini?", saya selalu menjawab, tidak salah, selama apa yang kita lakukan bukan dalam rangka kemaksiatan. 

Mereka yang menunda pun mendapat banyak cibiran. Pun jika dengan melanjutkan studi atau melakukan rencana lainnya menjadikan diri lebih baik, kenapa tidak? Positifnya, mereka akan punya banyak cerita dan ilmu pengetahuan, atau bahkan belajar model parenting yang berbeda untuk diterapkan jika sudah punya anak nanti. Hanya saja, kebanyakan dari kita selalu melihat sisi negatif suatu hal menjadi lebih dominan.

Sebelum menikah, ada tetangga yang menasehati saya, jika sudah lulus kuliah, kerja dulu, senang-senang dahulu, jangan buru-buru nikah. Ternyata yang saya rasa, dengan menikah pun kita juga bisa bersenang-senang lho. Menikah cepat atau lama, cepat punya anak atau lama, semuanya memiliki konsekuensi yang sebetulnya bukanlah hal negatif. Karena memang ada takdir yang bekerja. Mau cepat atau lambat, keduanya mendapatkan ujian dan anugrahnya masing-masing. Sebut saja teman saya yang berinisial M.E., sudah 3 tahun menikah belum dikaruniai anak, namun setiap hari kemampuan menggambarnya semakin baik.

Mudah-mudahan kita semua diberikan pemikiran yang jernih, peka terhadap sesama, baik pula adabnya. Sebab hubungan terhadap orang lain atau ukhuwah, sejatinya lebih penting dari keegoisan diri.

"Sudah hamil belum ?", semoga pertanyaan ini bukan formalitas untuk menyambung pembicaraan.

Sunday, August 7, 2016

Perlunya Keceriaan

Belum lama ini seorang kakak kelas bernama, sebut saja Fulan, haha baru saja menikah. Sebenarnya bukan teman dekat, baik saya maupun suami. Hanya saja ikhwan berinisial X, wkwk, mengumpulkan ikhwan-ikhwan (yang mulanya jomblo semua) dalam sebuah grup Whatsapp yang agak kurang jelas fungsinya (sori wkwk).

Tidak dipungkiri bahwa kebahagian setelah menikah tidak bisa ditutupi, oleh sebab itu baik suami atau istri senang sekali berbagi rasa atau pengalaman mereka. Tidak terkecuali saya, sehingga saya menulis di blog ini mengenai The Wedding Guide. Setelah itu saya hanya cerita di blog ini saja tanpa dishare ke media sosial lainnya. Habisnya saya mikir-mikir juga, buat apa hahaha (red: ini berkenaan dengan kondisi psikis, bukan mempermasalahkan boleh tidaknya share di media sosial). Saya banyak cerita waktu awal-awal menikah. Ketika itu belum sadar, bahwa sebenarnya tidak perlu. Sebab jika semua permasalahan/kebahagian/kegelisahan/ diceritakan ke suami akan lebih membantu. Jadi, jiwa pun lebih tenang, dan tidak ada yang ditutup-tutupi. Kadang tergantung juga bagaimana sifat suaminya.

Kemarin baru saja saya dapat cerita, mudah-mudahan bisa menjadi pembelajaran bagi yang membaca. Jadi, pasangan ini sudah lama menikah dan dikaruniai dua orang anak, perempuan dan laki-laki. Keluarga ini mempunyai kondisi finansial dan sosial yang baik. Anak perempuannya pun sudah menikah dengan keluarga yang berfinansial baik pula. Dan, kami atau kebanyakan orang secara dzahir melihatnya sebagai keluarga yang bahagia. Namun, semua itu ternyata tidak sesuai dengan kelihatannya. Hingga sang istri jatuh sakit, dan menangis menceritakan kondisi rumah tangganya. Selama ini dirumahnya tidak ada keceriaan, semua sibuk mengurusi urusannya masing-masing, diam-diam saja, jarang berkomunikasi. Istrinya mengeluhkan, bahwa suaminya mampu bercanda, tertawa bahagia dengan orang lain tetapi tidak dengan dirinya. 

Cerita ini membuat saya dan suami bersyukur. Meskipun tidak sekaya mereka, tapi kami bisa ketawa ketiwi dan menangis bersama-sama. Jangan salah, menangis itu kebahagian lho! Karena bisa meningkatkan empati dan kelembutan hati. Sehingga seiring waktu semakin memahami diri sendiri juga pasangan. Tentunya pernikahan kami yang seumur jagung tidak bisa dibandingkan dengan pernikahan mereka yang sudah puluhan tahun. Namun, semoga kami bisa mempertahankan rumah tangga ini dengan baik.

“Orang yang imannya paling sempurna diantara kaum mukminin adalah orang yang paling bagus akhlaknya di antara mereka, dan sebaik-baik kalian adalah yang terbaik akhlaknya terhadap istri-istrinya” (HR At-Thirmidzi no 1162,Ibnu Majah no 1987 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah no 284)

Jadi, bagi suami yang ingin tahu kualitas dirinya, bertanyalah pada istri sendiri, jangan pada istri orang lain, wkwkwk, testimoni istri menunjukkan akhlak sebenarnya dari seorang laki-laki.

Sepertinya saya juga dulu pernah menulis, kenapa bapak-bapak itu suka jayus (ngelucu tapi ga lucu), termasuk bapak saya sendiri (hahaha, sori pak). Ketika bapaknya teman saya meninggal, dia mengeluhkan bahwa keadaan di rumah menjadi lebih sepi karena itu tadi, tidak ada kejayusan lagi. Usaha-usaha bapak yang jayus ternyata membawa keceriaan sendiri didalam rumah. Oleh sebab itu, jika Anda adalah seorang suami dan jayus, tidak perlu khawatir, pertahankan saja, wkwkwk. Seiring waktu kejayusan itu mungkin akan terlatih menjadi lucu menggelak tawa.

Bagi suami, hadirkanlah keceriaan meskipun jayus, sebab istri pun akan maklum wkwkwk


Copas, Copas, Copas

Copas, alias copy paste. Awalnya nama toko yang saya buat (red: Akira's House) nampak baik-baik saja. Lama-kelamaan, jadi ada yang namanya mirip dan dia teman dekat. Jadi, saya merasa bahwa dia copas nama toko saya. Tidak sama persis, hanya sama diembel-embel bla bla's house-nya.

Kalau bukan orang dekat tentunya saya tidak merasa securiga ini. Karena nama toko saya juga diambil dari orang-orang terdahulu. Akhirnya saya memutuskan untuk mengganti nama toko. Selain itu juga merubah fokus menjadi toko buku saja. Mudah-mudahan kali ini tidak ada yang copas. Insya Allah ide saya original, tapi pastinya dari se-milyar orang yang hidup saat ini, mungkin punya ide yang sama, tapi berjauhan lho.

Thursday, August 4, 2016

Mengaku Sahabat ?

Perasaan mempunyai sahabat kebanyakan bertepuk sebelah tangan, begitulah yang disampaikan oleh teman berinisial M.E.

Lalu bagaimana jika ada seseorang yang mengaku sahabat, padahal kita tidak merasakan hal yang sama ? Jarang berkomunikasi, menanyakan atau memberi kabar, bahkan saling bercerita pun tidak pernah.

Insomnia

Saat sulit untuk tidur, seringkali pikiran ini mengambang, memikirkan imajinasi yang bahkan mungkin tidak akan pernah terjadi. Lalu, khawatir dan merasa cemas.
Bagaimana jika nanti aku tidak mampu menerima kenyataan hidup?

Sulitnya menjadi orang yang belum paham mengenai kebenaran. Kita disibukkan dengan sesuatu yang fana. Dampaknya akan menyulitkan kita dalam memilih, maka tersiratlah bahwa hidup ini bukan putih atau hitam, melainkan abu-abu.

Aku tidak menyukai insomnia. Aku jadi memikirkan banyak hal aneh. Dan mulai menangisi imajinasi sendiri.

Selama aku hidup hingga saat ini banyak perbuatan yang aku sesali. Buruknya sifatku pun belum juga reda. Kurang sabar, begitulah.

Ketika menyadari bahwa semua kehendakNya pasti membawa kebaikan, dengan sendirinya jiwa menjadi tumbuh kuat. Ujiannya adalah orang-orang disekitar kita, yang kadang suka berkata usil, mengomentari ini itu, kehidupan kita yang tidak dia rasakan sendiri. Jikalau memberi nasihat, maka adabnya sungguh kacau. Meskipun baik, akhirnya menjadi sulit untuk diterima.

Aku takut tersesat. Kemudian takut kehilangan orang-orang yang kusayangi. Ini sebuah tanda bahwa aku masih belum memahami hakikat hidup didunia, walaupun rasa takut adalah bentuk kewajaran dari perasaan seorang manusia.

Saat kulihat dirinya sedang tertidur lelap, sedangkan aku masih terjaga, aku sangat bersyukur karena diberi ujian teman hidup yang luar biasa. Mengapa ujian? Karena baik kebahagiaan maupun kesedihan adalah bentuk ujian, syukur tidaknya, atau lalai tidaknya.

Tentunya aku tidak berani melawan dan melangkahi yang sudah berkehendak. Sehingga, aku penuh harap dan doa agar bisa selalu bersamanya, agar kami masuk surga sekeluarga.

Berbuat baiklah terhadap keluarga. Sejelek apapun perbuatan kita, pada akhirnya hanyalah keluarga yang mau menerima, bahkan bersedia membimbing kejahiliyahan kita menuju cahaya.

Aku banyak belajar, sayangnya banyak pula melupakan.

Saturday, July 2, 2016

Sederhana Lebih Selamat

Betul kata Ustad Bachtiar Nasir, kalau kita mampu bermewah-mewah, percayalah, sederhana lebih selamat.

Saya menemukan ini bukan hanya dalam soal harta, tetapi juga dalam pergaulan sosial.

Orang kaya akan lama masuk surga karena lama hisabnya. Orang yang sederhana dalam membelanjakan hartanya hanya akan membeli yang dibutuhkan saja, bukan ingin menaikkan status sosial. Misalnya beli baju, yang penting rapih dan sopan.

Kalau memperhatikan tetangga sendiri, orang kaya yang sederhana ternyata lebih disukai dibanding orang kaya yang terlihat mewah. Meskipun keduanya sama-sama dermawan dan mempunyai sikap yang baik terhadap tetangga.

Jadi, sikap sederhana juga menyelamatkan diri sendiri dari orang-orang yang iri dengki.

Tapi sekali lagi, sederhana jadi relatif ya hahaha

Peduli atau Kepo?

Sebagai manusia dan seorang muslim sudah sepatutnya kita peduli dengan keadaan saudaranya. Tapi selama ini apakah kita benar-benar peduli/tulus atau cuma kepo ya? Hmm...

Monday, June 13, 2016

Doa Yang Telah Lalu

Harap-harap cemas, terkadang, terkadang lagi sedang waras, Allah pasti memberi yang terbaik, segala sesuatunya.

Rabbi habli minnashalihin....

Sedang banyak-banyaknya diberi kesempatan untuk belajar apa yang saya sukai. Ada desain grafis, mengutak-atik komputer, selintas ingin lagi baca-baca astronomi, menonton ulang film dokumenter Neil De Greasse Tyson, Cosmos: A Spacetime Oddesy, sungguh menyenangkan. Membaca beberapa buku sebagai hiburan sekaligus menambah kosa kata baru.

Itulah isi waktu luang saya, sembari menunggu datangnya amanah, anak yang solih/solihah.

Jika dikata berat, sesungguhnya jika orang-orang seperti kami sedang down, maka yang terberat adalah menghadapi pertanyaan para kerabat, "... Sudah isi belum ?"

Jika ditanya apakah kami butuh empati, maka kami akan menjawab butuh. Bukan karena iri atau dengki terhadap orang lain. Tapi, sejatinya akan indah jika perasaan kami terjaga, dalam rangka mendukung kami untuk selalu bersemangat dan yakin akan segala ketetapan Illahi.

Menangislah saya dalam shalat, meminta dikuatkan untuk menghadapi pertanyaan mainstream itu. Lalu saya teringat doa saya yang telah lalu, lama sekali...

"Ya Allah, bantulah aku dalam membentuk keluarga Qur'ani..."

Ternyata baru saya sadari bahwa saya tidak punya bekal untuk membentuk keluarga Qur'ani. Bagaimana mungkin saya mengajarkan anak-anak tentang Al-Qur'an, jika saya sendiri tidak memahaminya, tidak menghafalnya, dan tidak menjaga hafalannya.

Astagfirullah, sungguh hamba lupa...
Semoga ini menjadi kesadaran bagi saya, untuk mengisi kembali waktu luang yang ada dengan menghafal kembali Al-Qur'an.

Allah memang punya cara terbaik untuk mewujudkan doa hamba-Nya.





Monday, May 2, 2016

Pernikahan, Anti-Sosial, dan Media

Dok. Pribadi 
Dalam postingan sebelumnya, saya heran kenapa beberapa orang yang sudah menikah seperti hilang bak ditelan bumi, tidak ada kabarnya. Setelah mengalami kehidupan berumah tangga selama beberapa bulan dan banyak mendengar cerita dari teman sejawat, mungkin faktor belum hamil/punya momongan adalah salah satu sebabnya.

Memang tidak semua pasangan langsung diberi rezeki berupa anak setelah menikah. Ada pula yang harus menunggu entah sampai kapan lamanya. Sebelumnya saya juga pernah bercerita mengenai pasangan beda agama yang belum dikaruniai anak setelah menikah selama 7 tahun. Teman saya sendiri masih belum punya anak dan sudah menikah selama 3 tahun. Berikut ini ceritanya kepada saya, dan saya sudah izin untuk mempostingnya diblog saya.

"Mending udah nanya diem. Gw udah cerita belom sik kalo gw diajak laki ke acara temen2nya terus ada yg nanya gw kenapa belom hamil dan berkesimpulan gw apakah gw gak suka anak kecil? Itu para jomblo yg nanya, ada juga temen emak gw. Kemaren nenek gw nanyain itu mulu pas yasinan alm kakek. Dan emak gw selalu nyuruh makan kecambah biar subur. Dan gw cuma bisa membatin dengan pede: Kalian gak tau berapa juta yg gw keluarin cuma buat nyari tanda positif. Mending orang yg sempat keguguran, setidaknya mereka terbukti tidak mandul. //hampirmbrebes"

"Gw takut sama keluarga dia (suami) sih, anak tunggal dan nyaris semua sepupu seumuran. Taulah gimana tekanannya."

Teman saya ini bahkan berencana untuk tidak pulang kampung, sekedar menghindari pertanyaan "sudah isi belum ?"

Termasuk soal media sosial, banyak sekali ibu muda yang memposting tentang kehamilan maupun perkembangan anak, untuk menghindari agar tidak berpikir negatif, dia 'menarik diri' dari hingar bingar dunia maya. Kadang saya pikir, semua jadi serba salah. Orang seperti teman saya ini sebetulnya hanya membutuhkan rasa empati dari teman-teman lainnya. Yah, kita juga tidak bisa berbuat banyak mengenai kemajuan teknologi dan juga kebebasan berpendapat. Dalam suatu forum ibu hamil, saya menemukan seorang ibu yang curhat mengenai temannya yang menurutnya iri dan dengki terhadap kehidupan pribadinya.

"Maaf ya bunsay n maybe ada bapa2 disini yang ikut pantengin forum,,,,, saya cuma mau ngeluarin unek2 yang rasanya ga pantas buat disimpan !!!!
Tadinya saya punya teman, ga dekat cuma kenal aja n itupun diforum ini juga. Mulanya sih baik n biasa saja,,, tapi kesininya mulutnya ya Allah kasar n ga pantes buat jadi manusia....
Saya mau tanya sama bunda semua disini,
#apakah saya tidak boleh bahagia ? Apa kebahagiaan saya ga boleh saya ungkapin dari kata2 or pic di status ( wong hp kan punya aye)
#apakah saya ga boleh marah ? Saya kan manusia masih punya rasa marah,,,, apakah kemarahan or ketidaksenangan saya juga ga boleh saya ungkapin ?!!!
Tapi kenapa setiap saya tulis status soal kebahagian, seperti dikasih mobil kado ultah sama miswa, foto rumah yg lg renov, mereka yang keki mereka langsung sindir ini itu,,,,,
saya tulis uneg2 saya di sosmed soal kk saya yang setiap hari hanya ribut soal uang, kenapa mereka yang pada nyinyir,,,,, yang anehnya lagi pas ditanya ga ngaku hmmmmmm,,,,,
tapi setelah itu sok jago nantangin, saya dikata2in dengan kata2 kasarnya binatang,,,,
yang saya ga suka mereka pake bawa2, 3 anak saya yang katanya ga malu punya bunda kaya saya ?!!! Alhamdulillah anak saya udh gede n bisa diajak curhat, saya cerita punya tmn kaya gini tau ga apa kata anak saya "CUEKIN AJA BUN, PALING JUGA SYIRIK SAMA BUNDA,,,,"
Asal kalian tau ya geng bullyers,,,, ANAK SAYA GA MALU PUNYA BUNDA KAYA SAYA, MEREKA TAU PERJUANGAN SAYA MERAWAT MEREKA, mereka malah ga mau bundanya PUNYA TEMAN KAYA KALIAN,,,,,
dibilang stress iya, saya akuin saya depresi liat kalian ngata2in saya seenak jenong kalian,,,, tapi sekarang I'm free,,,,,,, ga ada kalian hidup saya tenang n mungkin ini cobaan buat saya kalo lebih hati2 dalam berteman, teman yang baik akan bawa kebaikan n teman yang buruk akan bawa keburukan... setelah dihina kalian Alhamdulillah si babe dpt big deal lagi, so terus hina saya biar saya tambah diangkat derajatnya,,,,Aamiin
Alhamdulillah abis keluarin uneg2 legaaaa rasanya,,,,,
ohh ya 1 lg ,, ga usah merasa sok kece, kaya n bener sendiri deh nyuruh org ngaca sendirinya ga ngaca inget kesempurnaan hanya milik Allah n bukan kalian"


Dilansir dari liputan6.com, lima puluh dua persen dari seribu warga Inggris yang disurvei mengatakan, mereka murni menunggah foto ke Facebook atau media sosial lainnya hanya untuk membuat teman-teman dan keluarganya cemburu.

Allahua'lam, kita memang tidak berhak untuk menghakimi niat orang lain. Bisa dikatakan bahaya dari sosial semacam ini, membuat saya juga turut menarik diri dari dunia maya. Saya pribadi depresi karena membaca status teman-teman yang berisi kebencian terhadap orang lain, lalu menshare berita hoax, dan banyak bicara dalam bidang yang bukan keahliannya. Saya belum mampu menasehati karena tidak berkapasitas untuk itu. Terlebih lagi, melakukannya diperlukan adab yang baik, dan saya belum memilikinya.

Faktor anti sosial lainnya, mungkin sebenarnya mereka bukan anti sosial, tetapi hanya sibuk dengan urusan keluarga. Ada pula kehidupan sosial seseorang bergantung bagaimana pasangannya. Setelah menikah memang baiknya permasalahan rumah tangga diselesaikan berdua saja. Menurut Ustad Bachtiar Nasir, adalah suatu masalah jika seorang suami tidak lagi mendengarkan istrinya bercerita atau curhat. Persoalan ini akan berbuntut panjang, dan diawali dari istri yang bercerita ke orang lain selain suaminya. Banyak suami yang tidak menyukai hal seperti ini, namun kurang sadar diri atau introspeksi mengapa istrinya sampai bercerita kepada orang lain.

Mengenai beberapa akktivis dakwah yang juga tenggelam dalam pernikahannya, sebetulnya sudah viral sejak lama. Memang hidup berkeluarga menjadi tantangan baru dalam melanjutkan dakwah. Harus pintar-pintar membagi waktu dan prioritas. Dalam artikel di websitenya, Fahmi Basyaiban menulis persoalan aktivis dakwah lainnya dengan judul Kenorakan Aktivis Pasca Menikah.

"Semakin ke sini hipotesis saya semakin terbukti dgn munculnya fakta sosial yg terus menguatkan. | bahwa aktivis dakwah tarbiyah itu (kebanyakan) norak di sosial media setelah menikah. sebelum nikah, menjaga kesucian status FB dgn tdak update status yg norak-norak, isinya kebanyakan kalimat hikmah, petikan Qur'an, hadis, kisah sahabat, dan kisah hikmah.. Sebelum menikahpun, menjaga kesucian diri dgn tdak memasang foto dirinya sendiri terutama untuk akhwat, untuk menghindari fitnah dan hal-hal yg tidak diinginkan..dan semuanya berubah jadi norak setelah menikah, kesucian update statusnya berubah jadi kalimat-kalimat norak yg menampilkan kemesraan bersama sang suami/istri. Kalau seminggu setelah menikah sih gak masalah.. Lha ini terus-terusan sampai kalimat hikmahnya seakan menguap entah kemana..Norak kedua, foto profilnya langsung ganti jadi norak, pelukan sama sang suami, foto mesra, dll. | lalu apakah setelah menikah tindakan menjaga kesucian foto hilang begitu saja? Kalau ada yg menganggap itu wajar untuk ukuran aktivis dakwah, sy termasuk yg tidak sepakat. Entah mengapa intuisi saya sangat risih dgn hal demikian.
Aah.. Mungkin saya terlalu utopis standar aktivis dakwah. | tp klo dibandingkan dgn standar muashofat tarbiyah terutama di point Matinu al-Khuluq, jelas ini ga sesuai. Matinul Khuluq, kekuatan akhlak inilah yg menjadi standar kunci dan ciri khas kader dakwah. kematangan karakter itu jga ditunjukan melalui perilaku di socmed juga..
Wa allahu a'lam bishowab.. #NtMS #CMIIW"

Hidup berdampingan dengan saling memahami satu sama lain memang tidak mudah. Berpikit positif adalah kunci utamanya. Tidak lupa untuk bersyukur dan bersabar. Kadang kita stress karena memikirkan yang tidak ada sehingga lupa bersyukur dan iri pada kehidupan orang lain. Biarlah orang lain memposting apapun sesuai keinginan mereka, semakin banyak bicara semakin banyak pula pertanggungjawabannya. Bukan tidak peduli, mengingatkan satu sama lain dalam kebaikan tetap harus dilakukan, selemah-lemahnya adalah mengingkari keburukan dengan hati.


Allahu a'lam, semoga Allah menjadikan kita hamba yang lebih baik.


Bertemu Kembali...

Dok. Pribadi
Masya Allah, alhamdulillah setelah sekian lama MFR (Muslimah Female Reagent) bisa berkumpul kembali hehehe....
Tanggal 1 Mei 2016, seorang sahabat kami menikah, Luqyana Assiddiqi namanya. Lulu -panggilannya- suka sekali tersenyum dan kalem. Dia tipe orang yang jika mendapat masalah bahkan tidak merasakan bahwa itu adalah masalah, hahaha. Tidak berkoar-koar soal ibadahnya, tapi hafalan Alqurannya banyak, diam-diam sunyi senyap membaca buku, tapi tidak pernah berlagak sok tahu. Amat jarang sekali terlibat konflik dengan orang lain karena pikirannya selalu positif. Fuad Hasan -nama suaminya- semoga bisa menjadi suami yang baik bagi sahabat kami, aamiin.

Dok. Pribadi
Pernikahan Lulu-Fuad bertempat di kuningan, di sebuah Balai Desa. Kami berlima (Abi, Inot, Khalida, Rima, dan Anggit), alhamdulillah diberi kesempatan untuk datang ke resepsi pernikahan Lulu. Saya bangun jam 3 pagi, karena takut telat hahaha. Buru-buru menyuruh Abi mandi, hari sebelumnya pun sudah diwanti-wanti, agar pagi ini segera mandi hhahaha. Namun apa daya, yang tadinya ingin berangkat setelah subuh, ternyata kado saya ketinggalan di kontrakan, hahaha. Alhasil setelah menjemput Rima di depan komplek perumahan, kami balik lagi ke kontrakan. Ternyata Khalida sudah menunggu cukup lama di Pasar Rebo, depan Frisian Flag, ditemani oleh pakdenya. Kemudian kami berlanjut ke Karawang Timur, untuk menjemput Anggit.

Perjalanan cukup jauh dan berkelok-kelok, naik turun seperti di puncak. Sisi kanan kirinya banyak pengrajin batu bata. Suasana di mobil pun tidak tenang. Anggit adalah pelakunya hahahaha. Dia memang selalu banyak punya cerita. 

Alhamdulillah, sekitar pukul 10, kami sampai dengan selamat. Dan saya pun -sesuai rencana- mau makan es krim, hahahah -jangan ditiru-. Saat itu Lulu masih di rias. Kami sempat melihatnya (red: kecuali Abi), dan suaminya juga ada disana. Kelihatannya suaminya kalem sama seperti Lulu. Lalu, seperti emak-emak kumpul arisan, kami pun seketika heboh hahahah.

Tidak lama kemudian, teman seangkatan lainnya pun datang. Ada penyerahan tropi dari angkatan, pasangan Lulu-Fuad menjadi pasangan ke-35 yang telah menikah. Semoga Lulu-Fuad menjadi pasangan berbahagia dunia akhirat, segera diberi momongan, langgeng, dan penuh berkah.

Barakallahu lakuma wa baraka alaikuma wa jama'a bainakuma fii khoir



Sunday, April 3, 2016

Kajian Istiqlal: Mencintai Wali-Wali Allah

Bismillahirrahmanirrahim,

Alhamdulillah segala puji bagi Allah Azza wa Jalla, Tuhan semesta alam dan seisinya. Hari ini saya dan Abi diberi kesempatan untuk menghadiri kajian di Mesjid Istiqlal. Kami berdua cukup excited karena ini pertama kalinya berkunjung ke mesjid tersebut, hehehe

Kajian yang berjudul Mencintai Wali-Wali Allah ini disampaikan oleh Dosen Ilmu Aqidah di Madinah, Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr. Beliau berceramah menggunakan Bahasa Arab, lalu diterjemahkan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M. A.

Sedikit saya ingin berbagi ilmu dari kajian ini. Mudah-mudahan bermanfaat bagi yang membaca. Tulisan ini tidak persis seperti perkataan Syaikh Abdurrazzaq karena keterbatasan saya dalam mencatat. Namun, semoga tidak mengurangi maknanya.

Ada beberapa pendapat yang mengatakan bahwa jika seseorang sudah menjadi wali Allah, maka tidak perlu lagi melaksanakan kewajiban, bahkan tidak perlu pergi ke Ka'bah, sebab Ka'bah yang akan mengelilinginya. Pendapat tersebut adalah keliru. Kita tidak perlu berpikir jauh, mencari-cari, siapakah wali Allah? Contoh yang paling nyata adalah sahabat Rasulullah saw. Mereka adalah generasi terbaik umat, wali Allah, dan mereka tetap melaksanakan kewajiban seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah saw.

Kita perlu berhati-hati akan anggapan kita kepada seseorang, apakah orang itu wali Allah atau bukan. Golongan yang dikhawatirkan oleh Rasulullah saw adalah orang-orang menyimpang yang menjadi panutan.

Diantara ciri-ciri wali Allah yaitu tidak pernah menganggap dirinya suci, sebesar apapun amalan yang dia kerjakan. Mereka tidak membanggakan diri. Mereka juga shalat, puasa, bersedekah, membantu orang lain. Namun, hatinya senantiasa khawatir jika amalannya tidak diterima Allah swt.

Orang beriman adalah orang yang menggabungkan perbuatan baik dengan perasaan khawatir, sedangkan orang munafik adalah orang yang menggabungkan perbuatan maksiat dengan perasaan aman.

Pendapat yang mengatakan bahwa orang yang tidak mempunyai karamah/melakukan sesuatu yang ajaib bukanlah wali, ini adalah pendapat yang salah. Karamah paling tinggi adalah keistiqomahan seorang hamba.

Seandainya kita bingung karena adanya rasa kagum terhadap seseorang, apakah orang tersebut wali Allah atau bukan, maka gunakanlah 3 barometer ini untuk menilai orang tersebut. Yang pertama perhatikan shalatnya, kedua, cintakah ia kepada sunnah/ahlus sunnah? Kemudian yang ketiga adalah apakah ia mengajak ke jalan Allah dan Rasul-Nya? Karena ada sebagian orang yang mengajak seseorang kepada Allah dengan tujuan ingin dikagumi oleh pengikutnya. Jadi, kemampuan berjalan diatas air, dan hal-hal ajaib lainnya bukanlah barometer yang digunakan untuk menilai apakah seseorang itu adalah wali Allah atau bukan.

Terakhir, Syaikh Abdurrazzaq berpesan agar kita selalu bersemangat dan berusaha untuk menjadi wali Allah. Tidak lupa memperbanyak doa kepada Allah, sebab doa merupakan kunci kebaikan. Cintailah orang-orang shaleh yang merupakan simpul keimanan yang paling kuat. Teruslah mempelajari ilmu syar'i, hanya dengan ilmu kita bisa membedakan yang benar dan salah. Bergaullah dengan orang-orang shaleh, karena akan memotivasi untuk beribadah dan senantiasa dekat kepada Allah. Dan jauhilah pintu-pintu keburukan atau fitnah, misalnya memilih dengan selektif media atau situs-situs yang kita baca.

Demikan, yang tertulis didalam buku catatan saya. Tapi ada satu hal yang perlu saya sampaikan juga, mengenai sikap kita tentang kebersihan. Saat kajian, banyak jamaah (dalam hal ini akhwat dan anak-anaknya) makan di dalam mesjid dengan tidak rapi, sehingga banyak sekali ceceran serpihan gorengan di lantai mesjid. Kemudian saat di toilet, sepertinya ada akhwat yang sedang haid namun tidak mem-flush closet, juga meletakan tisu-tisu bekas pakai di tempat sabun. Semoga kita bisa menjaga kebersihan lebih baik lagi ya...


Thursday, March 31, 2016

Cara Mengatasi "This Setting is Enforced by Your Administration" pada Google Chrome

Belakangan saya mengalami kejadian tidak menyenangkan saat browsing. Pertama, setelah mengetikkan keyword, search engine berubah menjadi search so-v, yang setahu saya itu merupakan malware. Kedua, setiap mengklik link, selalu ke direct iklan-iklan dan web lain yang tidak berkepentingan.

Ketika saya mencoba untuk mengubah search engine default kembali ke google melalui setting manual Google Chrome, ternyata tidak bisa saya ubah dan terdapat tulisan "This setting is enforced by your administrator". Saya kemudian meng-uninsstall, dan meng-install kembali browsernya, namun masalah tersebut tidak teratasi. 

Alhamdulillah akhirnya hari ini saya mendapatkan informasi melalui youtube, caranya pun cukup mudah.

Pertama cari cmd.exe, klik kanan dan pilih Run As Administrator, kemudian ketikkan kode sebagai berikut, dan jangan sampai salah.

RD /S /Q "%WinDir%\System32\GroupPolicyUsers", tekan enter, dan ketikkan lagi...
RD /S /Q "WinDir%\System32\GroupPolicy", tekan enter, dan ketikkan lagi...
gpupdate /force, tekan enter, dan tunggu beberapa saat hingga muncul bahwa setting telah berhasil dilakukan.

Saya tidak tahu pengaruh huruf besar kecil, maupun spasi dalam kode tersebut, jadi sebaiknya jika ingin berhasil ketikkan kode tersebut sama persis seperti yang sudah saya tuliskan.

Selamat mencoba, dan semoga berhasil ^^

Sunday, March 20, 2016

Curhatan Istri Kedua 2

Jikalau ditanyakan apakah bersedia untuk dipoligami atau tidak, maka jawaban setiap wanita beragam. Meskipun dapat dipastikan, hampir semua wanita tidak ingin dimadu.

Teman saya, Tania, pun mempunyai prinsip tersendiri mengenai poligami. Berikut ini merupakan pendapatnya untuk saat ini, dia belum menikah. Pernikahan bisa saja membuat pendapatnya berubah.

"Kl gw, gw mau jadi yang terakhir. Kl dia milih gw untuk yang pertama ya itu yang terakhir. Kl dia mau poligami ya udah cari aja dl istri pertamanya kl udh mau cari yang terakhir baru cari gw. Itupun kl gw masih ada. Itu tergantung kesepakatan suami istrinya not. Kl mmg pihak pertama nggak keberatan ya silahkan aja. Tapi bagi gw, kesepakatan sebelum nikah buat poligami itu perlu. Sekalipun di tengah jalan ad sesuatu yang mengharuskan *kata org2 yang gw tanya sh gt. G tau mau poligami atau nggak liat sikon kl emng ad sesuatu yang mengharuskan. Bagi gw semua itu tentang rencana. Kl org yang emang udh sepakat nggak mau poligami,   mau nggak punya anak kek,mau istrinya tiba2 cacat ke ya suaminya ttp setia sama janjinya untuk ngurus istrinya smpe istrinya nggak ada. Dan tujuan menikah itu bukan punya anak. Anak itu akibat dari pernikahan yang harus dipertanggung jawabkan. Kata ustd hilman gt, pny anak itu bukan tujuan nikah. Jadi salah kl co nyari ce dengan alasan bisa membimbing anak2 kelak. Cari aja yang akhlaknya baik. Krn belum tentu Allah bakal mengaruniai anak ke keluarga kecil kita. Suka-suka Allah lah. Terus lagi. Satu highligt buat gw, kl emng mau beristri lebih dari satu. Ya harus bnr2 tanggung jawab dan istrinya pun harus mau tanggung jawab sampe akhir. Mnrt gw itu lebih adil. Gw pny cnth, jd ada suami yang beristri 4. Krn dia semakin tua dia nggak mampu lagi untuk mengurus istri2nya akhirnya istri ke 3 dan 4 nya dilepas. Bagi gw, kl dia ngelepas krn laki2nya nggak mampu ya dia dzalim. Kenapa harus beristri 4 kl emng dia secara finansial mampu mending didik laki2 muda yang blm mapan smpe mapan dan bisa nikahin ce itu tp bertanggung jawab smpe akhir (akhir refers to die). Kl laki2 itu melepas krn kasian sm ce nya. Dan ce nya yang pergi, ce nya yang dzalim (dzalim di kalimat ini refers to nggak bertanggung jawab dlm kalimat umum) knp sh dia nggak nggu aja smpe suaminya emng meninggal. Seneng bareng2 knp giliran susah nggak mau bareng2?"

Sedangkan Abi berpendapat, poligami dapat diasumsikan seperti muadzin yang mengumandangkan adzan. Maksudnya, setiap orang bisa saja menjadi muadzin, namun ada yang pantas dan tidak pantas. Kepantasan tersebut misalnya dalam hal suara, dengan memiliki suara yang bagus tentunya akan menarik dan memberikan semangat bagi kaum muslimin untuk segera melaksanakan shalat, bahkan juga mampu menggugah hati orang-orang non-muslim. Pun demikian dengan poligami, ada yang pantas dan tidak pantas. Tentunya akan menjadi kurang pantas bila pelakunya tidak mempunyai landasan ilmu yang cukup. Sehingga pada praktiknya akan berlaku dzalim.

Dari Blog Curahan Hati Istri Kedua saya ingin beropini, tanpa ada maksud untuk memojokkan istri kedua tersebut. Sebab saya hanya sekedar 'meneliti' sebagai pembelajaran.

Kutipan 1
"Seiring berjalannya waktu saya merasa ini sangat tidak adil.. Istri 1 yang sangat kasar jika bicara tentangku, dan dia pun mengumbar fitnah kepada semua orang yang dia kenal, yang suamiku kenal dan yang aku kenal bahwa suami berselingkuh denganku.. Melakukan zina.. Dikhianati.. Dan lain sebagainya.. Namun suamiku masih memberinya kasih sayang dan nafkah lahir bathin kepadanya..
Nafkah lahir yang berupa materi saya masih mendukung suami untuk melakukan itu.. Namun yang saat ini entah tak bisa ku terima adalah nafkah bathin.. Suamiku masih memberikan nafkah bathin (hbungan i***m) untuknya.. Kadang terbesit rasa tidak terima.. Dan bertanya-tanya apakah masih ada cinta di hati suamiku untuk dia.. Yang sudah sekian banyak membuat hidupku dan hidup kami berantakan.."

Menurut saya kenapa suami masih memberikan nafkah batin, tentunya karena beliau berusaha untuk bersikap adil. Yang kedua, istri pertama adalah orang yang menemaninya mulai dari awal pernikahan hingga menikah lagi dengan istri kedua, susah senang sama-sama, dan juga istri pertama telah memberikan buah hati yang disayanginya. Wajarlah jika suami begitu menghargai istri pertama dengan memberikan nafkah batin yang masih menjadi haknya.

Seperti Aisyah r.a yang cemburu terhadap Khadijah r.a, sebab Rasulullah saw selalu menyebut-nyebut namanya. Tidak hanya karena telah memberi Rasulullah saw buah hati, tetapi juga karena kontribusinya pada awal mula kenabian Muhammad saw. Lagi, senang susah sama-sama.


Kutipan 2
"Pernahkah mereka berfikir, bahwa kami sebagai istri ke-2 pun tidaklah mudah. Bahkan pada kenyataanya, permasalahan yang ada dan harus dihadapi adalah lebih kompleks mengarah pada istri ke-2.. (Dalam konteks, poligami bukan karena perselingkuhan)Kami sebagai istri ke-2 yang diminta secara terhormat oleh suami kita sekarang ini, menadah permasalahan yang jauh lebih kompleks dari pada permasalahan yang dihadapi istri pertama."

Saya memang tidak tahu rasanya dipoligami, dan tidak berniat untuk merasakannya. Namun jika saya perhatikan, permasalahan istri pertama dan kedua mempunyai kompleksitas yang sama. Jika istri kedua merasa tidak mudah, begitu pula dengan istri pertama. Istri pertama juga sangat sulit menerima, bahkan hingga mengizinkan suaminya berpoligami. 

Setiap manusia punya ujiannya masing-masing, seperti istri pertama dan kedua. Ujian akan dimulai dari titik terlemah kita. 

Betapa rumitnya poligami bagi seorang wanita karena melibatkan fitrahnya, yaitu lebih condong terhadap perasaan dibanding logika. Saya pernah menulis, dari satu kali hubungan intim saja, otak wanita akan membentuk ikatan emosional pada sistem limbik dalam (salah satu bagian dari otak). Sehingga membuat wanita merasa mempunyai ikatan terhadap pasangannya.

Boleh dibilang hal-hal yang dialami oleh istri pertama dan istri kedua pada kasus Curahan Hati Istri Kedua adalah bentuk dari resiko yang harus dialami istri pertama yang telah mengizinkan suaminya berpoligami, juga istri kedua yang telah bersedia menjadi madu-nya istri pertama.

Sekali lagi, tulisan ini hanyalah opini yang saya ambil berdasarkan isi dari blog tersebut tanpa mempertimbangkan masalah yang sebenarnya terjadi dan yang tidak dituliskan. Terlepas apakah blog tersebut memang kisah nyata atau bukan.


Allahu a'lam






Tuesday, March 15, 2016

Memang...

Dulu itu, sebelum menikah, saya punya teori untuk suami bahwa pernyataan sayang itu tidak perlu sering diucapkan. Alasannya, agar saat suami mengatakan rasa sayang, timbul sesuatu yang lebih berkesan.

Saya dan beberapa akhwat lainnya saling bercerita, kami, wanita, sangat lemah dengan pernyataan sayang dari laki-laki. Rasanya hati langsung luluh, bahkan meredakan emosi jika sedang kesal. Pun oleh sebab itu, kiranya laki-laki perlu memperhatikan untuk tidak mengungkapkan rasa sayang semena-mena.

Cara menjaga keharmonisan rumah tangga agaknya berbeda pada setiap pasangan. Lagi, jika saya baca di forum-forum, ungkapan sayang atau cinta ternyata sudah menjadi kebutuhan batin bagi seorang istri. Begitu pula dengan pelukan, maupun pujian. 

Setelah menikah, teori saya ternyata amat sangat tidak terbukti. Perilaku sehari-hari malah menunjukkan hal sebaliknya. Ingin selalu mengungkapkan rasa sayang setiap hari.

Memang, apa daya hati kita, jika sudah terjerat cinta....



Thursday, March 10, 2016

Curhatan Istri Kedua

Rasanya seperti sudah setengah abad saya tidak menulis blog. Menyambung persoalan yang ditulis sebelumnya, masih seputar hidup berumah tangga, namun dengan kisah yang tidak sama.

Entah apa yang merasuki saya, saya jadi browsing mengenai poligami. Lalu saya menemukan blog curahatan istri kedua. Di blog itu tertulis bagaimana perasaan si penulis yang menjadi istri kedua selama tiga tahun. Setelah selama itu, istri pertamanya mencabut izin bagi suaminya untuk berpoligami. Disebutkan pula bahwa istri pertama menjadi lebih tempramental dan berani berbicara dengan kasar.

Posisinya sebagai istri kedua ternyata juga tidak menyenangkan. Ia dijauhi oleh keluarganya dan dilabeli perusak rumah tangga atau perampas suami orang. Merasa harus lebih banyak memaklumi, yang membuat hatinya terlihat sangat terluka.

Katanya, wanita sulit dimengerti, kalau laki-laki? Menurut saya sulit dimengerti juga dalam hal poligami. Kadangkala kita dibingungkan oleh suami yang menceraikan istrinya yang cantik jelita nan rupawan bak bidadari turun ke bumi. Pun juga dengan suami yang berselingkuh, padahal sudah dikaruniai buah hati. Masih amat cinta terhadap mantan pacarnya, salah satu alasannya. See? Dampak pacaran bisa membawa kita ke dalam masalah yang lebih jauh ya?

Pada akhirnya, kata-kata Rasulullah saw selalu terbukti, "... lebih baik pilih karena agamanya."

Lalu bagaimana dengan poligami? Diperbolehkan oleh Allah, dilakukan oleh Rasulullah.

Tapi, dimadu itu sulit. Rumit-kan perasaan wanita?

Tidak sedikit yang menerima suaminya dipoligami karena kasihan dengan anak. Kalau diperhatikan, yang membuat istri pertama jauh lebih sakit hati adalah poligami yang diawali dengan perselingkuhan, kedua, poligami yang dilakukan secara diam-diam. Di forum-forum banyak istri kedua yang dinikahi tanpa sepengetahuan istri pertama. Ketika istri kedua bercerita mengenai kehamilannya, dan rasa cemburu, kebanyakan wanita berkata, "... sudah resiko menikahi suami orang."

Awalnya menikah karena cinta, setelah dipoligami berusaha amat sangat untuk ikhlas, kemudian rasa sakitnya membiarkan suaminya akan mendapat balasan yang berat jika tidak mampu adil.

Tuesday, February 9, 2016

Suami Orang

Permasalahan hidup rumah tangga sebetulnya simple kalau kita bisa saling berkomunikasi dengan baik. Itu yang coba saya dan Abi lakukan, sama-sama saling mendengarkan, memahami, dan terbuka. Semuanya memerlukan proses. Tidak setiap hari tertawa, ada juga rasa kesal, sebal, marah, sedih!

Bukan saya sedang berselingkuh dengan suami orang. Tapi memang saya sedang sebal dengan suami orang itu. Pasangan ini menikah lebih dulu daripada saya. Awalnya istrinya tidak suka cerita masalah rumah tangganya, namun akhir-akhir ini dia cerita. Dari situ saya tahu kenapa istrinya selalu membalas WA saya dalam waktu yang cukup lama.

Secara dzahir dari cerita istrinya, saya mengira bahwa sebetulnya pasangan ini komunikasinya buruk. Kedua, saya jadi suudzon suaminya marah dengan saya, dia mengatakan, "Terima kasih nasihatnya, sekali lg ngomongin saya akan saya ceraikan." Lah??? Padahal istrinya sudah lama tidak cerita, dan saya lagi nawarin Gandum Goreng. Yang bikin saya suudzon adalah dia ini instropeksi ga kenapa istrinya sampai cerita masalah rumah tangganya ke orang lain?? Istrinya merasa tidak didengarkan, tidak dipahami, sehingga ragu untuk lebih terbuka dengan suaminya. 

Silahkan diambil pelajarannya.

Ini suami orang aneh banget -_-, padahal bukan saya yang memulai, tapi inisiatif istrinya yang cerita sendiri ke saya.


Sunday, January 17, 2016

Kesayanganku Kecintaanku Suamiku

Dok. Pribadi
Bukan puisi, bukan pula kiasan, maupun hiberpola...
Hanya kata-kata dari hati yang disusun perlahan untuk dituliskan.

Dia selalu baik dan mendengarkan. Selalu menjaga dan menenangkan.
Selalu menegarkan dan memberikan kehangatan.

Dia selalu mengalah dan berbijaksana. Selalu menghapus air mata dan memberikan senyuman.
Selalu memberikan dukungan dan membuatku menantikan.

Kesayanganku... kecintaanku... suamiku, bersamamu merajut sulam ketentraman...


Wednesday, January 13, 2016

Penasaran

Saya bukan menyukai pembunuh. Tapi saya memang penasaran pada banyak kasus pembunuhan dan motif dibalik pembunuhan itu. 

Dua kasus yang saya penasaran banget itu adalah kasus pembunuhan di mobil BMW, dan akseyna. Soalnya belum terungkap sampai sekarang. Kok, kayaknya pembunuhannya itu rapi. Saya ga tahu sih apa itu karena pembunuhnya yang pinter atau secara kebetulan pembunuhnya tidak sengaja menyamarkan bukti yang ada.

Kalau suka baca Detektif Conan, kasus pembunuhan di mobil BMW hampir miriplah jenisnya. Mayatnya ada di dalam mobil BMW rusak yang letaknya itu dipojok, Kalau bukti sidik jari saja sudah cukup. Mungkin ada sidik jari pelaku yang menempel di mobilnya atau dilakban yang ada di wajah korban. Terus dari pemberitaan yang ada, ga ada bercak darah di mobil dan sekitarnya.

Saya juga pernah nonton kasus pembunuhan yang ada di TV One, saya lupa nama programnya. Ternyata ketika pembunuhnya di wawancarai. Saat membunuh mereka itu seperti kalap, jadi mereka bilangnya, "saya juga ga tahu ko bisa begitu." Mungkin seperti "ga sadar". Tapi orang yang punya hati nurani, pasti bersedih setelah membunuh orang. 

Saya cuma nonton dua kasus, tapi dari kedua pembunuh itu, jawabannya sama waktu ditanya kok bisa membunuh orang.

Hati-hati banget sama yang namanya perasaan berlebihan, baik itu senang, sedih, apalagi marah. Orang yang terlalu sedih, bisa melukai diri sendiri. Orang yang terlalu senang juga bisa kalap. Kalau ga hati-hati rasa empatinya bisa berkurang, dan membanggakan diri. Orang yang sudah sangat marah, bisa melukai orang lain. Makanya saya kalau marah, langsung tutup mulut, jangan ngomong! Soalnya takut kalau kata-kata yang keluar itu menyakiti orang. Dan pasti ada yang bilang saya kekanak-kanakan kalau marah saya ngeblokir whatsapp orang. Itu cara saya buat ga bicara, saya takut keceplosan ngomong yang ga baik, jadi biasanya orangnya saya blokir dulu. Kalau sudah tenang, baru saya unblock.

Kenapa orang mudah banget membunuh orang ya...