Thursday, March 31, 2016

Cara Mengatasi "This Setting is Enforced by Your Administration" pada Google Chrome

Belakangan saya mengalami kejadian tidak menyenangkan saat browsing. Pertama, setelah mengetikkan keyword, search engine berubah menjadi search so-v, yang setahu saya itu merupakan malware. Kedua, setiap mengklik link, selalu ke direct iklan-iklan dan web lain yang tidak berkepentingan.

Ketika saya mencoba untuk mengubah search engine default kembali ke google melalui setting manual Google Chrome, ternyata tidak bisa saya ubah dan terdapat tulisan "This setting is enforced by your administrator". Saya kemudian meng-uninsstall, dan meng-install kembali browsernya, namun masalah tersebut tidak teratasi. 

Alhamdulillah akhirnya hari ini saya mendapatkan informasi melalui youtube, caranya pun cukup mudah.

Pertama cari cmd.exe, klik kanan dan pilih Run As Administrator, kemudian ketikkan kode sebagai berikut, dan jangan sampai salah.

RD /S /Q "%WinDir%\System32\GroupPolicyUsers", tekan enter, dan ketikkan lagi...
RD /S /Q "WinDir%\System32\GroupPolicy", tekan enter, dan ketikkan lagi...
gpupdate /force, tekan enter, dan tunggu beberapa saat hingga muncul bahwa setting telah berhasil dilakukan.

Saya tidak tahu pengaruh huruf besar kecil, maupun spasi dalam kode tersebut, jadi sebaiknya jika ingin berhasil ketikkan kode tersebut sama persis seperti yang sudah saya tuliskan.

Selamat mencoba, dan semoga berhasil ^^

Sunday, March 20, 2016

Curhatan Istri Kedua 2

Jikalau ditanyakan apakah bersedia untuk dipoligami atau tidak, maka jawaban setiap wanita beragam. Meskipun dapat dipastikan, hampir semua wanita tidak ingin dimadu.

Teman saya, Tania, pun mempunyai prinsip tersendiri mengenai poligami. Berikut ini merupakan pendapatnya untuk saat ini, dia belum menikah. Pernikahan bisa saja membuat pendapatnya berubah.

"Kl gw, gw mau jadi yang terakhir. Kl dia milih gw untuk yang pertama ya itu yang terakhir. Kl dia mau poligami ya udah cari aja dl istri pertamanya kl udh mau cari yang terakhir baru cari gw. Itupun kl gw masih ada. Itu tergantung kesepakatan suami istrinya not. Kl mmg pihak pertama nggak keberatan ya silahkan aja. Tapi bagi gw, kesepakatan sebelum nikah buat poligami itu perlu. Sekalipun di tengah jalan ad sesuatu yang mengharuskan *kata org2 yang gw tanya sh gt. G tau mau poligami atau nggak liat sikon kl emng ad sesuatu yang mengharuskan. Bagi gw semua itu tentang rencana. Kl org yang emang udh sepakat nggak mau poligami,   mau nggak punya anak kek,mau istrinya tiba2 cacat ke ya suaminya ttp setia sama janjinya untuk ngurus istrinya smpe istrinya nggak ada. Dan tujuan menikah itu bukan punya anak. Anak itu akibat dari pernikahan yang harus dipertanggung jawabkan. Kata ustd hilman gt, pny anak itu bukan tujuan nikah. Jadi salah kl co nyari ce dengan alasan bisa membimbing anak2 kelak. Cari aja yang akhlaknya baik. Krn belum tentu Allah bakal mengaruniai anak ke keluarga kecil kita. Suka-suka Allah lah. Terus lagi. Satu highligt buat gw, kl emng mau beristri lebih dari satu. Ya harus bnr2 tanggung jawab dan istrinya pun harus mau tanggung jawab sampe akhir. Mnrt gw itu lebih adil. Gw pny cnth, jd ada suami yang beristri 4. Krn dia semakin tua dia nggak mampu lagi untuk mengurus istri2nya akhirnya istri ke 3 dan 4 nya dilepas. Bagi gw, kl dia ngelepas krn laki2nya nggak mampu ya dia dzalim. Kenapa harus beristri 4 kl emng dia secara finansial mampu mending didik laki2 muda yang blm mapan smpe mapan dan bisa nikahin ce itu tp bertanggung jawab smpe akhir (akhir refers to die). Kl laki2 itu melepas krn kasian sm ce nya. Dan ce nya yang pergi, ce nya yang dzalim (dzalim di kalimat ini refers to nggak bertanggung jawab dlm kalimat umum) knp sh dia nggak nggu aja smpe suaminya emng meninggal. Seneng bareng2 knp giliran susah nggak mau bareng2?"

Sedangkan Abi berpendapat, poligami dapat diasumsikan seperti muadzin yang mengumandangkan adzan. Maksudnya, setiap orang bisa saja menjadi muadzin, namun ada yang pantas dan tidak pantas. Kepantasan tersebut misalnya dalam hal suara, dengan memiliki suara yang bagus tentunya akan menarik dan memberikan semangat bagi kaum muslimin untuk segera melaksanakan shalat, bahkan juga mampu menggugah hati orang-orang non-muslim. Pun demikian dengan poligami, ada yang pantas dan tidak pantas. Tentunya akan menjadi kurang pantas bila pelakunya tidak mempunyai landasan ilmu yang cukup. Sehingga pada praktiknya akan berlaku dzalim.

Dari Blog Curahan Hati Istri Kedua saya ingin beropini, tanpa ada maksud untuk memojokkan istri kedua tersebut. Sebab saya hanya sekedar 'meneliti' sebagai pembelajaran.

Kutipan 1
"Seiring berjalannya waktu saya merasa ini sangat tidak adil.. Istri 1 yang sangat kasar jika bicara tentangku, dan dia pun mengumbar fitnah kepada semua orang yang dia kenal, yang suamiku kenal dan yang aku kenal bahwa suami berselingkuh denganku.. Melakukan zina.. Dikhianati.. Dan lain sebagainya.. Namun suamiku masih memberinya kasih sayang dan nafkah lahir bathin kepadanya..
Nafkah lahir yang berupa materi saya masih mendukung suami untuk melakukan itu.. Namun yang saat ini entah tak bisa ku terima adalah nafkah bathin.. Suamiku masih memberikan nafkah bathin (hbungan i***m) untuknya.. Kadang terbesit rasa tidak terima.. Dan bertanya-tanya apakah masih ada cinta di hati suamiku untuk dia.. Yang sudah sekian banyak membuat hidupku dan hidup kami berantakan.."

Menurut saya kenapa suami masih memberikan nafkah batin, tentunya karena beliau berusaha untuk bersikap adil. Yang kedua, istri pertama adalah orang yang menemaninya mulai dari awal pernikahan hingga menikah lagi dengan istri kedua, susah senang sama-sama, dan juga istri pertama telah memberikan buah hati yang disayanginya. Wajarlah jika suami begitu menghargai istri pertama dengan memberikan nafkah batin yang masih menjadi haknya.

Seperti Aisyah r.a yang cemburu terhadap Khadijah r.a, sebab Rasulullah saw selalu menyebut-nyebut namanya. Tidak hanya karena telah memberi Rasulullah saw buah hati, tetapi juga karena kontribusinya pada awal mula kenabian Muhammad saw. Lagi, senang susah sama-sama.


Kutipan 2
"Pernahkah mereka berfikir, bahwa kami sebagai istri ke-2 pun tidaklah mudah. Bahkan pada kenyataanya, permasalahan yang ada dan harus dihadapi adalah lebih kompleks mengarah pada istri ke-2.. (Dalam konteks, poligami bukan karena perselingkuhan)Kami sebagai istri ke-2 yang diminta secara terhormat oleh suami kita sekarang ini, menadah permasalahan yang jauh lebih kompleks dari pada permasalahan yang dihadapi istri pertama."

Saya memang tidak tahu rasanya dipoligami, dan tidak berniat untuk merasakannya. Namun jika saya perhatikan, permasalahan istri pertama dan kedua mempunyai kompleksitas yang sama. Jika istri kedua merasa tidak mudah, begitu pula dengan istri pertama. Istri pertama juga sangat sulit menerima, bahkan hingga mengizinkan suaminya berpoligami. 

Setiap manusia punya ujiannya masing-masing, seperti istri pertama dan kedua. Ujian akan dimulai dari titik terlemah kita. 

Betapa rumitnya poligami bagi seorang wanita karena melibatkan fitrahnya, yaitu lebih condong terhadap perasaan dibanding logika. Saya pernah menulis, dari satu kali hubungan intim saja, otak wanita akan membentuk ikatan emosional pada sistem limbik dalam (salah satu bagian dari otak). Sehingga membuat wanita merasa mempunyai ikatan terhadap pasangannya.

Boleh dibilang hal-hal yang dialami oleh istri pertama dan istri kedua pada kasus Curahan Hati Istri Kedua adalah bentuk dari resiko yang harus dialami istri pertama yang telah mengizinkan suaminya berpoligami, juga istri kedua yang telah bersedia menjadi madu-nya istri pertama.

Sekali lagi, tulisan ini hanyalah opini yang saya ambil berdasarkan isi dari blog tersebut tanpa mempertimbangkan masalah yang sebenarnya terjadi dan yang tidak dituliskan. Terlepas apakah blog tersebut memang kisah nyata atau bukan.


Allahu a'lam






Tuesday, March 15, 2016

Memang...

Dulu itu, sebelum menikah, saya punya teori untuk suami bahwa pernyataan sayang itu tidak perlu sering diucapkan. Alasannya, agar saat suami mengatakan rasa sayang, timbul sesuatu yang lebih berkesan.

Saya dan beberapa akhwat lainnya saling bercerita, kami, wanita, sangat lemah dengan pernyataan sayang dari laki-laki. Rasanya hati langsung luluh, bahkan meredakan emosi jika sedang kesal. Pun oleh sebab itu, kiranya laki-laki perlu memperhatikan untuk tidak mengungkapkan rasa sayang semena-mena.

Cara menjaga keharmonisan rumah tangga agaknya berbeda pada setiap pasangan. Lagi, jika saya baca di forum-forum, ungkapan sayang atau cinta ternyata sudah menjadi kebutuhan batin bagi seorang istri. Begitu pula dengan pelukan, maupun pujian. 

Setelah menikah, teori saya ternyata amat sangat tidak terbukti. Perilaku sehari-hari malah menunjukkan hal sebaliknya. Ingin selalu mengungkapkan rasa sayang setiap hari.

Memang, apa daya hati kita, jika sudah terjerat cinta....



Thursday, March 10, 2016

Curhatan Istri Kedua

Rasanya seperti sudah setengah abad saya tidak menulis blog. Menyambung persoalan yang ditulis sebelumnya, masih seputar hidup berumah tangga, namun dengan kisah yang tidak sama.

Entah apa yang merasuki saya, saya jadi browsing mengenai poligami. Lalu saya menemukan blog curahatan istri kedua. Di blog itu tertulis bagaimana perasaan si penulis yang menjadi istri kedua selama tiga tahun. Setelah selama itu, istri pertamanya mencabut izin bagi suaminya untuk berpoligami. Disebutkan pula bahwa istri pertama menjadi lebih tempramental dan berani berbicara dengan kasar.

Posisinya sebagai istri kedua ternyata juga tidak menyenangkan. Ia dijauhi oleh keluarganya dan dilabeli perusak rumah tangga atau perampas suami orang. Merasa harus lebih banyak memaklumi, yang membuat hatinya terlihat sangat terluka.

Katanya, wanita sulit dimengerti, kalau laki-laki? Menurut saya sulit dimengerti juga dalam hal poligami. Kadangkala kita dibingungkan oleh suami yang menceraikan istrinya yang cantik jelita nan rupawan bak bidadari turun ke bumi. Pun juga dengan suami yang berselingkuh, padahal sudah dikaruniai buah hati. Masih amat cinta terhadap mantan pacarnya, salah satu alasannya. See? Dampak pacaran bisa membawa kita ke dalam masalah yang lebih jauh ya?

Pada akhirnya, kata-kata Rasulullah saw selalu terbukti, "... lebih baik pilih karena agamanya."

Lalu bagaimana dengan poligami? Diperbolehkan oleh Allah, dilakukan oleh Rasulullah.

Tapi, dimadu itu sulit. Rumit-kan perasaan wanita?

Tidak sedikit yang menerima suaminya dipoligami karena kasihan dengan anak. Kalau diperhatikan, yang membuat istri pertama jauh lebih sakit hati adalah poligami yang diawali dengan perselingkuhan, kedua, poligami yang dilakukan secara diam-diam. Di forum-forum banyak istri kedua yang dinikahi tanpa sepengetahuan istri pertama. Ketika istri kedua bercerita mengenai kehamilannya, dan rasa cemburu, kebanyakan wanita berkata, "... sudah resiko menikahi suami orang."

Awalnya menikah karena cinta, setelah dipoligami berusaha amat sangat untuk ikhlas, kemudian rasa sakitnya membiarkan suaminya akan mendapat balasan yang berat jika tidak mampu adil.