Thursday, March 10, 2016

Curhatan Istri Kedua

Rasanya seperti sudah setengah abad saya tidak menulis blog. Menyambung persoalan yang ditulis sebelumnya, masih seputar hidup berumah tangga, namun dengan kisah yang tidak sama.

Entah apa yang merasuki saya, saya jadi browsing mengenai poligami. Lalu saya menemukan blog curahatan istri kedua. Di blog itu tertulis bagaimana perasaan si penulis yang menjadi istri kedua selama tiga tahun. Setelah selama itu, istri pertamanya mencabut izin bagi suaminya untuk berpoligami. Disebutkan pula bahwa istri pertama menjadi lebih tempramental dan berani berbicara dengan kasar.

Posisinya sebagai istri kedua ternyata juga tidak menyenangkan. Ia dijauhi oleh keluarganya dan dilabeli perusak rumah tangga atau perampas suami orang. Merasa harus lebih banyak memaklumi, yang membuat hatinya terlihat sangat terluka.

Katanya, wanita sulit dimengerti, kalau laki-laki? Menurut saya sulit dimengerti juga dalam hal poligami. Kadangkala kita dibingungkan oleh suami yang menceraikan istrinya yang cantik jelita nan rupawan bak bidadari turun ke bumi. Pun juga dengan suami yang berselingkuh, padahal sudah dikaruniai buah hati. Masih amat cinta terhadap mantan pacarnya, salah satu alasannya. See? Dampak pacaran bisa membawa kita ke dalam masalah yang lebih jauh ya?

Pada akhirnya, kata-kata Rasulullah saw selalu terbukti, "... lebih baik pilih karena agamanya."

Lalu bagaimana dengan poligami? Diperbolehkan oleh Allah, dilakukan oleh Rasulullah.

Tapi, dimadu itu sulit. Rumit-kan perasaan wanita?

Tidak sedikit yang menerima suaminya dipoligami karena kasihan dengan anak. Kalau diperhatikan, yang membuat istri pertama jauh lebih sakit hati adalah poligami yang diawali dengan perselingkuhan, kedua, poligami yang dilakukan secara diam-diam. Di forum-forum banyak istri kedua yang dinikahi tanpa sepengetahuan istri pertama. Ketika istri kedua bercerita mengenai kehamilannya, dan rasa cemburu, kebanyakan wanita berkata, "... sudah resiko menikahi suami orang."

Awalnya menikah karena cinta, setelah dipoligami berusaha amat sangat untuk ikhlas, kemudian rasa sakitnya membiarkan suaminya akan mendapat balasan yang berat jika tidak mampu adil.

No comments:

Post a Comment