Harap-harap cemas, terkadang, terkadang lagi sedang waras, Allah pasti memberi yang terbaik, segala sesuatunya.
Rabbi habli minnashalihin....
Sedang banyak-banyaknya diberi kesempatan untuk belajar apa yang saya sukai. Ada desain grafis, mengutak-atik komputer, selintas ingin lagi baca-baca astronomi, menonton ulang film dokumenter Neil De Greasse Tyson, Cosmos: A Spacetime Oddesy, sungguh menyenangkan. Membaca beberapa buku sebagai hiburan sekaligus menambah kosa kata baru.
Itulah isi waktu luang saya, sembari menunggu datangnya amanah, anak yang solih/solihah.
Jika dikata berat, sesungguhnya jika orang-orang seperti kami sedang down, maka yang terberat adalah menghadapi pertanyaan para kerabat, "... Sudah isi belum ?"
Jika ditanya apakah kami butuh empati, maka kami akan menjawab butuh. Bukan karena iri atau dengki terhadap orang lain. Tapi, sejatinya akan indah jika perasaan kami terjaga, dalam rangka mendukung kami untuk selalu bersemangat dan yakin akan segala ketetapan Illahi.
Menangislah saya dalam shalat, meminta dikuatkan untuk menghadapi pertanyaan mainstream itu. Lalu saya teringat doa saya yang telah lalu, lama sekali...
"Ya Allah, bantulah aku dalam membentuk keluarga Qur'ani..."
Ternyata baru saya sadari bahwa saya tidak punya bekal untuk membentuk keluarga Qur'ani. Bagaimana mungkin saya mengajarkan anak-anak tentang Al-Qur'an, jika saya sendiri tidak memahaminya, tidak menghafalnya, dan tidak menjaga hafalannya.
Astagfirullah, sungguh hamba lupa...
Semoga ini menjadi kesadaran bagi saya, untuk mengisi kembali waktu luang yang ada dengan menghafal kembali Al-Qur'an.
Allah memang punya cara terbaik untuk mewujudkan doa hamba-Nya.