Wednesday, August 26, 2015

Seller, Buyer, or JNE

Astagfirullah, memang yang namanya usaha tidak selalu berjalan mulus. Ada saja cobaannya.

Kasus pertama yang saya alami adalah pihak pembeli menggunakan nama yang tidak jelas. Setelah saya konfirmasi kenapa barang yang saya kirim belum sampai ke buyer, pihak JNE mengatakan bahwa terdapat kendala saat pengiriman, yaitu buyer tidak dikenal. Oh my god! Akhirnya sayalah yang harus tetap berepot-repot ria untuk menghubungi JNE kesana kemari. No. Hp buyer sudah tercantum, kenapa tidak dihubungi ketika kesulitan mencari alamat, begitu pikir saya. 

Pada kasus pertama saya mengirim barang ke luar kota, Sidoarjo, Jawa Timur. Sedangkan pada kasus kedua saya mengirimkan barang menuju Tanah Abang, Jakarta pusat. Ternyata barangnya belulm sampai juga, hingga saya harus komplain lagi ke JNE, Berdasarkan informasi tracking, tertulis "TUTUP" On Process", waduh! Dan buyer tidak mencantumkan no hp asli malah sepertinya dia mengarang nomor tersebut bahkan panjangnya hingga 15 angka.

Ini salah siapa? Saya cukup kesal sebetulnya. Ewa, emosi jiwa hahahaha.

Saya berusaha mengirimkan barang secepat mungkin, namun saya tidak tahu apa yang terjadi pada pihak ketiga (JNE). Apakah ini bentuk kelalaian atau bagaimana. Sayangnya buyer seperti tidak mau tahu. Coba dari awal mereka memberikan informasi lebih jelas.

Saya juga salah, saya sama sekali tidak terpikirkan untuk bertanya kepada buyer.

Saya harap JNE begerak cepat, banyak bisnis online yang mendapat reputasi buruk, karena sudah mengirim dengan cepat namun JNE tidak bergerak sesuai service yang ditawarkan. Misalkan reguler dengan pengiriman 2-3 hari, namun sampai ke buyer setelah 1 minggu atau bahkan tidak sampai sama sekali.

Saya tidak bermaksud menjelek-jelekan JNE. Ini adalah pelajaran bagi seller, buyer, dan JNE.


Allahu a'lam



Thursday, August 20, 2015

Para Pencari Perhatian

Siapa sih yang tidak suka diperhatikan? Memang ada beberapa orang yang hanya ingin diperhatikan dalam hal-hal tertentu. Perhatian dari orang lain pula yang dirasa oleh kita sebagai saat yang tepat untuk "show up" atau menunjukkan kemampuan.

Adanya perasaan diperhatikan juga menunjukkan secara nyata bahwa kita sedang tidak sendirian. Pun juga ada saat dimana kita merasa sangat butuh diperhatikan, namun kita terlanjur menjudge keadaan dengan ketidakberpihakkan. Sehingga kita merasa "tidak ada yang mau mengerti".

Wajar memang mencari perhatian orang lain. Tapi jika berlebihan, ternyata itu adalah suatu penyakit psikologis. Penyakit ini mampu membuat seseorang menjadi nyaman meskipun harus melukai diri sendiri agar diperhatikan oleh orang lain.

Bahkan sebagian konflik rumah tangga dapat muncul karena kurangnya perhatian. Seperti suami yang berselingkuh karena merasa tidak diperhatikan oleh istri atau sebaliknya. Sikap anak tumbuh menjadi pribadi yang berbeda dari anak lain pun sebab adanya perbedaan kualitas perhatian yang diberikan orang tua.

Begitu penting ya perhatian itu...

Pengaruh media sosial sangat hebat sekali terhadap tumbuh kembang psikologis kita. Tanpa disadari kita meletakkan privasi atau pundi-pundinya ke situs tersebut. Tanpa merasa khawatir akan adanya suatu masalah yang akan muncul. Mungkin pada awalnya kita tidak memperhatikan kaidah-kaidah agama, moral, dan lainnya. Hingga orang lain yang memperhatikan dan merasa bahwa itu kurang ahsan, angkat bicara dan menjabarkan mengenai hukumnya.

Barulah kita menyadari, "Oh ada baiknya tidak memposting foto selfie", "Oh jadi sebaiknya kita tidak meng-upload foto-foto anak kita", dan lain sebagainya. Kenapa kita baru sadar? Mungkin karena kurang memperhatikan atau sudah diperhatikan namun tidak mau memahami, atau sudah paham tapi mencari-cari niat agar itu tidak menjadi suatu dosa. Ketika saudara terdekat terkena musibah, barulah mereka percaya.

Koreksi untuk diri pribadi. Betul, segala sesuatu harus dipikirkan dengan positif. Agar pikiran buruk tidak membuat kita menjadi terpuruk. Kadang karena kebencian atau kecintaan kita mengabaikan sisi positif dan negatif suatu hal. 

Sifat selalu merasa "menjadi korban", agaknya akan memunculkan tingkah laku mencari-cari simpati atau perhatian. Saya berusaha tidak menjudge, tapi, sepertinya, sifat merasa "menjadi korban" ini banyak mengadu ke media sosial, untuk tujan apa? kalau boleh saya tanya hahaha.

Ya silahkan saja, saya tidak melarang. Cuma penasaran, efek ini dampaknya mengarah kemana. 

Apakah tidak ada orang terdekat untuk bercerita? Atau itu merupakan suatu bentuk kode? Atau apa saya tidak tahu?

Mungkin saya juga begitu. "Iseng", kata-kata yang sering dijadikan alasan, juga "buat ngerame-ramein timeline" katanya. Menurut KBBI Online, iseng artinya merasa menganggur (tidak ada yang perlu segera dikerjakan". Kelihatannya iseng ini lebih mengarah kesia-siaan, jika isengnya tidak bermanfaat.

Bagaimana jika isengnya adalah mengeluh, merasa bahwa diri ini sedang menjadi orang yang paling menderita di dunia ini hahaha, atau mungkin iseng bentuk yang lain adalah iseng berbangga diri.

Saya pribadi menggolongkan hal seperti ini menjadi salah satu homework yang harus saya kerjakan, yaitu soal self-control. Pengontrolan diri, saya butuh perhatian siapa, siapa orang yang butuh perhatian saya, apa yang perlu saya posting dan tidak. Juga, saya memang menganggap hal-hal yang berkaitan dengan keluarga, hubungan pribadi lebih cenderung ke arah privasi. Sehingga saya lebih suka mempostingnya di blog yang kemungkinan pembacanya lebih sedikit ketimbang media sosial seperti Facebook. Sebab cukup banyak yang harus saya tulis. Pun jika saya mengeluh, saya berharap turut menyertakan hikmah, agar keluhan saya tidak berujung sia-sia, agar orang lain dapat mengambil manfaatnya.


Allahu a'lam



Sunday, August 9, 2015

Salah Fokus

Bismillahirrahmanirrahim,

Salah fokus. Judul ini diambil dari salah satu tema Mario Teguh Golden Ways (MTGW). Dan kiranya, tanpa disadari kita telah cukup banyak terlalu fokus pada hal yang tidak perlu. Sehingga, baik apa yang kita perhatikan, ucapkan, dan lakukan adalah hal yang sejatinya tidak perlu dikerjakan. Seperti terlalu fokus terhadap gosip-gosip selebriti, lebih banyak fokus untuk gagal ketimbang sukses, fokus terhadap kesedihan, dan fokus kepada orang-orang yang tidak perlu diperjuangkan.

Fokus diperlukan untuk menjadi ahli. Seringkali yang membuat saya terhambat adalah sebab terlalu besarnya keinginan untuk mengusai semua ilmu. Saya merasa harus bisa dalam segala hal karena tidak semua orang mau dimintai tolong atau mau menolong. Beberapa hal yang ingin saya gapai adalah mahir dalam science, menulis, desain grafis, agama, dan bahasa. Namun, membagi waktu untuk kelima hal tersebut sangatlah sulit.

Manager saya pernah bercerita tentang temannya. Beliau memang sudah sejak dini membentuk kecerdasaan anak dengan program pendidikan yang baik. Misalnya saja, diawal memasukkan anak ke sekolah islam, kemudian ke sekolah umum, lalu sekolah tahfidz, setelah itu kuliah di tempat umum. Dari perencanaan tersebut memang kita membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bagaimana mengarahkan keinginan anak itu sendiri. Karena terkadang, ada anak-anak yang keinginannya tidak sejajar dengan keinginan orang tua, saya adalah salah satu contohnya.

Salah satu cita-cita saya mungkin membentuk generasi Alquran yang memahami ilmu pengetahuan, seperti ulama-ulama terdahulu. Keren ya~ hahaha

Homework buat orang tua, kualitas kita menentukan kualitas anak nanti. Fokus terhadap tujuan hidup yang utama, fokus pada kewajiban, bukan hanya sekedar menuntut hak.

Fokus, Fokus, dan Fokus.

Wednesday, August 5, 2015

Belajar Mengalah

Bukan hal yang menyenangkan sebetulnya menulis dengan penuh emosi, apalagi emosi marah. Saya sedang emosi saat ini, mungkin sebagian orang menganggapnya sepele.
Adik kelas saya di Smakbo bilang, terkadang saya terlalu berlebihan menanggapi sesuatu. Ya, kenapa? karena saya punya prinsip yang saya usahakan betul untuk tidak saya langgar. Coba lihat orang bercadar, sebagian orang akan menganggap itu adalah hal yang berlebihan. Namun menurut para pemakai cadar itu adalah bagian dari prinsip. Katanya saya ga boleh meng-generalisir bahwa semua laki-laki itu sama, harusnya adik kelas saya ini juga berpikir begitu, tidak semua orang punya prinsip yang sama seperti dia. Maaf saya jadi ngomongin adik kelas saya hahahaha

Sangat singkat, namun dua tahun selama saya kuliah adalah waktu saya benar-benar fokus, dibandingkan dengan kehidupan saya di masa lalu. Saya belajar banyak sekali baik itu soal ilmu pengetahuan maupun adab. Karena saya tahu betul betapa buruknya sifat saya. Dan sangat terasa sekali, bahwa orang terdekat kita akan mempengaruhi kita dalam bersikap, terutama dalam menyelesaikan persoalan dan menyikapi kejadian-kejadian yang tidak diinginkan.

Saya memang emosi, tapi sangat rugi kalau saya yang sedang merugi ini tidak mampu mengambil hikmah dari suatu persoalan. Kita perlu mengalah, hanya demi menjaga hubungan baik. Kadang ego kita besar karena tidak memahami keadaan orang lain. Pada intinya semua orang ingin keinginannya dituruti. Tinggal bagaimana kita pandai-pandai mengelola ego pribadi.

Dulu pernah ada ustad yang bercerita, dia dinasehati untuk tidak memikirkan berapa nominal yang akan diberikan saat ceramah. Jadi ketika sudah membuat janji untuk ceramah ditempat X lebih dulu, maka dia akan menepati janjinya, meskipun ada tawaran ceramah ditempat Y yang akan dibayar dengan jumlah yang lebih besar.

Betul sekali, tidak semua yang kita inginkan tercapai. Saya harus mencamkan itu baik-baik dan dengan kuat. Ingat lagi inot, tidak semua yang kita inginkan akan tercapai sesuai ekspektasi. Ingat lagi kehendak Allah adalah sekenario yang terbaik. 

Saya punya suatu masalah yang saya pendam bertahun-tahun karena rasa sakit hati yang entah kenapa kok saya sulit sekali menghilangkan itu. Memang semua butuh waktu, tapi itu menjadikan saya seorang wanita pembenci. Dan dampaknya adalah saya tidak pernah merasa damai. Padahal ketenangan hidup merupakan salah satu nikmat yang paling saya inginkan. Hingga akhirnya saya menunda bertahun-tahun untuk berbicara. Sampai suatu waktu Allah menghendaki saya untuk berbicara, mungkin ini saat yang tepat. Ternyata dengan saling jujur dan komunikasi yang baik, masalah itu dapat selesai dalam waktu satu hari bahkan tidak lebih dari dua jam. Lagi, Allah memberikan pelajaran berharga bagi saya.

Semua masalah itu adalah ego pribadi yang ingin menang, semuanya soal itu kalau dipikir-pikir. Kita menghendaki orang lain berbuat sesuai keinginan kita. Padahal itu belum tentu sesuai dengan keinginan orang lain. Kita tidak akan pernah bisa menyenangkan semua orang. Kadang ada juga orang yang tidak sadar bahwa dia telah berlaku egois. Selalu marah jika keinginannya tidak dipenuhi orang lain.

Ini mungkin karena kurang dekatnya kita dengan Allah. Pernah saya merasa dekat dengan Allah. Saat itu tidak ada kesedihan sama sekali. Saya bersemangat menjalani hidup dan berangkat kerja ke kantor. Mudah sekali memilah mana yang harus kita kerjakan mana yang tidak. Emosi menjadi stabil sekali. Tidak peduli apa yang terjadi, itu nampak seperti kesejukan peristiwa saja.

Saya punya teman seangkatan Smakbo, seorang akhwat, cantik sekali. Saya belajar makan dengan tiga jari dari dia, saya juga belajar dari dia soal adab. Dia ini akhwat yang hidupanya nampak seperti tidak pernah diuji oleh Tuhan. Karena memang dia tidak menganggap suatu masalah adalah masalah. Dan caranya itu mendamaikan hidupnya. Tenang sekali orangnya, paniknya dia, tergesa-gesanya, kejadian yang tidak sesuai harapan, tidak membuat dia marah. Sabar dan selalu bersyukur memang.

Saya juga punya kakak kelas di Smakbo, seorang akhwat. Yang nampak sekali kecintaannya pada Allah. Galaunya dia ketika merasa jauh dari Tuhannya. Cara dia menghadapi masalah, selalu kembali kepada Tuhannya. "Hanya untuk Allah" itulah yang terucap, dan selalu dia buktikan.

Susahnya belajar mengalah dan berjiwa besar. Semoga kita semua mampu ya. Adab kita yang baik, akan membentuk ukhuwah yang baik.

Allahu a'lam

Tuesday, August 4, 2015

Yang Dilakukan Setelah Menikah Dan Punya Anak (Awas Mengandung Humor!)

Sangat bahagia, mungkin itulah yang dirasakan oleh manusia-manusia yang sudah menikah dan berhasil bereproduksi hahahah

Berikut ini saya rangkum kegiatan yang nampak didunia maya setelah orang menikah dan punya anak.

Setelah menikah:
1. Upload foto pernikahan di facebook
2. Merasa bersyukur kepada Allah karena telah diberikan suami/istri seperti suami/istrinya
3. Saling mention-mention tips menjadi suami/istri yang baik
4. Upload foto-foto honeymoon
5. Gonta ganti profile facebook

Setelah punya anak:
1. Memberi pengumuman bahwa anaknya telah lahir
2. Upload foto anak yang lucu-lucu
3. Semua perkembangan anak di update di facebook
4. Lebih banyak upload foto anak dibandingkan foto suaminya
5. Upload foto sekeluarga (suami, istri, dan anak) sebagai keluarga bahagia
6. Share tips merawat anak

Sekian rangkuman dari saya, hahahahaha