Wednesday, August 5, 2015

Belajar Mengalah

Bukan hal yang menyenangkan sebetulnya menulis dengan penuh emosi, apalagi emosi marah. Saya sedang emosi saat ini, mungkin sebagian orang menganggapnya sepele.
Adik kelas saya di Smakbo bilang, terkadang saya terlalu berlebihan menanggapi sesuatu. Ya, kenapa? karena saya punya prinsip yang saya usahakan betul untuk tidak saya langgar. Coba lihat orang bercadar, sebagian orang akan menganggap itu adalah hal yang berlebihan. Namun menurut para pemakai cadar itu adalah bagian dari prinsip. Katanya saya ga boleh meng-generalisir bahwa semua laki-laki itu sama, harusnya adik kelas saya ini juga berpikir begitu, tidak semua orang punya prinsip yang sama seperti dia. Maaf saya jadi ngomongin adik kelas saya hahahaha

Sangat singkat, namun dua tahun selama saya kuliah adalah waktu saya benar-benar fokus, dibandingkan dengan kehidupan saya di masa lalu. Saya belajar banyak sekali baik itu soal ilmu pengetahuan maupun adab. Karena saya tahu betul betapa buruknya sifat saya. Dan sangat terasa sekali, bahwa orang terdekat kita akan mempengaruhi kita dalam bersikap, terutama dalam menyelesaikan persoalan dan menyikapi kejadian-kejadian yang tidak diinginkan.

Saya memang emosi, tapi sangat rugi kalau saya yang sedang merugi ini tidak mampu mengambil hikmah dari suatu persoalan. Kita perlu mengalah, hanya demi menjaga hubungan baik. Kadang ego kita besar karena tidak memahami keadaan orang lain. Pada intinya semua orang ingin keinginannya dituruti. Tinggal bagaimana kita pandai-pandai mengelola ego pribadi.

Dulu pernah ada ustad yang bercerita, dia dinasehati untuk tidak memikirkan berapa nominal yang akan diberikan saat ceramah. Jadi ketika sudah membuat janji untuk ceramah ditempat X lebih dulu, maka dia akan menepati janjinya, meskipun ada tawaran ceramah ditempat Y yang akan dibayar dengan jumlah yang lebih besar.

Betul sekali, tidak semua yang kita inginkan tercapai. Saya harus mencamkan itu baik-baik dan dengan kuat. Ingat lagi inot, tidak semua yang kita inginkan akan tercapai sesuai ekspektasi. Ingat lagi kehendak Allah adalah sekenario yang terbaik. 

Saya punya suatu masalah yang saya pendam bertahun-tahun karena rasa sakit hati yang entah kenapa kok saya sulit sekali menghilangkan itu. Memang semua butuh waktu, tapi itu menjadikan saya seorang wanita pembenci. Dan dampaknya adalah saya tidak pernah merasa damai. Padahal ketenangan hidup merupakan salah satu nikmat yang paling saya inginkan. Hingga akhirnya saya menunda bertahun-tahun untuk berbicara. Sampai suatu waktu Allah menghendaki saya untuk berbicara, mungkin ini saat yang tepat. Ternyata dengan saling jujur dan komunikasi yang baik, masalah itu dapat selesai dalam waktu satu hari bahkan tidak lebih dari dua jam. Lagi, Allah memberikan pelajaran berharga bagi saya.

Semua masalah itu adalah ego pribadi yang ingin menang, semuanya soal itu kalau dipikir-pikir. Kita menghendaki orang lain berbuat sesuai keinginan kita. Padahal itu belum tentu sesuai dengan keinginan orang lain. Kita tidak akan pernah bisa menyenangkan semua orang. Kadang ada juga orang yang tidak sadar bahwa dia telah berlaku egois. Selalu marah jika keinginannya tidak dipenuhi orang lain.

Ini mungkin karena kurang dekatnya kita dengan Allah. Pernah saya merasa dekat dengan Allah. Saat itu tidak ada kesedihan sama sekali. Saya bersemangat menjalani hidup dan berangkat kerja ke kantor. Mudah sekali memilah mana yang harus kita kerjakan mana yang tidak. Emosi menjadi stabil sekali. Tidak peduli apa yang terjadi, itu nampak seperti kesejukan peristiwa saja.

Saya punya teman seangkatan Smakbo, seorang akhwat, cantik sekali. Saya belajar makan dengan tiga jari dari dia, saya juga belajar dari dia soal adab. Dia ini akhwat yang hidupanya nampak seperti tidak pernah diuji oleh Tuhan. Karena memang dia tidak menganggap suatu masalah adalah masalah. Dan caranya itu mendamaikan hidupnya. Tenang sekali orangnya, paniknya dia, tergesa-gesanya, kejadian yang tidak sesuai harapan, tidak membuat dia marah. Sabar dan selalu bersyukur memang.

Saya juga punya kakak kelas di Smakbo, seorang akhwat. Yang nampak sekali kecintaannya pada Allah. Galaunya dia ketika merasa jauh dari Tuhannya. Cara dia menghadapi masalah, selalu kembali kepada Tuhannya. "Hanya untuk Allah" itulah yang terucap, dan selalu dia buktikan.

Susahnya belajar mengalah dan berjiwa besar. Semoga kita semua mampu ya. Adab kita yang baik, akan membentuk ukhuwah yang baik.

Allahu a'lam

No comments:

Post a Comment