Thursday, November 20, 2014

The Hunger Games: Mockingjay Part 1


The Courage of One Will Change The World

Film yang diangkat dari novel Suzanne Collins ini dimulai dari tahun 2012, The Hunger Games, dilanjutkan dengan The Hunger Games: Catching Fire di tahun 2013, dan yang terbaru, yaitu pada tahun 2014 adalah Mockingjay. 

Rating IMDb tidak terlalu tinggi, hanya berkisar di angka 7. Dibintangi oleh Jennifer Lawrence sebagai Katniss Everdeen, Josh Hutcherson sebagai Peeta Mellark, Liam Hemsworth sebagai Gale Hawthorne, Philip Seymour Hoffman sebagai Plutarch Heavensbee, dan karakter yang baru muncul di film ketiga ini, diantaranya adalah Julianne Moore sebagai Presiden Alma Coin. 

Akting yang sangat baik dari Jennifer Lawrence terutama untuk adegan-adegan yang bersifat emosional, sinematografi sudah cukup baik, dan diakhiri dengan ending yang cukup tepat, untuk menimbulkan rasa penasaran dalam Mockingjay Part 2. Sangat disayangkan, menurut saya, beberapa artis terlihat terlalu kaku memainkan perannya. 

Film ketiga, dari serial The Hunger Games ini menceritakan Katniss Everdeen yang telah memberikan harapan pada setiap distrik untuk melawan capitol dengan simbol burung Mockingjay. Pada awalnya Katniss menolak menjadi Sang Mockingjay karena kecewa Peeta tidak diselamatkan oleh Heavensbee. Kemudian muncullah tayangan wawancara Peeta dengan Caesar Flickerman di Capitol TV yang ditayangkan di Distrik 13, tempat Katniss berada. Dari tayangan itu Katniss merasa lega karena Peeta masih hidup, namun Peeta terlihat tidak mendukung pemberontakan untuk menentang Capitol. Setelah itu dengan mengajukan dua syarat kepada Presiden Alma Coin, akhirnya Katniss bersedia menjadi Sang Mockingjay dan berjuang bersama distrik lainnya untuk melawan Presiden Snow. 


SPOILER --> Poor Peeta :(


Saturday, November 15, 2014

Guardians of The Galaxy




Wow, salah satu film produksi Marvel, dengan rating IMDb 8.5, yang tidak terlalu "wow". Dibintangi Chris Pratt sebagai Peter Quill, Zoe Saldana sebagai Gamora, Dave Bautista sebagai Drax, Vin Diesel sebagai Groot (voice), dan Bradley Cooper sebagai Rocket (voice).

Film Sci-fi ini mempunyai line story yang terlalu biasa, yaitu sekelompok orang yang berjuang untuk menghentikan penjahat yang akan menghancurkan galaksi. Akting yang dimainkan tidak terlalu bagus, serta beberapa unsur komedi yang tidak begitu menghibur. Tapi kekurangan ini cukup dibantu dengan karakter tambahan seperti Groot. Menurut saya, bahkan adegan yang paling begitu berkesan dalam film ini muncul saat Groot sedang "mengorbankan dirinya".
Untuk film sekelas Marvel, pasti ada unsur konspirasi atau persengkokolan, dan memang tidak akan "diperlihatkan" di awal film. Visual effect tidak perlu diragukan lagi, hanya saja costum design-nya "membosankan", dalam artian tidak jauh berbeda dengan film sci-fi lainnya.
Semoga untuk film berikutnya, plot yang disuguhkan lebih menarik.

Film Guardians of The Galaxy diawali dari seorang anak laki-laki bernama Peter Quill. Saat itu ia masih kecil, dan nampaknya ibunya sedang sekarat karena sakit kanker. Keluarganya berada di dalam ruang kamar di rumah sakit, sedangkan Peter duduk diluar ruangan sambil mendengarkan musik lewat walkman-nya. Ayahnya kemudian memanggil Peter, agar ibunya bisa memberikannya sebuah hadiah. Ibunya berpesan agar Peter membukanya setelah ia meninggal. Tidak lama kemudian ibunya meninggal, Peter menangis. Ia berlari keluar dari rumah sakit. Lalu tiba-tiba sebuah pesawat misterius membawanya pergi untuk meninggalkan bumi. Setelah kurang lebih 26 tahun kemudian, ia menjadi seorang penjahat atau pencuri, Ravager. Dari pekerjaannya ini, ia ditakdirkan bertemu dengan seorang wanita berkulit hijau, bernama Gamora. Sejak saat itu konflik dari film ini terus berlanjut.

Bagi penggemar Sc-fi, adventure, atau action, film ini cukup bagus untuk ditonton sebagai hiburan. Namun, mungkin tidak terlalu begitu berkesan, kecuali "I am Groot~"





Wednesday, November 12, 2014

I'm Not Her


Karakter setiap manusia adalah bentuk edisi terbatas dari masing-masing manusia itu sendiri. Namun, manusia yang hidup berkelompok biasanya memiliki kecenderungan karakter yang sama. Pun dengan karakter yang berbeda hubungan antar sesama dapat menjadi sangat baik atau menjadi sangat buruk.

Mencintai diri sendiri, mungkin ini sebabnya. Tapi saya rasa masalah yang lebih umum adalah karena orang itu berpikir bahwa orang lain dapat menjadi sukses dengan jalan yang sama seperti dirinya. Dan itu salah besar.

Konsep mental orang sukses dapat dipelajari, tapi perjalanan hidup seseorang tidak terlepas dari takdir Tuhan. Artinya, pembelajaran mengenai konsep mental orang sukses bisa saja digunakan, namun cara praktis aplikatif belum tentu demikian. Belajar pun tidak hanya dari orang sukses saja. Orang yang berkali-kali gagal menjadi warning bagi kita, hal-hal yang perlu dihindari untuk mengurangi resiko kegagalan.

Umumnya orang akan menganggap hidup adalah persaingan, terutama persaingan antar sesama manusia. But, because I’m different, not like the others. I think, my life is not competition with other people, but with myself.

Saya saat ini dan masa depan, bersaing dengan saya di masa lalu. Semakin baik atau malah semakin buruk. Jadi, jika dia cerdas, apakah saya akan belajar agar kecerdasan saya melampaui dia? Jawabannya tidak. Saya tidak menjadikan orang lain sebagai standar sukses.

Dan teman-teman yang saya perhatikan menjadikan hidupnya adalah sebuah persaingan, terlihat sangat kelelahan, meskipun dia sudah sukses. Pun sesuai fitrahnya kebanyakan orang akan berpikir, sukses adalah banyaknya uang.

So, I don’t give a sh*t to anyone, collecting money to prove that I’m success.

Hargailah perbedaan takdir setiap manusia, baik itu pemikiran, karakter, kecerdasan, dan potensi. Tidak semua yang saya tahu, anda mengetahuinya. Pun sebaliknya tidak semua yang anda tahu, saya mengetahuinya.

Jadi, jangan berlebihan terkaget-kaget, “Hah? Lu ga tahu? Masa sih lu kayak gini aja ga tahu?”

Berhentilah membanding-bandingkan. Oh dear, I’m not her.


Tuesday, November 11, 2014

Interstellar



THE END OF EARTH WILL NOT BE THE END OF US

Interstellar, sebuah film bergenre adventure, sci-fi, dengan rating IMDb 9.1. Film yang disutradarai Christopher Nolan ini dibintangi oleh Matthew McConaughey, Anne Hathaway, Michael Caine, Matt Damon, dan aktor lainnya.

Secara keseluruhan film ini termasuk kategori film yang sangat baik, tidak hanya visual effectnya saja. Berbeda dengan Gravity, Interstellar menyuguhkan science fiction yang begitu kental, plot yang tidak sederhana dengan balutan drama antara ayah dan anak, serta beberapa adegan yang dibumbui komedi.

Sungguh film ini bergaya khas sang sutradara Christopher Nolan, seperti film lainnya, yaitu Inception, The Prestige, Memento, dan Insomnia.

Menceritakan seorang ayah, Cooper (Matthew McConaughey), yang harus rela meninggalkan keluarganya untuk menyelamatkan umat manusia, dengan menjelajah galaksi lain melalui "black hole" yang berada di dekat planet Saturnus. Penelitian awal penjelajahan ini dilakukan oleh NASA, yang dipimpin oleh Prof. Brand. Anak Prof. Brand, Amelia (Anne Hathaway), turut ikut serta dalam eksplorasi tersebut. Cooper awalnya tidak bersedia menjadi pilot untuk mengikuti rencana Prof. Brand. Namun, akhirnya Cooper memutuskan untuk mengikuti rencana itu, meskipun anak perempuannya, Murph, tidak menginginkan ayahnya pergi. Konflik dimulai saat mereka menemukan Dr. Mann (Matt Damon), seorang penjelajah yang telah lebih dulu dikirim ke black hole sepuluh tahun yang lalu dalam Misi Lazarus.

This is one of the best from Nolan, very recommended movie to watch.

Monday, November 10, 2014

Tuhan dan Kepercayaan

Kesesatan dan pemikiran liar, kedua hal ini nampaknya akan menghiasi isi tulisan ini. Sungguh, berhati-hatilah. Nasihat yang baik, silahkan diutarakan dengan baik pula jika ingin menegur saya.

Dunia ini tidak tetiba hadir begitu saja. Proses pembentukan dunia telah menjadi perdebatan, utamanya dikalangan para ilmuan. Teori dasar terbentuknya dunia juga dijelaskan dalam mitologi, seperti mitologi Yunani.

Ilmu pengetahuan yang dibersamai dengan teknologi aplikatif banyak mengubah konsep ilmu sains terdahulu. Teori pembentukan dunia saat ini pun dapat berubah untuk sekian ratus tahun kemudian.

Pembentukan dunia, sejenak dalam benak akan terlintas “Apakah dunia ini muncul begitu saja?” atau “Siapakah pencipta dunia ini?”

Pertanyaan “Siapa” mengacu pada Tuhan, yang dianggap menciptakan segalanya.

Kemudian, hal ini menjadi kompleks apabila kita terlalu memikirkannya. Teori semacam ini saja dapat mengubah pandangan manusia terhadap kepercayaannya kepada Tuhan.

Disebut-sebutlah ada orang yang beragama, yang mempercayai Tuhan, dan orang yang tidak mempercayai Tuhan.

Kebanyakan orang yang tidak mempercayai Tuhan menganggap bahwa sains adalah pembuktian terbaik terhadap segala sesuatu yang terjadi di alam semesta. 

Namun, kami sebagai umat Islam, pemikiran liar seperti ini sangat dibatasi, bahkan kita tidak diperbolehkan untuk memikirkannya semena-mena, menurut kehendak diri.

Dosen saya, Bapak Noviar Dja’var, M.Sc mengatakan pada saya bahwa kunci dalam memahami sanis adalah Alquran. Pun apabila kita sudah memahami Alquran dengan baik maka ilmu pengetahuan akan nampak transparan. Dari penuturan beliau dapat disimpulkan sebetulnya Alquran adalah sains yang paling tinggi.

Bukti ayat-ayat Alquran yang sudah diketahui oleh manusia di alam tidaklah banyak. Keterbatasan manusia atau kemampuannya tidak akan pernah sebanding untuk menandingi sains Alquran secara mutlak benar.

Permasalahannya adalah banyak yang tidak menyadari bahwa Alquran bukanlah hanya kertas-kertas yang bertuliskan firman-firman Tuhan, saya yakin makna yang terkandungnya jauh lebih dalam dari yang kita ketahui saat ini.

Renungkan dalam hati, sesungguhnya kita ini mengenal Tuhan atau tidak.

Belajar lagi, membaca lagi, berguru lagi.

Allahu a'lam

Saturday, November 1, 2014

Kata-kata Teracak

Ini adalah kata-kata acak. Seacak pikiran yang masih belum bisa diajak kompromi untuk menyibukkan diri. Tenggelam ke dalam jutaan penebar inspirasi dan ilmu lain yang belum terselami.

"Ini bisa didiskusikan kok!"
Ya saya tahu. Saya tahu persis. Selalu nasehati jika saya salah.

"Bukan begitu caranya...."
Terima kasih, ini adalah ciri lemah lembutnya hatimu.

"Saya minta maaf..."
Saya ikhlas.

"Saya tidak sanggup."
Jangan goyah.

"Berbahagialah."
Bantulah saya untuk menerima takdir Tuhan.

"Saya mengerti."
Itu baik.

"Memangnya kamu bisa?"
Bersedia direndahkan, mungkin lebih baik dibandingkan betapa sanggupnya saya untuk menjatuhkan, membuat kamu malu, jika Tuhan menghendaki.

"Buat apa beli ini?"
Tidakkah ingin mencoba untuk belajar lebih menghargai?

"Kok begitu sih?"
Mungkin kita tidak tahu persis akar permasalahannya.

"Berpikirlah positif."
Sejernih prasangka.

"Tetaplah hidup."
Ya, jika itu adalah kebaikan.

"Kamu bodoh!"
Ya, itu membuat saya rajin membaca. Terima kasih.

"Kamu pantas mendapatkan yang lebih baik."
Tahu darimana?

"Kamu jauh lebih tegar dan dia lebih rapuh."
Kadang orang tegar adalah orang yang kerapuhan hatinya tidak sesumbar.

"Pergi dari hidup saya!"
Ingin sekali! Tapi, bijakkah?

"Bukan itu yang saya maksud!!"
Kalau demikian, sesuaikanlah cara bicara dengan tingkat kepemahaman orang lain.

"Salah pilih kamu!"
Tapi, ini kehendak Allah, Apa Allah salah juga?

Keteracakkan meningkat seiring waktu. Menghancurkan keseimbangan, menoreh luka, membakar amarah masa, bahkan kebodohan membahana merajalela.

Move On

Hidup tidak pernah berjalan mundur karena waktu yang telah terlewat tidak akan kembali. Meskipun setiap hari jumlah waktu yang ada selalu sama, tidak bertambah dan tidak berkurang.

Jika membicarakan topik seputar kehidupan maka akan muncul visi, misi, dan rencana.

Perencanaan adalah kebutuhan untuk mengurangi resiko yang tidak diinginkan.

Permasalahan yang sering muncul, mungkin, adalah rasa khawatir.

Rasa khawatir terhadap kegagalan akan rencana yang sudah dibuat atau keputusan Tuhan untuk tidak menghendaki keinginan hambaNya.

Rasa khawatir bahwa kita takut tidak bisa menerima takdir-takdir Tuhan.

Mungkin dua hal itu. Tapi saya cenderung merasakan yang kedua.

Percaya, Tuhan tidak menzhalimi hambaNya.
Percaya, Tuhan menyayangi kita.
Percaya, Tuhan ingin kita menjadi lebih baik.
Percaya, Tuhan tidak memberikan sesuatu yang kita tidak mampu untuk menanggungnya.

Berjalan maju, hidup seperti biasa, setidaknya membantu agar kita mengaplikasikan pelajaran di masa lalu, tanpa ikut terkekang, terbebani, atau tersendat untuk melangkah ke depan. Menjejaki rencana hidup dengan iman dan taqwa.