Bertanya kabar pun tak pernah, namun tetiba bertanya, "Sudah hamil belum?" hahaha. Itulah pertanyaan yang selalu ditanyakan kepada para pasangan yang baru menikah. Saya sendiri bingung jawabnya, sebab saya menganggap bahwa kehidupan saya bukanlah konsumsi publik. Tapi setelah ini pasti dicela. Toh, siapa saya? Saya juga butuh doa dari orang lain, maklum, seorang pendosa.
Apa yang dirasakan pasangan muda yang tidak langsung hamil pada umumnya adalah perasaan kesal. Kesal bukan karena iri, dengki, atau bahkan menginginkan nikmat orang lain yang lebih dahulu memiliki anak menjadi hilang. Tapi kesal karena sedih, siapa sih yang tidak mau punya keturunan?
Ada memang, orang-orang yang tidak ingin punya keturunan. Nampaknya hal ini banyak terjadi di daerah barat. Mereka menganggap punya anak merupakan sesuatu yang merepotkan. Sombong ? Bisa jadi, mungkin mereka merasa mampu mengurus diri sendiri saat tua, apalagi panti jompo selalu tersedia. Sejatinya memang bukan karena ingin diurus oleh anak dimasa tua, ada yang lebih dari itu. Yah, tidak dipungkiri ini adalah soal akhirat, para orang tua membutuhkan doa dari anak-anak yang shalih.
Berkaca pada seorang Bunda, Ummi Khanza, itulah nama yang beliau gunakan di sebuah forum. Menunggu selama 16 tahun untuk mempunyai keturunan. Bayangkan pertanyaan, "Sudah hamil belum ?" selalu didengarnya selama 15 tahun. Bukan tidak berusaha, sama sekali bukan. Beliau sudah berobat kesana kemari, ke dokter yang disana dan disini. Tapi, Allah punya rencana lain. Rencana hebat untuk seorang ibu yang hebat. Allah mendidiknya dengan cara-Nya. Ketika sudah sampai puncaknya, bertawakal-lah Ummi Khanza kepada Allah, ya... mungkin belum saatnya. Sungguh, bukankah Allah tidak pernah menyia-nyiakan hamba-Nya? Ya, saat berserah diri itulah dirinya diberi amanah seorang anak, alhamdulillah. Sabarnya, syukurnya, tawakalnya, ikhtiar dan doanya dididik oleh Allah selama 15 tahun. Hanya orang-orang merugilah yang tidak bisa mengambil pelajaran dan nyinyir, "Kok belum hamil?", "Gak bisa buatnya ya?", hehehe
Kalau mau tahu dan penasaran seperti apa sedihnya menunggu diberi amanah keturunan, silahkan berkunjung ke forum-forum ibu hamil.
Seorang akhwat berinisial L. A. berkata bahwa kita harus selalu berhusnudzon kepada orang lain karena apa yang kita lihat, itu asumsi kita, belum tentu keadaannya sesuai dengan apa yang dipikirkan. Mudah-mudahan yang bertanya "Sudah hamil belum?" benar-benar peduli dan ingin mendoakan. Tapi apa iya semuanya begitu ? Hahaha, yah teko hanya mengeluarkan isi teko.
Hmm, ada juga beberapa pasangan yang memang berniat untuk menunda mempunyai keturunan. Misalnya saja teman saya yang berinisial M.U., dia ingin menunda karena ingin merasakan dan menikmati halalnya pacaran setelah menikah. Ketika mengutarakan maksudnya, mertua pun dapat memahami dan memakluminya. Lain hal, salah satu keluarga saya juga ingin menunda karena berencana melanjutkan kuliah di luar negeri.
Masing-masing sudah punya rencana, apa daya, rencana kita pun tidak lebih baik dari rencana Allah. Ketika banyak yang bertanya kepada saya, "Salah ga sih gw kayak gini?", saya selalu menjawab, tidak salah, selama apa yang kita lakukan bukan dalam rangka kemaksiatan.
Mereka yang menunda pun mendapat banyak cibiran. Pun jika dengan melanjutkan studi atau melakukan rencana lainnya menjadikan diri lebih baik, kenapa tidak? Positifnya, mereka akan punya banyak cerita dan ilmu pengetahuan, atau bahkan belajar model parenting yang berbeda untuk diterapkan jika sudah punya anak nanti. Hanya saja, kebanyakan dari kita selalu melihat sisi negatif suatu hal menjadi lebih dominan.
Sebelum menikah, ada tetangga yang menasehati saya, jika sudah lulus kuliah, kerja dulu, senang-senang dahulu, jangan buru-buru nikah. Ternyata yang saya rasa, dengan menikah pun kita juga bisa bersenang-senang lho. Menikah cepat atau lama, cepat punya anak atau lama, semuanya memiliki konsekuensi yang sebetulnya bukanlah hal negatif. Karena memang ada takdir yang bekerja. Mau cepat atau lambat, keduanya mendapatkan ujian dan anugrahnya masing-masing. Sebut saja teman saya yang berinisial M.E., sudah 3 tahun menikah belum dikaruniai anak, namun setiap hari kemampuan menggambarnya semakin baik.
Mudah-mudahan kita semua diberikan pemikiran yang jernih, peka terhadap sesama, baik pula adabnya. Sebab hubungan terhadap orang lain atau ukhuwah, sejatinya lebih penting dari keegoisan diri.
"Sudah hamil belum ?", semoga pertanyaan ini bukan formalitas untuk menyambung pembicaraan.