Saturday, August 27, 2016

Seorang Ibu Pasti Bekerja

Belum juga habis ihwal banding membandingkan antara status seorang ibu, mana yang lebih baik, bekerja atau tidak bekerja di luar rumah ? Tentunya sebab ini banyak muncul karena berbagai faktor. Mulai dari latar belakang pendidikan keluarganya, lingkungan, atau adanya pengaruh-pengaruh pemikiran dari orang lain, dan sebagainya. 

Menurut pandangan seorang teman berinisial M.E.,"Istilah "Ibu Bekerja" dan "Ibu Tidak Bekerja" kan sebetulnya ada baru2 ini aja.  Dulu pas kita kecil kayaknya gak ada masalah mau ibu kerja atau gak. Gimana ya bilangnya. Ya pokoknya gitu. Ibu bekerja tetep disebut ibu, apalagi alasannya kuat yaitu bantu ekonomi keluarga. Yg digarisbawahi adalah jangan sampai karena sibuk kerja kewajiban mendidik anak jadi kelupaan. Ntar kalo gw bilang "asal jangan lupa ngurus rumah", yg punya asisten rumah tangga gak masuk variabel haha."

Sedangkan, seorang anonim yang bekerja sebagai pegawai negeri mengatakan, "Klo gw sih sebenernya karena sayang aja not, kan kerjaan yg ini dptnya stlh bbrp kli ikut tahapan seleksi, panjanglah gtu prosesnya, trus ibu terutama mamah (nenek) juga yg waktu itu nyaranin nyoba ikut dan pas lolos seneng bgt jadinya ga ada kata mundur atau ga jdi gtulah. Dan menurut gw klo ngikutin apa kata org tua itu lbh berkah dan lbh ada hasilnya gtu, tapi itu berlaku selama suami juga ridho dan ngijinin juga ya."

Pertanyaan yang saya tulis di awal tulisan ini, "...mana yang lebih baik, bekerja atau tidak bekerja di luar rumah ?" adalah contoh dari pertanyaan yang salah mengenai ihwal ini. Merupakan adab yang buruk jika kita berpikir bahwa salah satunya lebih baik diantara lainnya. Ibu yang di rumah saja atau bekerja di luar rumah (red: kantor) pasti mempunyai alasan kuat, mengapa memilih satu diantaranya. 

Masing-masing pilihan ada sisi positif dan konsekuensi. Misalnya saja, memang ibu yang tidak bekerja kantoran tidak mempunyai lebih dari satu sumber penghasilan, dan sosialisasi yang lebih banyak dibanding ibu yang bekerja kantoran. Kadang hal seperti ini membuat mereka jadi mengeluh kurangnya penghasilan suami atau kebutuhan hidup sehari-hari. Dan juga, kalau ibu ini tipe yang tidak termotivasi untuk mengembangkan diri, biasanya akan kekurangan informasi dalam berbagai hal, seperti tidak memahami teknologi atau perkembangan zaman lainnya. Ini terjadi pada tetangga saya, sehingga jika ada ibu lain yang mengajaknya bicara, ibu ini banyak tidak mengerti apa yang dibicarakan.

Saya sendiri adalah seorang istri yang memutuskan tidak bekerja kantoran. Keterlambatan informasi berbagai pengetahuan telah saya alami. Setiap orang mempunyai cara tersendiri, kalau saya adalah dengan banyak membaca entah itu dari buku atau browsing melalui internet. Belajar jualan secara online juga banyak membuat saya mengetahui berbagai hal. Mulai dari situs-situs online terpercaya, metode pembelian, cara transfer, trik-trik marketing dan penulisan iklan, serta desain dan paduan warnanya. Jualan secara online juga dapat membantu perekonomian keluarga. Namun, bagi saya tidak hanya sekedar itu. Berdagang bukan hanya soal untung rugi, sebab Allah pasti memberikan rizki, bergantung bagaimana kita menjemputnya, dengan cara yang halal atau haram. Oleh sebab itu banyak fiqih jual beli atau muamalat kontemporer yang perlu dipelajari.

Bagi yang memutuskan untuk bekerja diluar rumah (red: kantor, pabrik, lab dll), hendaknya tujuannya adalah hal yang mulia. Sebab, jika alasannya hanya karena ingin dipandang setara dengan laki-laki untuk bekerja, ini malah menjadi hal yang salah, yaitu salah satu pemikiran para Feminis. Kita tahu bahwa dalam Islam, baik laki-laki maupun perempuan adalah mulia dan setara sesuai fitrahnya.
Salah satu contoh dari konsekuensi yang dialami oleh ibu bekerja dialami oleh tetangga saya, yaitu anaknya menjadi lebih dekat dengan orang lain dibanding ibunya. Ketika waktunya pulang, si anak seringkali menangis tidak mau pulang kerumah ibunya. Ibunya sendiri seringkali bilang, "Aku ini ibumu...," ke anaknya, namun karena masih kecil mungkin si anak belum mengerti maksudnya. Oleh sebab itu mungkin ibu yang ingin bekerja menyiapkan trik-trik agar anak tetap lebih dekat dengan ibunya. Tentunya hal seperti ini tidak bisa disamaratakan. Dan tetap perlu menyadari bahwa tugas seorang ibu adalah tugas yang paling utama.

Sekali lagi yang perlu dihindari adalah ibu yang tidak bekerja merasa lebih baik dari ibu yang bekerja di luar rumah, begitu pula sebaliknya. Keduanya sama-sama berjuang untuk keluarga. Toh, setiap ibu pasti bekerja, entah bekerja dirumah mengerjakan pekerjaan rumah, atau bekerja dikantor.


Allahu a'lam

Monday, August 22, 2016

Sudah Hamil Belum ?

Bertanya kabar pun tak pernah, namun tetiba bertanya, "Sudah hamil belum?" hahaha. Itulah pertanyaan yang selalu ditanyakan kepada para pasangan yang baru menikah. Saya sendiri bingung jawabnya, sebab saya menganggap bahwa kehidupan saya bukanlah konsumsi publik. Tapi setelah ini pasti dicela. Toh, siapa saya? Saya juga butuh doa dari orang lain, maklum, seorang pendosa.

Apa yang dirasakan pasangan muda yang tidak langsung hamil pada umumnya adalah perasaan kesal. Kesal bukan karena iri, dengki, atau bahkan menginginkan nikmat orang lain yang lebih dahulu memiliki anak menjadi hilang. Tapi kesal karena sedih, siapa sih yang tidak mau punya keturunan?

Ada memang, orang-orang yang tidak ingin punya keturunan. Nampaknya hal ini banyak terjadi di daerah barat. Mereka menganggap punya anak merupakan sesuatu yang merepotkan. Sombong ? Bisa jadi, mungkin mereka merasa mampu mengurus diri sendiri saat tua, apalagi panti jompo selalu tersedia. Sejatinya memang bukan karena ingin diurus oleh anak dimasa tua, ada yang lebih dari itu. Yah, tidak dipungkiri ini adalah soal akhirat, para orang tua membutuhkan doa dari anak-anak yang shalih.

Berkaca pada seorang Bunda, Ummi Khanza, itulah nama yang beliau gunakan di sebuah forum. Menunggu selama 16 tahun untuk mempunyai keturunan. Bayangkan pertanyaan, "Sudah hamil belum ?" selalu didengarnya selama 15 tahun. Bukan tidak berusaha, sama sekali bukan. Beliau sudah berobat kesana kemari, ke dokter yang disana dan disini. Tapi, Allah punya rencana lain. Rencana hebat untuk seorang ibu yang hebat. Allah mendidiknya dengan cara-Nya. Ketika sudah sampai puncaknya, bertawakal-lah Ummi Khanza kepada Allah, ya... mungkin belum saatnya. Sungguh, bukankah Allah tidak pernah menyia-nyiakan hamba-Nya? Ya, saat berserah diri itulah dirinya diberi amanah seorang anak, alhamdulillah. Sabarnya, syukurnya, tawakalnya, ikhtiar dan doanya dididik oleh Allah selama 15 tahun. Hanya orang-orang merugilah yang tidak bisa mengambil pelajaran dan nyinyir, "Kok belum hamil?", "Gak bisa buatnya ya?", hehehe
Kalau mau tahu dan penasaran seperti apa sedihnya menunggu diberi amanah keturunan, silahkan berkunjung ke forum-forum ibu hamil.

Seorang akhwat berinisial L. A. berkata bahwa kita harus selalu berhusnudzon kepada orang lain karena apa yang kita lihat, itu asumsi kita, belum tentu keadaannya sesuai dengan apa yang dipikirkan. Mudah-mudahan yang bertanya "Sudah hamil belum?" benar-benar peduli dan ingin mendoakan. Tapi apa iya semuanya begitu ? Hahaha, yah teko hanya mengeluarkan isi teko. 

Hmm, ada juga beberapa pasangan yang memang berniat untuk menunda mempunyai keturunan. Misalnya saja teman saya yang berinisial M.U., dia ingin menunda karena ingin merasakan dan menikmati halalnya pacaran setelah menikah. Ketika mengutarakan maksudnya, mertua pun dapat memahami dan memakluminya. Lain hal, salah satu keluarga saya juga ingin menunda karena berencana melanjutkan kuliah di luar negeri.

Masing-masing sudah punya rencana, apa daya, rencana kita pun tidak lebih baik dari rencana Allah. Ketika banyak yang bertanya kepada saya, "Salah ga sih gw kayak gini?", saya selalu menjawab, tidak salah, selama apa yang kita lakukan bukan dalam rangka kemaksiatan. 

Mereka yang menunda pun mendapat banyak cibiran. Pun jika dengan melanjutkan studi atau melakukan rencana lainnya menjadikan diri lebih baik, kenapa tidak? Positifnya, mereka akan punya banyak cerita dan ilmu pengetahuan, atau bahkan belajar model parenting yang berbeda untuk diterapkan jika sudah punya anak nanti. Hanya saja, kebanyakan dari kita selalu melihat sisi negatif suatu hal menjadi lebih dominan.

Sebelum menikah, ada tetangga yang menasehati saya, jika sudah lulus kuliah, kerja dulu, senang-senang dahulu, jangan buru-buru nikah. Ternyata yang saya rasa, dengan menikah pun kita juga bisa bersenang-senang lho. Menikah cepat atau lama, cepat punya anak atau lama, semuanya memiliki konsekuensi yang sebetulnya bukanlah hal negatif. Karena memang ada takdir yang bekerja. Mau cepat atau lambat, keduanya mendapatkan ujian dan anugrahnya masing-masing. Sebut saja teman saya yang berinisial M.E., sudah 3 tahun menikah belum dikaruniai anak, namun setiap hari kemampuan menggambarnya semakin baik.

Mudah-mudahan kita semua diberikan pemikiran yang jernih, peka terhadap sesama, baik pula adabnya. Sebab hubungan terhadap orang lain atau ukhuwah, sejatinya lebih penting dari keegoisan diri.

"Sudah hamil belum ?", semoga pertanyaan ini bukan formalitas untuk menyambung pembicaraan.

Sunday, August 7, 2016

Perlunya Keceriaan

Belum lama ini seorang kakak kelas bernama, sebut saja Fulan, haha baru saja menikah. Sebenarnya bukan teman dekat, baik saya maupun suami. Hanya saja ikhwan berinisial X, wkwk, mengumpulkan ikhwan-ikhwan (yang mulanya jomblo semua) dalam sebuah grup Whatsapp yang agak kurang jelas fungsinya (sori wkwk).

Tidak dipungkiri bahwa kebahagian setelah menikah tidak bisa ditutupi, oleh sebab itu baik suami atau istri senang sekali berbagi rasa atau pengalaman mereka. Tidak terkecuali saya, sehingga saya menulis di blog ini mengenai The Wedding Guide. Setelah itu saya hanya cerita di blog ini saja tanpa dishare ke media sosial lainnya. Habisnya saya mikir-mikir juga, buat apa hahaha (red: ini berkenaan dengan kondisi psikis, bukan mempermasalahkan boleh tidaknya share di media sosial). Saya banyak cerita waktu awal-awal menikah. Ketika itu belum sadar, bahwa sebenarnya tidak perlu. Sebab jika semua permasalahan/kebahagian/kegelisahan/ diceritakan ke suami akan lebih membantu. Jadi, jiwa pun lebih tenang, dan tidak ada yang ditutup-tutupi. Kadang tergantung juga bagaimana sifat suaminya.

Kemarin baru saja saya dapat cerita, mudah-mudahan bisa menjadi pembelajaran bagi yang membaca. Jadi, pasangan ini sudah lama menikah dan dikaruniai dua orang anak, perempuan dan laki-laki. Keluarga ini mempunyai kondisi finansial dan sosial yang baik. Anak perempuannya pun sudah menikah dengan keluarga yang berfinansial baik pula. Dan, kami atau kebanyakan orang secara dzahir melihatnya sebagai keluarga yang bahagia. Namun, semua itu ternyata tidak sesuai dengan kelihatannya. Hingga sang istri jatuh sakit, dan menangis menceritakan kondisi rumah tangganya. Selama ini dirumahnya tidak ada keceriaan, semua sibuk mengurusi urusannya masing-masing, diam-diam saja, jarang berkomunikasi. Istrinya mengeluhkan, bahwa suaminya mampu bercanda, tertawa bahagia dengan orang lain tetapi tidak dengan dirinya. 

Cerita ini membuat saya dan suami bersyukur. Meskipun tidak sekaya mereka, tapi kami bisa ketawa ketiwi dan menangis bersama-sama. Jangan salah, menangis itu kebahagian lho! Karena bisa meningkatkan empati dan kelembutan hati. Sehingga seiring waktu semakin memahami diri sendiri juga pasangan. Tentunya pernikahan kami yang seumur jagung tidak bisa dibandingkan dengan pernikahan mereka yang sudah puluhan tahun. Namun, semoga kami bisa mempertahankan rumah tangga ini dengan baik.

“Orang yang imannya paling sempurna diantara kaum mukminin adalah orang yang paling bagus akhlaknya di antara mereka, dan sebaik-baik kalian adalah yang terbaik akhlaknya terhadap istri-istrinya” (HR At-Thirmidzi no 1162,Ibnu Majah no 1987 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah no 284)

Jadi, bagi suami yang ingin tahu kualitas dirinya, bertanyalah pada istri sendiri, jangan pada istri orang lain, wkwkwk, testimoni istri menunjukkan akhlak sebenarnya dari seorang laki-laki.

Sepertinya saya juga dulu pernah menulis, kenapa bapak-bapak itu suka jayus (ngelucu tapi ga lucu), termasuk bapak saya sendiri (hahaha, sori pak). Ketika bapaknya teman saya meninggal, dia mengeluhkan bahwa keadaan di rumah menjadi lebih sepi karena itu tadi, tidak ada kejayusan lagi. Usaha-usaha bapak yang jayus ternyata membawa keceriaan sendiri didalam rumah. Oleh sebab itu, jika Anda adalah seorang suami dan jayus, tidak perlu khawatir, pertahankan saja, wkwkwk. Seiring waktu kejayusan itu mungkin akan terlatih menjadi lucu menggelak tawa.

Bagi suami, hadirkanlah keceriaan meskipun jayus, sebab istri pun akan maklum wkwkwk


Copas, Copas, Copas

Copas, alias copy paste. Awalnya nama toko yang saya buat (red: Akira's House) nampak baik-baik saja. Lama-kelamaan, jadi ada yang namanya mirip dan dia teman dekat. Jadi, saya merasa bahwa dia copas nama toko saya. Tidak sama persis, hanya sama diembel-embel bla bla's house-nya.

Kalau bukan orang dekat tentunya saya tidak merasa securiga ini. Karena nama toko saya juga diambil dari orang-orang terdahulu. Akhirnya saya memutuskan untuk mengganti nama toko. Selain itu juga merubah fokus menjadi toko buku saja. Mudah-mudahan kali ini tidak ada yang copas. Insya Allah ide saya original, tapi pastinya dari se-milyar orang yang hidup saat ini, mungkin punya ide yang sama, tapi berjauhan lho.

Thursday, August 4, 2016

Mengaku Sahabat ?

Perasaan mempunyai sahabat kebanyakan bertepuk sebelah tangan, begitulah yang disampaikan oleh teman berinisial M.E.

Lalu bagaimana jika ada seseorang yang mengaku sahabat, padahal kita tidak merasakan hal yang sama ? Jarang berkomunikasi, menanyakan atau memberi kabar, bahkan saling bercerita pun tidak pernah.

Insomnia

Saat sulit untuk tidur, seringkali pikiran ini mengambang, memikirkan imajinasi yang bahkan mungkin tidak akan pernah terjadi. Lalu, khawatir dan merasa cemas.
Bagaimana jika nanti aku tidak mampu menerima kenyataan hidup?

Sulitnya menjadi orang yang belum paham mengenai kebenaran. Kita disibukkan dengan sesuatu yang fana. Dampaknya akan menyulitkan kita dalam memilih, maka tersiratlah bahwa hidup ini bukan putih atau hitam, melainkan abu-abu.

Aku tidak menyukai insomnia. Aku jadi memikirkan banyak hal aneh. Dan mulai menangisi imajinasi sendiri.

Selama aku hidup hingga saat ini banyak perbuatan yang aku sesali. Buruknya sifatku pun belum juga reda. Kurang sabar, begitulah.

Ketika menyadari bahwa semua kehendakNya pasti membawa kebaikan, dengan sendirinya jiwa menjadi tumbuh kuat. Ujiannya adalah orang-orang disekitar kita, yang kadang suka berkata usil, mengomentari ini itu, kehidupan kita yang tidak dia rasakan sendiri. Jikalau memberi nasihat, maka adabnya sungguh kacau. Meskipun baik, akhirnya menjadi sulit untuk diterima.

Aku takut tersesat. Kemudian takut kehilangan orang-orang yang kusayangi. Ini sebuah tanda bahwa aku masih belum memahami hakikat hidup didunia, walaupun rasa takut adalah bentuk kewajaran dari perasaan seorang manusia.

Saat kulihat dirinya sedang tertidur lelap, sedangkan aku masih terjaga, aku sangat bersyukur karena diberi ujian teman hidup yang luar biasa. Mengapa ujian? Karena baik kebahagiaan maupun kesedihan adalah bentuk ujian, syukur tidaknya, atau lalai tidaknya.

Tentunya aku tidak berani melawan dan melangkahi yang sudah berkehendak. Sehingga, aku penuh harap dan doa agar bisa selalu bersamanya, agar kami masuk surga sekeluarga.

Berbuat baiklah terhadap keluarga. Sejelek apapun perbuatan kita, pada akhirnya hanyalah keluarga yang mau menerima, bahkan bersedia membimbing kejahiliyahan kita menuju cahaya.

Aku banyak belajar, sayangnya banyak pula melupakan.