Belum lama ini seorang kakak kelas bernama, sebut saja Fulan, haha baru saja menikah. Sebenarnya bukan teman dekat, baik saya maupun suami. Hanya saja ikhwan berinisial X, wkwk, mengumpulkan ikhwan-ikhwan (yang mulanya jomblo semua) dalam sebuah grup Whatsapp yang agak kurang jelas fungsinya (sori wkwk).
Tidak dipungkiri bahwa kebahagian setelah menikah tidak bisa ditutupi, oleh sebab itu baik suami atau istri senang sekali berbagi rasa atau pengalaman mereka. Tidak terkecuali saya, sehingga saya menulis di blog ini mengenai The Wedding Guide. Setelah itu saya hanya cerita di blog ini saja tanpa dishare ke media sosial lainnya. Habisnya saya mikir-mikir juga, buat apa hahaha (red: ini berkenaan dengan kondisi psikis, bukan mempermasalahkan boleh tidaknya share di media sosial). Saya banyak cerita waktu awal-awal menikah. Ketika itu belum sadar, bahwa sebenarnya tidak perlu. Sebab jika semua permasalahan/kebahagian/kegelisahan/ diceritakan ke suami akan lebih membantu. Jadi, jiwa pun lebih tenang, dan tidak ada yang ditutup-tutupi. Kadang tergantung juga bagaimana sifat suaminya.
Kemarin baru saja saya dapat cerita, mudah-mudahan bisa menjadi pembelajaran bagi yang membaca. Jadi, pasangan ini sudah lama menikah dan dikaruniai dua orang anak, perempuan dan laki-laki. Keluarga ini mempunyai kondisi finansial dan sosial yang baik. Anak perempuannya pun sudah menikah dengan keluarga yang berfinansial baik pula. Dan, kami atau kebanyakan orang secara dzahir melihatnya sebagai keluarga yang bahagia. Namun, semua itu ternyata tidak sesuai dengan kelihatannya. Hingga sang istri jatuh sakit, dan menangis menceritakan kondisi rumah tangganya. Selama ini dirumahnya tidak ada keceriaan, semua sibuk mengurusi urusannya masing-masing, diam-diam saja, jarang berkomunikasi. Istrinya mengeluhkan, bahwa suaminya mampu bercanda, tertawa bahagia dengan orang lain tetapi tidak dengan dirinya.
Cerita ini membuat saya dan suami bersyukur. Meskipun tidak sekaya mereka, tapi kami bisa ketawa ketiwi dan menangis bersama-sama. Jangan salah, menangis itu kebahagian lho! Karena bisa meningkatkan empati dan kelembutan hati. Sehingga seiring waktu semakin memahami diri sendiri juga pasangan. Tentunya pernikahan kami yang seumur jagung tidak bisa dibandingkan dengan pernikahan mereka yang sudah puluhan tahun. Namun, semoga kami bisa mempertahankan rumah tangga ini dengan baik.
“Orang yang imannya paling sempurna diantara kaum mukminin adalah orang yang paling bagus akhlaknya di antara mereka, dan sebaik-baik kalian adalah yang terbaik akhlaknya terhadap istri-istrinya” (HR At-Thirmidzi no 1162,Ibnu Majah no 1987 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah no 284)
Jadi, bagi suami yang ingin tahu kualitas dirinya, bertanyalah pada istri sendiri, jangan pada istri orang lain, wkwkwk, testimoni istri menunjukkan akhlak sebenarnya dari seorang laki-laki.
Sepertinya saya juga dulu pernah menulis, kenapa bapak-bapak itu suka jayus (ngelucu tapi ga lucu), termasuk bapak saya sendiri (hahaha, sori pak). Ketika bapaknya teman saya meninggal, dia mengeluhkan bahwa keadaan di rumah menjadi lebih sepi karena itu tadi, tidak ada kejayusan lagi. Usaha-usaha bapak yang jayus ternyata membawa keceriaan sendiri didalam rumah. Oleh sebab itu, jika Anda adalah seorang suami dan jayus, tidak perlu khawatir, pertahankan saja, wkwkwk. Seiring waktu kejayusan itu mungkin akan terlatih menjadi lucu menggelak tawa.
Bagi suami, hadirkanlah keceriaan meskipun jayus, sebab istri pun akan maklum wkwkwk
No comments:
Post a Comment