Belum juga habis ihwal banding membandingkan antara status seorang ibu, mana yang lebih baik, bekerja atau tidak bekerja di luar rumah ? Tentunya sebab ini banyak muncul karena berbagai faktor. Mulai dari latar belakang pendidikan keluarganya, lingkungan, atau adanya pengaruh-pengaruh pemikiran dari orang lain, dan sebagainya.
Menurut pandangan seorang teman berinisial M.E.,"Istilah "Ibu Bekerja" dan "Ibu Tidak Bekerja" kan sebetulnya ada baru2 ini aja. Dulu pas kita kecil kayaknya gak ada masalah mau ibu kerja atau gak. Gimana ya bilangnya. Ya pokoknya gitu. Ibu bekerja tetep disebut ibu, apalagi alasannya kuat yaitu bantu ekonomi keluarga. Yg digarisbawahi adalah jangan sampai karena sibuk kerja kewajiban mendidik anak jadi kelupaan. Ntar kalo gw bilang "asal jangan lupa ngurus rumah", yg punya asisten rumah tangga gak masuk variabel haha."
Sedangkan, seorang anonim yang bekerja sebagai pegawai negeri mengatakan, "Klo gw sih sebenernya karena sayang aja not, kan kerjaan yg ini dptnya stlh bbrp kli ikut tahapan seleksi, panjanglah gtu prosesnya, trus ibu terutama mamah (nenek) juga yg waktu itu nyaranin nyoba ikut dan pas lolos seneng bgt jadinya ga ada kata mundur atau ga jdi gtulah. Dan menurut gw klo ngikutin apa kata org tua itu lbh berkah dan lbh ada hasilnya gtu, tapi itu berlaku selama suami juga ridho dan ngijinin juga ya."
Pertanyaan yang saya tulis di awal tulisan ini, "...mana yang lebih baik, bekerja atau tidak bekerja di luar rumah ?" adalah contoh dari pertanyaan yang salah mengenai ihwal ini. Merupakan adab yang buruk jika kita berpikir bahwa salah satunya lebih baik diantara lainnya. Ibu yang di rumah saja atau bekerja di luar rumah (red: kantor) pasti mempunyai alasan kuat, mengapa memilih satu diantaranya.
Masing-masing pilihan ada sisi positif dan konsekuensi. Misalnya saja, memang ibu yang tidak bekerja kantoran tidak mempunyai lebih dari satu sumber penghasilan, dan sosialisasi yang lebih banyak dibanding ibu yang bekerja kantoran. Kadang hal seperti ini membuat mereka jadi mengeluh kurangnya penghasilan suami atau kebutuhan hidup sehari-hari. Dan juga, kalau ibu ini tipe yang tidak termotivasi untuk mengembangkan diri, biasanya akan kekurangan informasi dalam berbagai hal, seperti tidak memahami teknologi atau perkembangan zaman lainnya. Ini terjadi pada tetangga saya, sehingga jika ada ibu lain yang mengajaknya bicara, ibu ini banyak tidak mengerti apa yang dibicarakan.
Saya sendiri adalah seorang istri yang memutuskan tidak bekerja kantoran. Keterlambatan informasi berbagai pengetahuan telah saya alami. Setiap orang mempunyai cara tersendiri, kalau saya adalah dengan banyak membaca entah itu dari buku atau browsing melalui internet. Belajar jualan secara online juga banyak membuat saya mengetahui berbagai hal. Mulai dari situs-situs online terpercaya, metode pembelian, cara transfer, trik-trik marketing dan penulisan iklan, serta desain dan paduan warnanya. Jualan secara online juga dapat membantu perekonomian keluarga. Namun, bagi saya tidak hanya sekedar itu. Berdagang bukan hanya soal untung rugi, sebab Allah pasti memberikan rizki, bergantung bagaimana kita menjemputnya, dengan cara yang halal atau haram. Oleh sebab itu banyak fiqih jual beli atau muamalat kontemporer yang perlu dipelajari.
Bagi yang memutuskan untuk bekerja diluar rumah (red: kantor, pabrik, lab dll), hendaknya tujuannya adalah hal yang mulia. Sebab, jika alasannya hanya karena ingin dipandang setara dengan laki-laki untuk bekerja, ini malah menjadi hal yang salah, yaitu salah satu pemikiran para Feminis. Kita tahu bahwa dalam Islam, baik laki-laki maupun perempuan adalah mulia dan setara sesuai fitrahnya.
Salah satu contoh dari konsekuensi yang dialami oleh ibu bekerja dialami oleh tetangga saya, yaitu anaknya menjadi lebih dekat dengan orang lain dibanding ibunya. Ketika waktunya pulang, si anak seringkali menangis tidak mau pulang kerumah ibunya. Ibunya sendiri seringkali bilang, "Aku ini ibumu...," ke anaknya, namun karena masih kecil mungkin si anak belum mengerti maksudnya. Oleh sebab itu mungkin ibu yang ingin bekerja menyiapkan trik-trik agar anak tetap lebih dekat dengan ibunya. Tentunya hal seperti ini tidak bisa disamaratakan. Dan tetap perlu menyadari bahwa tugas seorang ibu adalah tugas yang paling utama.
Sekali lagi yang perlu dihindari adalah ibu yang tidak bekerja merasa lebih baik dari ibu yang bekerja di luar rumah, begitu pula sebaliknya. Keduanya sama-sama berjuang untuk keluarga. Toh, setiap ibu pasti bekerja, entah bekerja dirumah mengerjakan pekerjaan rumah, atau bekerja dikantor.
Allahu a'lam
No comments:
Post a Comment