Sunday, April 3, 2016

Kajian Istiqlal: Mencintai Wali-Wali Allah

Bismillahirrahmanirrahim,

Alhamdulillah segala puji bagi Allah Azza wa Jalla, Tuhan semesta alam dan seisinya. Hari ini saya dan Abi diberi kesempatan untuk menghadiri kajian di Mesjid Istiqlal. Kami berdua cukup excited karena ini pertama kalinya berkunjung ke mesjid tersebut, hehehe

Kajian yang berjudul Mencintai Wali-Wali Allah ini disampaikan oleh Dosen Ilmu Aqidah di Madinah, Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr. Beliau berceramah menggunakan Bahasa Arab, lalu diterjemahkan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M. A.

Sedikit saya ingin berbagi ilmu dari kajian ini. Mudah-mudahan bermanfaat bagi yang membaca. Tulisan ini tidak persis seperti perkataan Syaikh Abdurrazzaq karena keterbatasan saya dalam mencatat. Namun, semoga tidak mengurangi maknanya.

Ada beberapa pendapat yang mengatakan bahwa jika seseorang sudah menjadi wali Allah, maka tidak perlu lagi melaksanakan kewajiban, bahkan tidak perlu pergi ke Ka'bah, sebab Ka'bah yang akan mengelilinginya. Pendapat tersebut adalah keliru. Kita tidak perlu berpikir jauh, mencari-cari, siapakah wali Allah? Contoh yang paling nyata adalah sahabat Rasulullah saw. Mereka adalah generasi terbaik umat, wali Allah, dan mereka tetap melaksanakan kewajiban seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah saw.

Kita perlu berhati-hati akan anggapan kita kepada seseorang, apakah orang itu wali Allah atau bukan. Golongan yang dikhawatirkan oleh Rasulullah saw adalah orang-orang menyimpang yang menjadi panutan.

Diantara ciri-ciri wali Allah yaitu tidak pernah menganggap dirinya suci, sebesar apapun amalan yang dia kerjakan. Mereka tidak membanggakan diri. Mereka juga shalat, puasa, bersedekah, membantu orang lain. Namun, hatinya senantiasa khawatir jika amalannya tidak diterima Allah swt.

Orang beriman adalah orang yang menggabungkan perbuatan baik dengan perasaan khawatir, sedangkan orang munafik adalah orang yang menggabungkan perbuatan maksiat dengan perasaan aman.

Pendapat yang mengatakan bahwa orang yang tidak mempunyai karamah/melakukan sesuatu yang ajaib bukanlah wali, ini adalah pendapat yang salah. Karamah paling tinggi adalah keistiqomahan seorang hamba.

Seandainya kita bingung karena adanya rasa kagum terhadap seseorang, apakah orang tersebut wali Allah atau bukan, maka gunakanlah 3 barometer ini untuk menilai orang tersebut. Yang pertama perhatikan shalatnya, kedua, cintakah ia kepada sunnah/ahlus sunnah? Kemudian yang ketiga adalah apakah ia mengajak ke jalan Allah dan Rasul-Nya? Karena ada sebagian orang yang mengajak seseorang kepada Allah dengan tujuan ingin dikagumi oleh pengikutnya. Jadi, kemampuan berjalan diatas air, dan hal-hal ajaib lainnya bukanlah barometer yang digunakan untuk menilai apakah seseorang itu adalah wali Allah atau bukan.

Terakhir, Syaikh Abdurrazzaq berpesan agar kita selalu bersemangat dan berusaha untuk menjadi wali Allah. Tidak lupa memperbanyak doa kepada Allah, sebab doa merupakan kunci kebaikan. Cintailah orang-orang shaleh yang merupakan simpul keimanan yang paling kuat. Teruslah mempelajari ilmu syar'i, hanya dengan ilmu kita bisa membedakan yang benar dan salah. Bergaullah dengan orang-orang shaleh, karena akan memotivasi untuk beribadah dan senantiasa dekat kepada Allah. Dan jauhilah pintu-pintu keburukan atau fitnah, misalnya memilih dengan selektif media atau situs-situs yang kita baca.

Demikan, yang tertulis didalam buku catatan saya. Tapi ada satu hal yang perlu saya sampaikan juga, mengenai sikap kita tentang kebersihan. Saat kajian, banyak jamaah (dalam hal ini akhwat dan anak-anaknya) makan di dalam mesjid dengan tidak rapi, sehingga banyak sekali ceceran serpihan gorengan di lantai mesjid. Kemudian saat di toilet, sepertinya ada akhwat yang sedang haid namun tidak mem-flush closet, juga meletakan tisu-tisu bekas pakai di tempat sabun. Semoga kita bisa menjaga kebersihan lebih baik lagi ya...