Thursday, August 4, 2016

Insomnia

Saat sulit untuk tidur, seringkali pikiran ini mengambang, memikirkan imajinasi yang bahkan mungkin tidak akan pernah terjadi. Lalu, khawatir dan merasa cemas.
Bagaimana jika nanti aku tidak mampu menerima kenyataan hidup?

Sulitnya menjadi orang yang belum paham mengenai kebenaran. Kita disibukkan dengan sesuatu yang fana. Dampaknya akan menyulitkan kita dalam memilih, maka tersiratlah bahwa hidup ini bukan putih atau hitam, melainkan abu-abu.

Aku tidak menyukai insomnia. Aku jadi memikirkan banyak hal aneh. Dan mulai menangisi imajinasi sendiri.

Selama aku hidup hingga saat ini banyak perbuatan yang aku sesali. Buruknya sifatku pun belum juga reda. Kurang sabar, begitulah.

Ketika menyadari bahwa semua kehendakNya pasti membawa kebaikan, dengan sendirinya jiwa menjadi tumbuh kuat. Ujiannya adalah orang-orang disekitar kita, yang kadang suka berkata usil, mengomentari ini itu, kehidupan kita yang tidak dia rasakan sendiri. Jikalau memberi nasihat, maka adabnya sungguh kacau. Meskipun baik, akhirnya menjadi sulit untuk diterima.

Aku takut tersesat. Kemudian takut kehilangan orang-orang yang kusayangi. Ini sebuah tanda bahwa aku masih belum memahami hakikat hidup didunia, walaupun rasa takut adalah bentuk kewajaran dari perasaan seorang manusia.

Saat kulihat dirinya sedang tertidur lelap, sedangkan aku masih terjaga, aku sangat bersyukur karena diberi ujian teman hidup yang luar biasa. Mengapa ujian? Karena baik kebahagiaan maupun kesedihan adalah bentuk ujian, syukur tidaknya, atau lalai tidaknya.

Tentunya aku tidak berani melawan dan melangkahi yang sudah berkehendak. Sehingga, aku penuh harap dan doa agar bisa selalu bersamanya, agar kami masuk surga sekeluarga.

Berbuat baiklah terhadap keluarga. Sejelek apapun perbuatan kita, pada akhirnya hanyalah keluarga yang mau menerima, bahkan bersedia membimbing kejahiliyahan kita menuju cahaya.

Aku banyak belajar, sayangnya banyak pula melupakan.

No comments:

Post a Comment