Ini adalah kata-kata acak. Seacak pikiran yang masih belum bisa diajak kompromi untuk menyibukkan diri. Tenggelam ke dalam jutaan penebar inspirasi dan ilmu lain yang belum terselami.
"Ini bisa didiskusikan kok!"
Ya saya tahu. Saya tahu persis. Selalu nasehati jika saya salah.
"Bukan begitu caranya...."
Terima kasih, ini adalah ciri lemah lembutnya hatimu.
"Saya minta maaf..."
Saya ikhlas.
"Saya tidak sanggup."
Jangan goyah.
"Berbahagialah."
Bantulah saya untuk menerima takdir Tuhan.
"Saya mengerti."
Itu baik.
"Memangnya kamu bisa?"
Bersedia direndahkan, mungkin lebih baik dibandingkan betapa sanggupnya saya untuk menjatuhkan, membuat kamu malu, jika Tuhan menghendaki.
"Buat apa beli ini?"
Tidakkah ingin mencoba untuk belajar lebih menghargai?
"Kok begitu sih?"
Mungkin kita tidak tahu persis akar permasalahannya.
"Berpikirlah positif."
Sejernih prasangka.
"Tetaplah hidup."
Ya, jika itu adalah kebaikan.
"Kamu bodoh!"
Ya, itu membuat saya rajin membaca. Terima kasih.
"Kamu pantas mendapatkan yang lebih baik."
Tahu darimana?
"Kamu jauh lebih tegar dan dia lebih rapuh."
Kadang orang tegar adalah orang yang kerapuhan hatinya tidak sesumbar.
"Pergi dari hidup saya!"
Ingin sekali! Tapi, bijakkah?
"Bukan itu yang saya maksud!!"
Kalau demikian, sesuaikanlah cara bicara dengan tingkat kepemahaman orang lain.
"Salah pilih kamu!"
Tapi, ini kehendak Allah, Apa Allah salah juga?
Keteracakkan meningkat seiring waktu. Menghancurkan keseimbangan, menoreh luka, membakar amarah masa, bahkan kebodohan membahana merajalela.
"Kadang orang tegar adalah orang yang kerapuhan hatinya tidak sesumbar."
ReplyDeleteI love this words :)