Monday, May 2, 2016

Pernikahan, Anti-Sosial, dan Media

Dok. Pribadi 
Dalam postingan sebelumnya, saya heran kenapa beberapa orang yang sudah menikah seperti hilang bak ditelan bumi, tidak ada kabarnya. Setelah mengalami kehidupan berumah tangga selama beberapa bulan dan banyak mendengar cerita dari teman sejawat, mungkin faktor belum hamil/punya momongan adalah salah satu sebabnya.

Memang tidak semua pasangan langsung diberi rezeki berupa anak setelah menikah. Ada pula yang harus menunggu entah sampai kapan lamanya. Sebelumnya saya juga pernah bercerita mengenai pasangan beda agama yang belum dikaruniai anak setelah menikah selama 7 tahun. Teman saya sendiri masih belum punya anak dan sudah menikah selama 3 tahun. Berikut ini ceritanya kepada saya, dan saya sudah izin untuk mempostingnya diblog saya.

"Mending udah nanya diem. Gw udah cerita belom sik kalo gw diajak laki ke acara temen2nya terus ada yg nanya gw kenapa belom hamil dan berkesimpulan gw apakah gw gak suka anak kecil? Itu para jomblo yg nanya, ada juga temen emak gw. Kemaren nenek gw nanyain itu mulu pas yasinan alm kakek. Dan emak gw selalu nyuruh makan kecambah biar subur. Dan gw cuma bisa membatin dengan pede: Kalian gak tau berapa juta yg gw keluarin cuma buat nyari tanda positif. Mending orang yg sempat keguguran, setidaknya mereka terbukti tidak mandul. //hampirmbrebes"

"Gw takut sama keluarga dia (suami) sih, anak tunggal dan nyaris semua sepupu seumuran. Taulah gimana tekanannya."

Teman saya ini bahkan berencana untuk tidak pulang kampung, sekedar menghindari pertanyaan "sudah isi belum ?"

Termasuk soal media sosial, banyak sekali ibu muda yang memposting tentang kehamilan maupun perkembangan anak, untuk menghindari agar tidak berpikir negatif, dia 'menarik diri' dari hingar bingar dunia maya. Kadang saya pikir, semua jadi serba salah. Orang seperti teman saya ini sebetulnya hanya membutuhkan rasa empati dari teman-teman lainnya. Yah, kita juga tidak bisa berbuat banyak mengenai kemajuan teknologi dan juga kebebasan berpendapat. Dalam suatu forum ibu hamil, saya menemukan seorang ibu yang curhat mengenai temannya yang menurutnya iri dan dengki terhadap kehidupan pribadinya.

"Maaf ya bunsay n maybe ada bapa2 disini yang ikut pantengin forum,,,,, saya cuma mau ngeluarin unek2 yang rasanya ga pantas buat disimpan !!!!
Tadinya saya punya teman, ga dekat cuma kenal aja n itupun diforum ini juga. Mulanya sih baik n biasa saja,,, tapi kesininya mulutnya ya Allah kasar n ga pantes buat jadi manusia....
Saya mau tanya sama bunda semua disini,
#apakah saya tidak boleh bahagia ? Apa kebahagiaan saya ga boleh saya ungkapin dari kata2 or pic di status ( wong hp kan punya aye)
#apakah saya ga boleh marah ? Saya kan manusia masih punya rasa marah,,,, apakah kemarahan or ketidaksenangan saya juga ga boleh saya ungkapin ?!!!
Tapi kenapa setiap saya tulis status soal kebahagian, seperti dikasih mobil kado ultah sama miswa, foto rumah yg lg renov, mereka yang keki mereka langsung sindir ini itu,,,,,
saya tulis uneg2 saya di sosmed soal kk saya yang setiap hari hanya ribut soal uang, kenapa mereka yang pada nyinyir,,,,, yang anehnya lagi pas ditanya ga ngaku hmmmmmm,,,,,
tapi setelah itu sok jago nantangin, saya dikata2in dengan kata2 kasarnya binatang,,,,
yang saya ga suka mereka pake bawa2, 3 anak saya yang katanya ga malu punya bunda kaya saya ?!!! Alhamdulillah anak saya udh gede n bisa diajak curhat, saya cerita punya tmn kaya gini tau ga apa kata anak saya "CUEKIN AJA BUN, PALING JUGA SYIRIK SAMA BUNDA,,,,"
Asal kalian tau ya geng bullyers,,,, ANAK SAYA GA MALU PUNYA BUNDA KAYA SAYA, MEREKA TAU PERJUANGAN SAYA MERAWAT MEREKA, mereka malah ga mau bundanya PUNYA TEMAN KAYA KALIAN,,,,,
dibilang stress iya, saya akuin saya depresi liat kalian ngata2in saya seenak jenong kalian,,,, tapi sekarang I'm free,,,,,,, ga ada kalian hidup saya tenang n mungkin ini cobaan buat saya kalo lebih hati2 dalam berteman, teman yang baik akan bawa kebaikan n teman yang buruk akan bawa keburukan... setelah dihina kalian Alhamdulillah si babe dpt big deal lagi, so terus hina saya biar saya tambah diangkat derajatnya,,,,Aamiin
Alhamdulillah abis keluarin uneg2 legaaaa rasanya,,,,,
ohh ya 1 lg ,, ga usah merasa sok kece, kaya n bener sendiri deh nyuruh org ngaca sendirinya ga ngaca inget kesempurnaan hanya milik Allah n bukan kalian"


Dilansir dari liputan6.com, lima puluh dua persen dari seribu warga Inggris yang disurvei mengatakan, mereka murni menunggah foto ke Facebook atau media sosial lainnya hanya untuk membuat teman-teman dan keluarganya cemburu.

Allahua'lam, kita memang tidak berhak untuk menghakimi niat orang lain. Bisa dikatakan bahaya dari sosial semacam ini, membuat saya juga turut menarik diri dari dunia maya. Saya pribadi depresi karena membaca status teman-teman yang berisi kebencian terhadap orang lain, lalu menshare berita hoax, dan banyak bicara dalam bidang yang bukan keahliannya. Saya belum mampu menasehati karena tidak berkapasitas untuk itu. Terlebih lagi, melakukannya diperlukan adab yang baik, dan saya belum memilikinya.

Faktor anti sosial lainnya, mungkin sebenarnya mereka bukan anti sosial, tetapi hanya sibuk dengan urusan keluarga. Ada pula kehidupan sosial seseorang bergantung bagaimana pasangannya. Setelah menikah memang baiknya permasalahan rumah tangga diselesaikan berdua saja. Menurut Ustad Bachtiar Nasir, adalah suatu masalah jika seorang suami tidak lagi mendengarkan istrinya bercerita atau curhat. Persoalan ini akan berbuntut panjang, dan diawali dari istri yang bercerita ke orang lain selain suaminya. Banyak suami yang tidak menyukai hal seperti ini, namun kurang sadar diri atau introspeksi mengapa istrinya sampai bercerita kepada orang lain.

Mengenai beberapa akktivis dakwah yang juga tenggelam dalam pernikahannya, sebetulnya sudah viral sejak lama. Memang hidup berkeluarga menjadi tantangan baru dalam melanjutkan dakwah. Harus pintar-pintar membagi waktu dan prioritas. Dalam artikel di websitenya, Fahmi Basyaiban menulis persoalan aktivis dakwah lainnya dengan judul Kenorakan Aktivis Pasca Menikah.

"Semakin ke sini hipotesis saya semakin terbukti dgn munculnya fakta sosial yg terus menguatkan. | bahwa aktivis dakwah tarbiyah itu (kebanyakan) norak di sosial media setelah menikah. sebelum nikah, menjaga kesucian status FB dgn tdak update status yg norak-norak, isinya kebanyakan kalimat hikmah, petikan Qur'an, hadis, kisah sahabat, dan kisah hikmah.. Sebelum menikahpun, menjaga kesucian diri dgn tdak memasang foto dirinya sendiri terutama untuk akhwat, untuk menghindari fitnah dan hal-hal yg tidak diinginkan..dan semuanya berubah jadi norak setelah menikah, kesucian update statusnya berubah jadi kalimat-kalimat norak yg menampilkan kemesraan bersama sang suami/istri. Kalau seminggu setelah menikah sih gak masalah.. Lha ini terus-terusan sampai kalimat hikmahnya seakan menguap entah kemana..Norak kedua, foto profilnya langsung ganti jadi norak, pelukan sama sang suami, foto mesra, dll. | lalu apakah setelah menikah tindakan menjaga kesucian foto hilang begitu saja? Kalau ada yg menganggap itu wajar untuk ukuran aktivis dakwah, sy termasuk yg tidak sepakat. Entah mengapa intuisi saya sangat risih dgn hal demikian.
Aah.. Mungkin saya terlalu utopis standar aktivis dakwah. | tp klo dibandingkan dgn standar muashofat tarbiyah terutama di point Matinu al-Khuluq, jelas ini ga sesuai. Matinul Khuluq, kekuatan akhlak inilah yg menjadi standar kunci dan ciri khas kader dakwah. kematangan karakter itu jga ditunjukan melalui perilaku di socmed juga..
Wa allahu a'lam bishowab.. #NtMS #CMIIW"

Hidup berdampingan dengan saling memahami satu sama lain memang tidak mudah. Berpikit positif adalah kunci utamanya. Tidak lupa untuk bersyukur dan bersabar. Kadang kita stress karena memikirkan yang tidak ada sehingga lupa bersyukur dan iri pada kehidupan orang lain. Biarlah orang lain memposting apapun sesuai keinginan mereka, semakin banyak bicara semakin banyak pula pertanggungjawabannya. Bukan tidak peduli, mengingatkan satu sama lain dalam kebaikan tetap harus dilakukan, selemah-lemahnya adalah mengingkari keburukan dengan hati.


Allahu a'lam, semoga Allah menjadikan kita hamba yang lebih baik.


No comments:

Post a Comment