Tuesday, September 29, 2015

The Wedding Guide - 1


Menikah, penyatuan dua insan melalui ikatan akad, sakral, dan disaksikan. Saya sendiri penasaran bagaimana rasanya menikah. Dan ternyata setelah dua minggu menikah dengan Abi, hasilnya sungguh tidak disangka-sangka.

Seringkali Abi berkata, "Kenapa masih ada orang yang berzina? Padahal... Masya Allah nikmatnya yang halal", hahahaha

Beliau berkata demikian sebab segala sesuatu yang kita lakukan dalam ikatan halal akan membuahkan pahala, menguatkan rasa cinta, menumbuhkan syukur yang tiada henti-hentinya, serta tidak lupa melatih kesabaran.

Bahagiakah setelah menikah? Saya katakan awalnya 'iya', setelahnya? Bukan berarti tidak bahagia, namun kita perlu berlatih untuk lebih banyak melihat dari kacamata positif. Dari pikiran yang sehat, serta syukur dan sabar, insya Allah itulah jalan menuju kebahagiaan.

Pernikahan bagian dari kehidupan, sedangkan dari perjalanan hidup kita harus belajar saat prosesnya. Seperti itulah menikah, tidak jauh dari kata belajar. Artinya ujian dalam pernikahan pastilah ada. Jalannya tidak selalu lurus, kadang berliku, menanjak, dan berbelok-belok. Sehingga kita butuh penguat, perlu suplemen dan vitamin, serta pengingat-pengingat. Perlu juga dimantapkan lagi, apa tujuanmu menikah?

Saya sendiri menargetkan menikah pada tahun 2016, namun Allah bekehendak lain, saya menikah satu tahun lebih cepat dari yang ditargetkan. Ada seorang laki-laki yang diberi kekuatan dan kemampuan oleh Allah untuk melamar saya. Teman-teman banyak yang bertanya, apa yang ada di dalam laki-laki ini sehingga saya menerima lamarannya?

Memilih Pasangan

Semua orang punya kriteria tersendiri dalam memilih pasangan. Saya pun begitu dan tidak muluk-muluk, tapi juga manusiawi. Saat itu apa yang saya lihat dari Abi? Secara dzahir beliau nampak sederhana dan berakhlak baik. Akhlak ini mencerminkan ibadah seseorang. Jika hubungan seseorang terhadap sesama manusia itu baik, maka insya Allah baik pula hubungan orang itu terhadap Sang Illahi. Kemudian kelebihan dan kekurangannya sebanding dengan saya. Artinya kelebihannya tidak terlalu "Wow", sehingga saya nantinya tidak menjadi terlalu rendah diri, serta saya dapat menerima kekurangannya. Jika kalian bingung memilih ikhwan, saran saya utamakan memilih ihkwan yang kekurangannya dapat kalian terima, sebab semua orang pasti bisa menerima kelebihan seseorang. Dari segi fisik, saya memang berharap mempunyai suami yang berbadan tinggi. Selain keren *hehe, tubuh saya yang pendek ini cukup kesulitan untuk menjangkau tempat-tempat tinggi. Misalnya saja selama ini, Abi-lah yang menutup jendela dikontrakan yang posisinya cukup tinggi bagi saya.

Tentunya kita tidak dapat melihat sifat asli seseorang dengan benar dan tepat sebelum menikah. Hal itu akan muncul setelah menikah. Jadi bersiaplah jika dalam beberapa hal, pasangan kita tidak sesuai dengan ekspektasi. Disitulah kita memperlajari kesabaran.

Buat kalian yang masih menjadikan kriteria fisik di nomor teratas, harap dipikirkan kembali. Memang manusiawi, namun apakah nyaman jika seseorang yang berwajah tampan atau cantik putih nan mulus mempunyai akhlak yang buruk? Mungkin hasilnya adalah nikah-cerai. 

Cinta atau Tidak Cinta?

Beberapa orang bingung dan merasa bahwa kita harus mencintai terlebih dahulu baru menikah. Tidak semua proses berjalan demikian. Saya mendapat cerita dari seorang akhwat. Dari proses taaruf, rasa itu belum-lah muncul. Namun perlahan-lahan dari genggaman tangan seorang imam, muncullah perasaan cinta, dan akhirnya selalu rindu jika tidak bersama. Percayalah, cinta itu dapat tumbuh setelah menikah. Jangan takut dengan taaruf. Taaruf ini memang hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang kepercayaannya terhadap Allah tinggi. Kelihatannya memang mengkhawatirkan, namun teman-teman saya yang taaruf, Alhamdulillah mereka hidup berbahagia. 

Apa yang Perlu Disiapkan?

Sikap saya ini jangan dicontoh. Boleh dibilang saya tidak melakukan persiapan, terutama dalam hal ilmu. Alhasil saya kelimpungan setelah menikah. Perasaan bingung itu berjalan lebih dari satu minggu lamanya. Mempelajari ilmu untuk persiapan setelah menikah akan memudahkan kita dalam menjalankan sunnah.

Dengan ilmu pula, prosesi akad yang sesuai syariat akan lebih terbantu. Misalnya saja memahami rukun-rukunnya, apa yang perlu dan apa yang tidak perlu. Jangan lupa diusahakan untuk memilih pakaian pernikahan yang sesuai syariat. Terkadang keinginan orang tua berbeda dengan anak, meskipun yang akan menikah adalah anaknya. Hal-hal seperti itu perlu dibicarakan. Sekiranya saya juga perlu mengingatkan dan berhati-hati agar dalam make-up tidak perlu mencukur alis.

“Allah melaknat tukang tato, orang yang ditato, al-mutanamishah, dan orang yang merenggangkan gigi, untuk kecantikan, yang mengubah ciptaan Allah.” (HR. Bukhari 4886, Muslim 2125, dan lainnya). Al-Mutanamishah adalah para wanita yang minta dicukur bulu di wajahnya. Sedangkan wanita yang menjadi tukang cukurnya namanya An-Namishah. (Syarh Muslim An-Nawawi, 14/106). (http://www.konsultasisyariah.com/hukum-merapikan-alis/)

Adab merupakan hal penting lainnya. Dalam proses menuju akad sangat memungkinkan terjadi perbedaan pendapat, baik itu orang tua terhadap anak, atau terhadap calon besan. Saya akui menikah dengan mengikuti syariat secara sempurna itu sangat sulit terlebih lagi jika sebagian paham dan sebagian lainnya tidak. Menurut saya ada baiknya berlapang dada dan mengalah, jika dibandingkan karena satu atau dua hal tidak jadi menikah. Saya bukan bermaksud menyepelekan syariat. Tapi mencoba menimbang-nimbang menyesuaikan keadaan, mencari-cari apa yang bisa diakali. Terkadang tradisi yang kuat dari orang tua sangat sulit untuk ditentang. Dan menasehati keluarga, terutama orang tua jauh lebih sulit dibandingkan menasehati teman sendiri.

Finansial hal yang sangat krusial. Memang bukan segala-galanya, tapi tidak dapat dipungkiri bahwa kita sangat membutuhkannya. Bagi para akhwat mudahkanlah ikhwan dalam membeli maharnya. Mahar murah bukan menandakan wanita itu murahan.

“Di antara kebaikan wanita ialah memudahkan maharnya dan memudahkan rahimnya.” (HR. Ahmad) dan “Pernikahan yang paling besar keberkahannya ialah yang paling mudah maharnya.” (HR. Abu Dawud)

Begitulah kira-kira, kekurangannya semoga bisa saya sampaikan ditulisan berikutnya. 


Allahu a'lam

No comments:

Post a Comment