Masa udara yang mengalir dari tekanan tinggi ke tekanan rendah membuat kapal layar bergerak dengan kecepatan konstan. Malam ini, ombak laut begitu tenang, langit nampak cerah, dan kumpulan bintang-bintang menunjukkan pesonanya. Arsegaf dan Noru mendapat giliran berjaga. Mereka berdua duduk bersandar di tiang layar. Terkadang saling berbicara, namun lebih banyak membisu, menikmati kesunyian.
“ Berhentilah mencintainya, sebelum terlambat,” kata Arsegaf.
Noru sedikit terkejut dengan pernyataan Arsegaf, “ Tidak biasanya kau mengomentari percintaan antara Dreogan dan Cyst. Tidak ada yang salah dengan mencintai orang lain.”
Arsegaf menoleh, menatap mata Noru, “ Konyol…”
Noru menghela nafas sambil memejamkan matanya. Ia berpikir bahwa perkataan Arsegaf memang ada benarnya. Tapi, baginya, menahan perasaan tidaklah bijaksana.
Setelah pembicaraan itu Noru tertidur, sedangkan Arsegaf berdiri di sisi kapal, ia merasakan ada keanehan dibawah laut. Tidak lama kemudian, kapal mulai bergoyang dengan perlahan, lalu terguncang. Noru terbangun dari tidurnya, Fray, Ingram, dan Yuzin berlari keluar dari dalam kapal. Terlihat ada sesuatu yang bergerak di bawah laut.
“Kwwokkk, kwoook, kwook…. Kwoook, kwoook, “kata Fray.
Arsegaf, Noru, Ingram, dan Yuzin saling berpandang-pandangan. Mereka tidak memahami perkataan Fray, namun Fray tetap berbicara seperti sedang menjelaskan sesuatu.
Ingram menyadarinya, “ Ah, mungkin ikan… ya kan, bisa saja ikan. Ikan yang sangat besar!”
Pemikiran Ingram benar adanya, tiba-tiba saja sekor ikan besar melompat ke permukaan air laut. Noru, Ingram, dan Yuzin terbengong-bengong, Fray bersorak sorai gembira, sedangkan Arsegaf siaga menggenggam pisau belatinya. Ternyata ikan besar itu tidak berbahaya, ia hanya ingin menampakkan diri saja. Sesaat kemudian, air laut terlihat bercahaya, makhluk hidup lainnya bergerak bermigrasi.

No comments:
Post a Comment