Wednesday, October 15, 2014

My Dreams




Ketika saya kecil, saya iri dengan teman-teman sepermainan. Mereka adalah tetangga terdekat dari rumah kami. Mereka punya banyak sekali buku. Ada buku dongeng, komik, bahkan novel yang diangkat menjadi film Putri Huan Zhu. Film Putri Huan Zhu sangat populer pada masa itu. Keluarga kami pun antusias mengikutinya.

Suatu saat, saya merengek kepada bapak. Saya ingin sekali dibelikan buku. Rasa-rasanya saya tidak punya sama sekali buku dongeng atau cerita rakyat saat itu. Saya menangis, memaksa bapak untuk membelikannya. Karena mungkin tidak tega, bapak rela menyempatkan diri, dengan uang seadanya untuk membeli buku di Toko Gunung Agung BSD. Buku itu berupa cerita rakyat yang berasal dari Yogyakarta. Saya pun merasa senang sekali. Kemudian dengan buku seadanya, saya dan teman-teman sepermainan membuka perpustakaan kecil-kecilan. Kami menyewakan buku-buku tersebut. Uang yang terkumpul kami gunakan untuk jajan.

Jika mengingat masa itu, maka saya sangat bersedih. Bapak begitu baik, memaksakan diri untuk menyenangkan hati anaknya. Padahal saya sendiri sampai sekarang tidak pernah memberikan sesuatu yang berharga. Saya pun bukan seperti anak-anak berprestasi lainnya, yang mengikuti berbagai macam lomba atau olimpiade sains. Saya juga tidak pernah mendapatkan beasiswa. Hingga saat ini saya belum bisa membahagiakan orang tua. Maka dari itu tekad saya adalah membahagiakan kedua orang tua di akhirat dengan berusaha menjadi perempuan yang baik, menaati perintah Allah, rasul-Nya, suami saya, dan tentu saja orang tua. Dengan harapan hal tersebut menjadi bukti yang saya berikan kepada Allah, bahwa bapak dan ibu berhasil mendidik saya.

Saya tidak menyalahkan bapak karena saya tidak punya banyak buku ketika saya kecil. Namun, dari pengalaman tersebut saya mempunyai ambisi, yaitu membuat perpustakaan untuk anak-anak saya nanti. Saya ingin menanamkan jiwa membaca, rasa penasaran, cara berimajinasi, dan belajar berpikir. Dimulailah saya mencicil untuk membeli buku anak-anak. 

Buku anak-anak ternyata mahal sekali harganya. Saya memanfaatkan diskon buku di Gramedia untuk membelinya. Harga asli buku dongeng dengan hardcover, dan kertas full colour adalah tidak kurang dari IDR 100.000. Beruntungnya saya bisa membelinya dengan harga IDR 25.000 saja. Meskipun ada sedikit cacat, saya pikir itu tidak menjadi masalah besar.

Selain perpustakaan, impian berikutnya adalah sebuah rumah berlokasi di Bogor yang saya desain sendiri. Rumah tersebut dilengkapi dengan kitchen set, musholla, dan gudang. Ketiga hal tersebut tidak ada di rumah yang kami tinggali saat ini. Pun saya ingin membuat ibu senang, jika beliau ingin tinggal rumah saya. Tidak lupa, kulkas dua pintu adalah alat rumah tangga yang harus dibeli. Mungkin akan memerlukan ruangan yang cukup besar jika ingin membuat ruang perpustakaan sendiri. Maka dari itu buku-buku akan saya letakkan di ruang keluarga saja.

Desain rumah harus memperhatikan kenyamanan dan keselamatan anak-anak. Misalnya saja pemasangan stop kontak tidak diletakkan pada bagian bawah dinding. Hal lain yang perlu di antisipasi adalah anak-anak terkadang sangat ingin mencorat-coret dinding rumah. Pun saya harus menyediakan kertas putih besar yang ditempatkan pada posisi tertentu, agar anak-anak tetap bisa berkreasi. Papan tulis juga dapat dijadikan sebagai alternatif.

Naik Haji adalah impian yang selanjutnya. Setiap muslim pasti ingin merasakan sakralnya tanah suci. Berkunjung ke rumah Allah, makam Rasulullah saw, makam Nabi Ibrahim, dan tempat bersejarah lainnya yang bernilai ibadah. Ingin sekali membuka tabungan haji sejak dini. Namun setelah dipikir-pikir akan lebih nyaman jika melakukannya bersama suami, sehingga berangkat haji pun bisa bersama-sama.

Sangat banyak tabungan-tabungan yang harus dipersiapkan. Salah satunya untuk anak-anak sekolah. Hal ini dikarenakan biaya sekolah pasti akan semakin mahal. Sayangnya saat ini, masih sulit bagi saya untuk memulai menabung biaya sekolah anak-anak.

Terlepas dari mimpi-mimpi yang kita rencanakan di masa depan, tetaplah kematian adalah proses menuju “tempat kembali” dan akan menjadi akhir kita hidup di dunia. Jadikan hidup kita sebagai persiapan untuk menuju proses tersebut.

No comments:

Post a Comment