Ada banyak pertanyaan yang sepatutnya tidak boleh ditanyakan. Namun, sekalipun diabaikan curiosity itu tetap tidak hilang. Ilmu yang baru dipelajari pun hanya meng-cover pertanyaan-pertanyaan itu sekilas saja.
Saya punya seorang sahabat, namanya Winda. Winda ini seorang wanita yang kuat. Biasanya cuma laki-laki yang mengangkat atau memindahkan galon, tapi Winda mampu melakukannnya. Dia juga mampu untuk melakukan pekerjaan laki-laki lainnya. Sifatnya sangat optimis sekali, meskipun jika di nalar kadang dia tidak realistis. Saya pikir, itulah yang membantunya bertahan hidup sampai sekarang, optimisme. Menurut Dr. Amr Khaled, optimisme adalah mindset orang beriman. Tidak pernah kehilangan harapan, itulah yang dimaksud.
Saya dan Mba Winda ini, sering berdiskusi dan selalu ada perbedaan pendapat diantara kami. Tema diskusi kami kadang cukup kompleks sebab diantara kami berdua belum ada yang menemukan jawabannya.
Bukan maksud mempertanyakan kebenaran Alquran, sebab Alquran pasti benar. Pertanyaan dasar yang selalu menempel dalam pikiran kami adalah "untuk apa kita hidup?", Indeed, sudah terjawab di Alquran.
Manusia hidup untuk beribadah. Tapi rasa-rasanya seperti, "bukan itu jawaban yang kami inginkan".
Kalau saya mau bertanya lebih lanjut kepada Allah, "Allah, kenapa Engkau memilihku untuk hidup dan menjalani kehidupan ini?"
"Allah, dari sekian luasnya alam semesta ini, kenapa kami tinggal di planet Bumi?"
"Allah, apakah suatu saat nanti, kami akan menemukan manusia atau makhluk lainnya dari planet lain?"
"Jika surga dan neraka sudah terisi, apakah Engkau akan menciptakan kehidupan yang baru?"
"Apakah manusia bisa mengatur dimensi ke-4, waktu dan ruang?"
Kadang saya kepikiran juga, iya ya, kalau surga dan neraka itu tidak ada, kira-kira gimana keadaan dunia saat ini. Apakah saya sendiri tidak akan beribadah dan bertindak semaunya?
Apakah saya akan takut pada Allah?
Jangan-jangan, kita mencintai Allah, karena Dia selama ini telah memberikan apa yang kita inginkan.
Coba lihat orang miskin yang taat, mereka tidak berputus asa dan selalu yakin. Akhirnya mereka berusaha dengan mengharap balasan surga. Tapi, kalau surga itu tidak ada apa orang itu akan tetap taat?
Saya jadi mikir, jangan-jangan sebenarnya saya ga betul-betul mencintai Allah.
Saya tidak punya jawaban dari persoalan ini. Kalau melihat film, animasi, dan sebagainya, misal Final Fantasy, kadang saya jadi mikir lagi, "Kalau manusia diciptakan kayak di Final Fantasy gitu keren kali ya berantem-berantemnya, tapi mana ada orang yang mau berantem terus".
Saya juga ga paham, kenapa Allah menciptakan "rasa" di hati. Kenapa saya kalau nonton film, sampai sebegitunya amat ngegalau, nangis -_-
Memang, "rasa" itu membantu kita untuk bertindak atau memilih.Saya pernah, "Gw ga mau jadi orang berperasaan". Kadang itu sedikit membantu. Terlalu mendengarkan pendapat orang lain yang tidak membangun itu bikin pusing, sekali-sekali perlu cuek.
Kalau baca bukunya Dr. Amen, seorang psikiatri, dijelaskan bahwa apa yang kita rasakan sebetulnya dipengaruhi oleh kadar hormon tertentu di otak, kadang ada yang tinggi dan rendah. Dan menyeimbangkan hormon tersebut, dapat dilakukan dengan mengkonsumsi obat-obatan seperti prozac. Kadar hormon yang seimbang membuat kerja otak lebih baik, sehingga mempengaruhi suasana hati juga.
Setelah dipikir-pikir, sebetulanya teknologi manusia itu sudah sampai pada tahap dimana kita mampu mengatur manusia lain untuk bertindak seperti yang kita inginkan dengan obat-obatan tertentu.
Saya tidak tahu, pemikiran apa yang merasuki ilmuan sampai-sampai ingin "menciptakan" manusia". Diawali oleh kloning. Kemarin baru denger, ilmuan mau bikin bayi tabung pakai 3 DNA, -___-
Nah, teknologi yang sedemikian berkembang ini pun tidak menjawab pertanyaan saya, malah bikin saya bingung. Manusia yang diciptakan oleh Tuhan ingin membuat manusia. Ilmuan itu pasti meyakini bahwa manusia tidak diciptakan Tuhan.
Betulkan? memang ada pertanyaan yang seharusnya tidak kita tanyakan.
No comments:
Post a Comment