Ada beberapa orang yang pernah mengaku bahwa mereka nyaman jika berbicara dengan saya. Tapi, saya cenderung mengabaikan, malah saya yang bingung, berarti bagi mereka ada orang-orang yang jika diajak bicara tidak membuat diri mereka merasa nyaman. Sementara selama ini saya merasa hampir nyaman jika bicara dengan semua orang namun apa yang dibicarakan memang bergantung pada masing-masing orang itu.
Kepercayaan, "merasa nyambung", "ya nyaman aja" adalah tiga alasan yang mendasari kenyamanan mereka saat bicara dengan saya. Dan buat saya "kepercayaan" itu level sikap yang cukup sensitif.
Hari ini, saya baru "ngeh", "mungkin seperti ini rasanya tidak nyaman, tidak klop", pembicaraan dua arah tidak berjalan sesuai yang saya inginkan, terasa kaku, dan "menggantung" tidak jelas. Ternyata setiap orang punya "orang pilihan" yang menyamankan hati saat berinteraksi.
Saya punya seorang teman, akhwat, cantik sekali, wajahnya menyejukkan, sangat pandai, salihah, dan lemah lembut. Banyak ikhwan yang menyukainya. Bahkan ikhwan yang disukai oleh sahabat saya juga menyukainya. Namun, ternyata sahabat saya yang lain juga merasa tidak nyaman dengan akhwat salihah ini. Baginya, akhwat ini kurang peka, telah menyinggung perasaan hatinya dalam hal pekerjaan di kantor. Saat sahabat saya bercerita, dia seperti menampakkan kekecewaan yang amat sangat, "kok bisa sih dia begitu?", kurang lebih seperti itu.
Bukan pula salah si akhwat salihah. Meskipun sifatnya yang berpikir terlalu positif membuat dia tidak menyadari bahwa hal itu dapat menjadi negatif bagi orang lain.
Kedua teman saya ini "belum klop". Berbicara dari hati ke hati akan membantu jika masing-masing pihak ingin meleburkan egonya untuk hubungan yang lebih baik.
"Nyaman" ini juga sepertinya perlu dibantu oleh sikap saling memahami, terbuka, dan jujur satu sama lain. Saya pernah bertengkar dengan sahabat saya. Tapi, kemarahan atau pertengkaran hebat itu tidak membuat kami berpisah. Akhirnya kami sama-sama tahu, "Oh ternyata dia tidak suka diperlakukan begitu". Terkadang saya cemburu, dia sudah bersuami. Saya merasa tersisih. Rasa-rasanya saat itu keluarganya pun sudah menjadi bagian dari diri saya. Sahabat saya itu bernama Elva Susanti.
Khalida Fauzia adalah orang yang tidak pernah bosan mengajari saya berulang-ulang materi pelajaran yang sama. Saya belum menemukan orang seperti dia saat kuliah. Betapa nyamannya saya dengan wanita manis ini. Kurang lebih selama dua minggu ketika masuk kuliah saya menangis karena ingat dengan Khalida. Saya telah hidup bersama dengannya selama empat tahun, tidak terpisahkan berada dalam satu kosan yang sama.
Kehidupan silih berganti, pada akhirnya yang nyaman itu perlahan-lahan menjauh, mungkin tidak lama lagi menghilang di telan bumi. Sedangkan, kenyamanan itu tidak dibangun selama satu atau dua hari saja.

No comments:
Post a Comment