Sunday, February 8, 2015

Romantisme Aku dan Kamu



Cintaku yang tak sesumbar, menenangkan semua orang, dan menjaga utuhnya privasi. Lebih bermakna, hanya aku dan kamu yang tahu.

Menurut KBBI online, privasi adalah kebebasan, keleluasaan pribadi. Sedangkan, menurut Wikipedia, privasi adalah kemampuan satu atau sekolompok individu untuk mempertahankan kehidupan dan urusan personalnya dari publik atau untuk mengontrol arus informasi mengenai diri mereka.

Saya, salah satu dari sekian banyak orang yang berpendapat bahwa tidak perlu berlebihan dalam mengekspresikan kisah kasih kehidupan yang dialami oleh sepasang kekasih. Ya, romantisme dalam rumah tangga buat saya termasuk bentuk privasi. Namun, dewasa ini, aplikasi dari pengertian privasi sudah sangat meluas sekali. Sehingga sebagian orang dengan leluasa mengumbar romantisme tersebut, terutama di sosial media. Saya berpikir, bukankah lebih bijak jika dipertimbangkan kembali ahsan atau tidaknya, sedikit banyak manfaat atau mudharatnya. Mungkin dalam pandangan orang lain ini nampak sebagai hal kecil yang tidak diperhitungkan. Tapi, saya mengingat-ngingat kembali isi buku Dalam Dekapan Ukhuwah, karya Salim A. Fillah, intinya menjaga hubungan antar sesama lebih baik ketimbang mempertahankan ego pribadi.

Menikah adalah hal yang sakral dan menyenangkan, semua orang turut berbahagia. Tetapi bukankah lebih baik sedikit tawadu', dalam rangka menjaga perasaan teman-teman sejawat yang juga punya keinginan yang sama namun belum dikehendaki oleh Yang Kuasa.
Romantisme sesumbar akan hilang menelan maknanya.
Pilahlah dengan baik serta pertimbangan matang tujuan dari mengumbar romantisme itu. Jika ingin memotivasi, maka tidaklah salah. Namun pilihlah bahasa yang baik agar tidak berkesan "menyombongkan diri" atau "membanggakan diri". Bolehlah sekali-sekali menunjukkan kemesraan, tapi ahsan-nya adalah tidak berlebihan. 

Sekali lagi, persoalan seperti ini bukan salah atau benarnya, melainkan ahsan atau tidaknya.
Suatu saat nanti, aku ingin seperti kalian. Berkasih sayang bersama orang yang kucintai.
Bagi yang masih dalam masa penantian, bersabarlah. Menikah bukan semata-mata seperti lomba lari, ada yang kalah dan ada yang menang. Yakin terhadap kehendak Allah. Pun, kemajuan karakter, kedewasaan kita, akhlak, serta ibadah mungkin adalah hal-hal yang menjadi pertimbangan Illahi, sudah pantas atau belumnya kita mengenyam tanggung jawab yang lebih besar.
Tak luput, kita turut menghargai teman-teman kita yang berbahagia, menunjukkan kemesraannya, semoga selalu dilindungi Allah dan diridhai oleh-Nya.


Allahu'alam.

No comments:

Post a Comment