Hmm, saya bukan penulis layaknya penulis yang sangat niat agar bukunya diterbitkan. Saya hanya tidak suka banyak berbicara. Sehingga, menulis adalah media komunikasi. Jika disuruh memilih antara telepon atau sms, saya lebih suka sms atau yang lainnya, asalkan tidak bicara.
Menulis menjadi level interaksi yang cenderung lebih aman karena penulis pasti membaca lagi tulisannya berulang-ulang. Sehingga apabila ada kata-kata yang kurang menyenangkan, kita langsung dapat menghapusnya. Kecuali ada orang lain yang niat untuk menjatuhkan, di screen capture-lah kesalahan itu, kemudian disebarkan ke media sosial.
Jam terbang saya dalam menulis pun masih sangat sedikit. Dibandingkan dengan teman-teman lain yang pandai menulis, tulisan saya membosankan, random, dan tidak jelas arahnya. Tema tulisan yang paling berat adalah soal hikmah, adab, dan hal lainnya yang berkaitan dengan agama.
Persoalannya satu, tanggung jawab untuk mengaplikasikan dan konsistensinya. Menulis memang untuk mengingatkan diri sendiri dan orang lain. Tapi, ada saja kelemahan manusia, "hilang ingatan". Sekonyong-konyong teringatlah firman Allah, kurang lebih seperti ini, "Mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan?"
Ketika kita ingin mengajak kebaikan melalui tulisan, firman Allah itu membuat saya berpikir. Ragu-ragu akan tindakan yang dilakukan, "Apa perlu saya menulis ini?", kalau saya tidak jadi menulis kebaikan itu, mungkin anak iblis ikut andil dalam mempengaruhi diri. Meluruskan niat adalah perasaan yang sangat membingungkan, bagi saya.
Hati yang was-was selalu khawatir, entah bagian dari niat lurus yang diliputi kewaspadaan atau justru terjerumus dalam perangkap iblis dan anaknya, yaitu keragu-raguan.
Seorang teman yang pernah saya tanyai pun khawatir akan tulisannya. Dia sudah menulis banyak sekali hikmah, maupun persoalan adab. Hal yang menjadi kecemasannya adalah takut tidak bisa mengaplikasikannya atau tetiba demensia terhadap tulisannya di masa lalu. Kembali lagi, bertanggung jawab adalah intinya.
Pun kebanyakan, tulisan yang menjadi bagian dari prinsip seorang penulis biasanya akan sulit untuk lupa. Sebab, prinsip sudah menjadi aplikasi yang diterapkan dari pengalaman, baik itu berasa bahagia atau cobaan yang membuat hatinya bersedih.
Saya berharap semoga kami, penulis amatir, selalu ingat makna penting dari setiap kata-kata yang masuk ke dalam saraf pembaca, terfahami, terilhami, dan terkoreksi sebagai timbal balik untuk menambah kemampuan mengolah kata dan berdiksi indah.
No comments:
Post a Comment