Monday, December 7, 2015

Tidak Jelas

Gw dulu mikir gw sendirian karena diantara orang rumah ga ada yang sependapat sama gw dalam beberapa hal. Dan dalam beberapa hal ternyata gw juga ga sependapat sama suami gw. 

Barusan gw kepo ke status-statusnya Jonru, ko gw bacanya pusing ya, hahaha. Gw bukan ga suka sama orang-orang yang berusaha untuk menyampaikan kebenaran. Tapi gw kayaknya ga suka sama isi tulisannya yang kurang lembut, provokatif, dan terkesan mengintimidasi. Ini bukti besar ga ada satu manusia pun yang mampu menulis dengan kelembutan kata-kata seperti dalam Alquran meskipun tentang ancaman neraka. Tegas, lugas, tapi penyampainnya lembut. Ini sih menurut pendapat gw. Daannn... gw sangat mengapreasi orang-orang yang berusaha menyampaikan kebenaran dengan lembut, berusaha mengikuti Rasulullah saw.

Itu mungkin bedanya jaman sekarang sama jaman dulu. Jaman sekarang udah ada medsos. Orang bebas ngomong segala macem opini. Katanya mah "suka-suka gue, akun ya akun gw, apa urusan lo?" hahahaha. Urusan kita saling ngingetin sih sebenarnya...

Melihat orang-orang yang kata-katanya menyakitkan, membuat gw jadi lebih mikir sekarang. Jangan nulis sembarangan. Kayak posting berlebihan kemesraan suami istri, update segala macem kondisi kehamilannya, terus yang baru gw baca itu soal LDM (long distance marriage). Katanya mah "positif thinking aja". Sebetulnya harus berjalan dua arah. Orang lain mudah bilang "positif thinking aja" karena belum ngerasain. Itulah perlunya empati. Iya, lu nikah langsung hamil, posting macem-macem, ada orang yang dua tahun belum hamil, mikir ga rasanya gimana? 

Tuh kan gw jadi nulis "gw" "elu", tulisannya kasar nih. 

============================================

Itu saya kasih contoh tulisan yang kurang lembut. Mungkin begini ya, banyaknya keributan/pertengkaran/dsb karena kita kurang mampu menerima perbedaan pendapat. Dan alasan utamanya adalah karena kita yakin bahwa apa yang kita yakini itulah yang paling benar, sisanya salah. Saya selalu bilang pada diri sendiri "pendapat orang lain belum tentu salah". Tapi terkadang penyampaian yang kurang baik membuat kebenaran itu nampak salah.

Atau mungkin saya yang terlalu sombong dan menganggap orang itu menyampaikan dengan cara yang salah, bisa jadi juga kan?

Saya tidak setiap waktu memikirkan ini, hanya waktu-waktu tertentu. Suami kebetulan ikut SPI (Sekolah Pemikiran Islam), beliau pasti lebih tahu soal pemikiran, saya sebaliknya, karena tidak berguru, sehingga saya (seringkali) punya pemikiran sendiri tanpa pengetahuan yang cukup. Ini yang membuat saya berbeda pendapat dengan suami. Ini pula yang membuat saya suka pusing sendiri.

Misalnya saja seperti kasus bendera France di facebook kemarin, soal mengingatkan kembali Gaza. Saya mengatakan hasil diskusi bersama teman, yang sama-sama punya pemikiran minor. Buat saya, membuat image baik seorang muslim menjadi penting saat ini. Bahkan kalau bisa itu bukan kepura-puraan, melainkan kebiasaan adab yang baik. Mengapa? karena banyak yang membenci kaum muslimin. "Mereka" berhasil membuat kita semua terpojok. Membuat mata dunia melihat bahwa itu adalah kesalahan kita, dan banyak yang percaya. Itu sebabnya saya bilang kenapa lebih baik menyampaikan kebenaran dengan cara yang lembut. Akhlak adalah contoh terbaik, terlebih lagi tutur kata yang baik. Ini hanya opini saya saja. Saya sendiri belum bisa untuk menjadi contoh bagi orang lain. Saya tidak mau memikirkan diri sendiri, tapi memikirkan umat jauh lebih sulit. Padahal kewajiban kita cuma menyampaikan satu ayat. 

Saya takut. Takut kalau saya ini sebenarnya hanya pura-pura peduli. 


No comments:

Post a Comment