Ekstrimis atau kaku tidak lepas
dari bagian orang-orang yang berusaha mengamalkan syariat, misalnya saja
persoalan hijab. Itu pun muncul berdasarkan penilaian orang lain. Cara berhijab
yang baik dan benar sudah dijelaskan dalam Alquran. Namun, penetapan standarnya
jadi berbeda bergantung pada pemahaman masing-masing orang. Ada yang yakin
bahwa style-nya sudah memenuhi syariat atau ada juga orang yang lebih memilih
berhati-hati, dan tidak serta merta mengubah style-nya sedemikian rupa. Saya
menghargai keduanya, sebab setidaknya mereka tidak hanya sekedar tahu, melainkan
juga mengamalkan kewajibannya.
Kadang saya berpikir, kita ini
terlalu banyak terpengaruh atau memberikan pengaruh. Hijab saat ini, banyak
sekali modelnya. Beberapa perancang busana muslim bahkan sudah memamerkan hasil
karyanya hingga ke negeri barat. Islam memang tidak kaku, sejatinya fleksibel.
Tapi kalau kita mau menelisik, fitrah perempuan yang cenderung menyukai
perhiasan atau harta akan jauh lebih tergiur dengan perkembangan fashion. Hal
itu akan terus menerus berkembang, sehingga kaum wanita perlu mengeluarkan uang
lebih banyak hanya untuk penampilan dibanding (mungkin), untuk menabung atau
kegiatan sosial. Tentunya, tidak semua wanita seperti itu.
Saya pernah bertanya pada
beberapa orang, hijab bercorak itu termasuk syar’i atau tidak. Hampir sebagian
besar menjawab bahwa tidak masalah menggunakan hijab bercorak asalkan menutup
dada. Saya pribadi tidak bisa menghukumi syar’i atau tidaknya. Namun, saya
memang memilih untuk menggunakan jilbab tanpa corak karena menurut saya jilbab
yang bercorak akan cenderung lebih mencolok dibandingkan dengan yang polos. Pun
saya juga memikirkan bahwa hal-hal seperti itu saya perhatikan manfaat dan
mudharatnya. Pada saat saya mengatakan seperti itu, mungkin ada akhwat yang
mengganggap saya aneh atau kaku.
Saya tipe yang tidak suka
diperhatikan banyak orang didepan umum. Mengapa demikian? Sebab itu bukan hal
penting buat saya. Adakalanya saya sebisa mungkin tidak diperhatikan laki-laki
sama sekali. Mengapa demikian? Sebab mereka bukan mahram saya, dan perhatian
mereka bukan hal penting yang harus ditanggapi.
Kita ini para wanita, cenderung
tampil cantik bukan dalam rangka mensyukuri nikmat Allah. Terlebih lagi karena
malu jika tidak mengikuti fashion yang ada, mungkin nantinya akan jadi pembicaraan
orang lain. Mungkin juga berdandan memang ingin sekedar terlihat cantik. Sebetulnya
jika kita berpikiran luas, banyak sekali hal yang lebih penting dari sekedar
terlihat cantik terutama dimata orang lain, apalagi yang bukan mahramnya.
Banyak kasus yang dibaliknya terdapat rahasia yang dirahasiakan lagi, lalu
dibuat konspirasi membingungkan, kemudian dipecah belahnya kaum muslim dan
sebagainya. Kurangnya ilmu kita para remaja muslim, yang terlalu banyak
memprotes pemerintah, berdemo, lalu mempelajari agama lain untuk antisipasi,
namun kurang pemahamannya terhadap agama sendiri. Banyak sekali hal yang lebih
penting dari sekedar tampil cantik.
Anggun dalam kesederhanaan,
inilah yang seharusnya dijadikan fashion trendsetter kita. Coba dipikirkan lagi
perlu atau tidak sih kita harus menghias hijab yang kita pakai sampai seperti
itu. Hijab bukanlah pengganti rambut.
Coba dipikirkan lagi ;)
No comments:
Post a Comment