Saturday, March 7, 2015

Disitu Kadang Saya Merasa Hina

Tamu tidak akan masuk jika tuan rumah tidak membukakan pintu, bukankah demikian?

Begitulah soal rasa, kompleks dan berbelit apabila melibatkan orang lain. Tapi sederhana serta nampak indah jika dirasakan sendiri, jika rasa itu ditempatkan dengan benar. Seringkali saya berpikir, siapa yang salah diantara kita. Meskipun kami semua mengaku salah. Saya sangat hina mempertahankan sesuatu yang bukan hak dan milik saya. Kemudian, saya belajar berlepas diri, mencoba memperbaiki akal sehat yang buta dan hancur. Hingga dia memiliki segalanya, tapi tidak lepas menyalahkan dan membenci saya atas ketidakbahagiaan yang dia rasakan. Disitu kadang saya merasa hina.

Memang itu adalah bentuk kehinaan. Tapi jika Allah tidak menghendaki demikian, sampai sekarang saya tidak pernah belajar. Tidak juga akan tahu hal seperti apa yang patut untuk dihargai dan diperjuangkan. Patut disyukuri segala peristiwa yang ada. Adab kita yang menentukan sukses atau tidaknya.

Lalu saat ini, keduanya meminta maaf. Merasa bersalah. Kemudian salah satunya bersedia berbohong untuk memperbaiki keadaan, dan semena-mena meninggalkan orang yang sangat mencintainya. Disisi lain dulu sang wanita tidak mengaku mencintainya, tapi saat ini sungguh diliputi kegalauan. Hingga saya berkesimpulan, artinya dulu dia memang mencintainya, bukan mengorbankan dirinya untuk kepentingan orang banyak, agar tidak ada wanita lain yang tersakiti? Betul begitukah? Semoga saya salah, saya tahu dia wanita cantik nan salihah, lembut bicara dan adabnya.

Saya sangat ingin membantu keduanya untuk bersatu. Tapi saya tidak mampu bertindak lebih dari ini. Keduanya bukan orang-orang yang saya pahami sifat dan wataknya.
Saya berdoa semoga ini bukan balasan dari apa yang pernah dilakukannya dulu, saya berdoa semoga bukan. Karena saya tahu betul itu sangat menyakitkan.

Saya hanya berharap, semoga keadaan menjadi lebih baik dan saling berlapang dada terhadap takdir yang akan terjadi.

No comments:

Post a Comment