Mengajak kebaikan tidak sebatas untuk orang-orang yang bersemayam di masjid, para alim ulama, atau orang-orang yang disebut sebagai "aktivis dakwah". Menyampaikan satu ayat kebaikan terhadap sesama juga hendaknya disampaikan sang awam, para penuntut ilmu. Saat ada seseorang yang nampak berkeinginan untuk memperbaiki diri, jauhi wajah dari bermuka masam, merendahkan orang lain atau memandang remeh.
Ketika itu, saya hanya berusaha memahami maksud baik seorang wanita yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga.
Awal mula kisah, dia menceritakan lika-liku hidupnya. Seorang wanita yang bersuamikan supir angkutan umum di kota Bogor, dan mempunyai tiga orang anak. Karena pergaulan, suaminya berteman dengan para pengguna obat-obatan terlarang. Meskipun tidak menggunakannya, saat terperangkap oleh polisi, suaminya ikut dipenjara. Hiduplah sebatang kara wanita ini bersama anak-anaknya. Tentu orangtuanya tidaklah tega jika membiarkan anak perempuan dan cucunya berduka dalam kesendirian maupun penderitaan. Orang tuanya ikut membantu merawat buah hati wanita tersebut.
Wanita ini merasa bahwa dia sudah "sedikit bebas" dari sang suami. Merasa bahwa hanya karena tidak dinafkahi, dia membolehkan dirinya untuk berpacaran dengan laki-laki lain, yang juga berprofesi sebagai supir angkutan umum. Memang sulit mengatakan secara frontal kepada wanita itu bahwa pacaran tidak diperbolehkan. Saya hanya mendengarkan, dan sesekali menyelipkan nasihat yang masih jauh dari kebenaran.
Hingga suatu saat, dia tampil mencolok dengan kalung emas dan perhiasan lainnya. Tiada kecurigaan sama sekali. Sebelumnya dia meragu akan menikah lagi atau tidak. Dia menuturkan pula bahwa suaminya sudah mengizinkan dirinya untuk menikah lagi. Namun pada akhirnya dia mengatakan pada saya bahwa dia tidak akan menikah.
Tidak disangka, dia berbohong kepada saya. Saya tidak sengaja mendengar bahwa dia mengaku telah menikah dengan seorang pria. Kebenaran itu di konfirmasi oleh seseorang yang bercerita langsung kepada saya. Bahkan orang ini juga bercerita tentang masa lalu si wanita. Dia pernah aborsi sebanyak dua kali, hasil hubungannya dengan laki-laki yang tidak halal.
Saya cukup terkejut mengetahui kebenaran tersebut. Pun saya juga tidak bisa berbuat banyak. Berdiri di depan pembatas kehidupan orang lain. Saya peduli, tapi saya tidak mampu dan sepertinya tidak ahsan pula jika saya terlalu mencampuri urusan orang lain.
Sebelum terjadi persitiwa ini saya sangat percaya kepada wanita itu. Sempat pula menelan informasi mentah-mentah yang dia ceritakan setiap kami bertemu. Mungkin, ini adalah masalah kecil yang dipandang sebelah mata. Tapi, dari kejadian ini saya belajar banyak untuk selalu menerapkan prinsip "stay positive, like proton", berhati-hati dalam menerima berita, dan bertabayyun terlebih dahulu dalam setiap peristiwa yang meragu.
Semoga Allah menjauhkan kami dari sifat pembohong.

No comments:
Post a Comment