Monday, September 12, 2016

Cerita Satu Tahun Pernikahan




Hari ini, setahun yang lalu, 13 September 2015, telah terjadi perjanjian seorang hamba dengan Tuhannya. Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah, hamba itu adalah suami saya. Seseorang yang terlalu berani mengambil resiko untuk menerima ketidak-shalihan dan ketidaksempurnaan saya.

Dari pernikahan, kita dapat mempelajari dan merasakan banyak hal.  Ada malu-malu saat pertama kali berhadapan, segan, serta takut kalau-kalau banyak sifat dalam diri kita yang tidak disukai pasangan. Lewat dari 6 bulan, perasaan malu itu akan berganti dengan malu-maluin hahahah, sudah tidak malu-malu lagi. Bahkan sering melakukan sesuatu diluar kewajaran akal manusia, istilahnya, menggila bersama-sama. Tapi, kadang saya suka penasaran, kalau pernikahan model ikhwan-akhwat nan lemah lembut itu seperti apa ? Mungkin saat kami tertawa terbahak-bahak mereka hanya tersenyum, ketika kami menggila mereka sedang bermusyawarah, atau mungkin ketika kami bermalas-malasan mereka sedang bermunajat.

Selalu Memantaskan Diri

Baru saja mendengar ihwal ini dari suami, bahwa katanya Ustadz Fauzil Adhim tidak setuju jika sebelum menikah saja kita mati-matian memantaskan diri untuk mendapat jodoh yang diinginkan. Memantaskan diri ini seharusnya tetap dilakukan setelah menikah. Artimya kita tetap belajar untuk menjadi seseorang yang lebih baik.

Ta'aruf sebenar-benarnya adalah setelah menikah. Memahami kesukaan, ketidaksukaan, dan sifat-sifat pasangan. Misalnya saya suka tempe, suami suka tahu. Saya tidak suka saat suami begitu, dan suami tidak suka saat saya begini. Terkadang saya menjadikan "ngambek" sebagai senjata, kalau sudah begitu maka saya akan diam seribu bahasa. Dan suami amat tidak suka didiamkan, kebingungan katanya.

Pencemburu

Cemburu itu nyatanya tidak selalu masalah hubungan laki-laki dengan perempuan lain. Tetapi juga perhatian-perhatian yang tidak ditujukan kepada pasangan. Terlalu sibuk dengan gadgetnya, chatting dengan temannya, dan lain-lain. Saya memang pencemburu, semua hal selain saya, saya cemburui. Parah memang. Bersyukurnya, suami menjadi tahu bahwa saya sangat mencintainya. Dari cemburu juga, seorang perempuan bisa menjaga izzah-nya, misalnya bagaimana kita bersikap terhadap laki-laki lain. Belum lama ini, saya menghapus semua kontak ikhwan, kecuali keluarga, dan tiga orang ikhwan yang memang ada beberapa kepentingan.

Nasihat untuk saya sendiri, jangan sekali-kali curhat dengan ikhwan lain, apalagi tentang persoalan rumah tangga. Sudah banyak kisah nyata, bahwa dimulai dari curhatlah perselingkuhan terjadi. Oleh sebab itu, jadilah suami-istri, pendengar yang baik bagi pasangannya.

Tidak Percaya Diri dan Berpikiran Negatif

Tidak pintar, tidak cantik, tidak bisa masak dan lain-lain. Pikiran seperti ini mulai bergerumul setelah menikah, setiap ada kejadian tidak menyenangkan. Lama-kelamaan menjadi momok bagi saya. Dan ketika saya survey, teman saya pun turut merasakan ketidakpercayaan diri ini, terutama masalah fisik.

Kalau jalan-jalan ke mall, kadang suka heran. Perempuan tidak dandan, hanya pakai kaos biasa dan celana pendek, tapi kelihatan cantik sekali. Saya, sudah semaksimal mungkin, tapi rasanya tetap jelek setiap saat, hahaha. Dari dulu saya tidak suka dandan. Dan takut dandan saat keluar rumah. Pikiran bertanya-tanya, kalau saya dandan itu buat apa? Soal dandan ini menjadi social pressure bagi saya. Terlebih lagi selebgram-selebgram yang bertebaran membuat saya jadi bingung. Saya sampai mencari-cari dan mempermasalahkan lagi, ini hijab syar'i atau bukan. Namun, saya harus sadar diri, dan melunak, setelah membaca pendapat dari Ustad Ahmad Sarwat. Sebaiknya kita tidak menjudge syar'i atau tidak syar'i seperti itu, karena dalam pengertian hijab/jilbab/khimar dan istilah lainnya saja terdapat perbedaan pendapat pada sebagian ulama. Jadi, yang paling penting adalah menutup aurat.

Kita memang menjalani pernikahan dengan sangat bahagia. Tapi omongan-omongan usil orang lain seringkali mengganggu. Terlebih lagi saya tidak langsung hamil setelah menikah. Kami sendiri tidak menunda, namun berserah diri, biarlah Allah yang menentukan kapan waktu yang terbaik. Hingga akhrinya, di bulan Ramadhan saya positif hamil. Tekanan sedikit berkurang, setidaknya saya bisa tersenyum saat ditanya di Hari Raya. Allah berkehendak lain setelah 9 minggu usia kehamilan. Dokter menyatakan bahwa janin saya tidak berkembang. Tidak boleh menunggu lama, saya harus segera dikuret karena dapat menimbulkan infeksi pada rahim. Sedih, tapi ternyata ibu saya yang terlihat paling sedih. :(

Ini menjadi pelajaran tersendiri, untuk berhati-hati dalam berbicara, bertanya, kepo soal ini itu. Kadang orang tidak tahu apa yang kita alami, begitu pula sebaliknya. Saya menutup diri dari banyak orang, bahkan menghindari pertemuan-pertemuan.

Ada pula tetangga yang bilang, katanya saya tidak mengurusi suami saya. Kalau saya kasar, dan jahat, saya rasanya mau bilang ke tetangga ini, kenapa dia tidak mengurusi anaknya yang jarang sholat ?? Tapi, lagi-lagi, mulutmu harimaumu, kata ibu saya biarkan saja, jangan didengarkan. Agaknya kejadian ini menjadi lahan introspeksi diri, mungkin saya memang belum bisa mengurusi suami.

Jadilah diri sendiri, itulah yang dinasihatkan oleh suami. Menjadi diri sendiri juga membuat saya bingung, saya harus bagaimana ? Sampai akhirnya saya memutuskan untuk menjadi diri saya yang dulu, yang nyaman dengan segala kepolosan. Toh, dulu pun, sebelum menikah, dihadapan suami saya tidak pernah memakai make up, atau berpura-pura menjadi wanita cantik nan-modis. Itu saya apa adanya. Yang teman-teman saya lihat di kampus, itulah saya. Akhirnya, hanya suami saya yang menerima saya apa adanya.

Pikiran negatif ini terjadi karena adanya perasaan membanding-bandingkan. Padahal setiap hal punya keelokkannya masing-masing. Sungguh, menjadi diri sendiri adalah kenikmatan dalam kebaikan, yang membuat kita bersyukur, bahwa Allah telah menjadikan kita sebaik-baik bentuk, ya inilah kita, inilah saya, dan inilah Anda.

Makan dan Memasak

Apakah saya bisa memasak? Oh, tentu tidak, hahaha. Memasak juga bukan hobi saya. Tapi saya tetap belajar memasak karena kesenangan melayani. Barangsiapa yang rajin memasak, maka berkuranglah pengeluaran bulanan, hahaha. Karena jajan atau makan diluar memang menghabiskan banyak biaya. Jika seratus ribu sudah mampu terbeli berbagai macam sayuran dan lauk, untuk makan diluar hanya satu kali makan saja.

Sama-sama menyukai makanan membuat saya tidak kesulitan untuk menyiapkannya. Kami bukan orang yang pilih-pilih makanan. Ada kerupuk kesukaan kami, dapat dibeli di warung Tamat, hahaha. Harganya dua belas ribu, tapi habis hanya dalam waktu tiga hari. Ada juga cakwe SD yang selalu menjadi incaran kami, tapi sayangnya kami sudah tidak menemukan penjualnya lagi. Tidak hanya yang asin, yang manis pun kami santap dengan lahap. 

PlayStation

Setelah menikah adalah saat dimana saya untuk pertama kalinya bermain game console, PlayStation 2. Sudah jadul memang, tapi tak apa. Pun saya juga merasakan kesenangannya. Saya dan suami hobi sekali tertawa terbahak-bahak, tidak jelas pula apa yang ditertawai, hahaha. Saat bermain PS pun demikian. Hingga suatu saat, tetangga sebelah tertanggu oleh suara tertawa kami sebab cucunya sedang sakit. Kejadian itu agaknya membuat kami menjadi lebih berhati-hati, lebih peka akan keadaan sesama.

Naruto, Metal Slug, Crash Bandicoot, multiplayer game yang kami mainkan bersama. Suami saya tertawa geli, ketika bermain menggerakkan tangan ke atas bawah dan kiri kanan, padahal itu tidak berpengaruh pada gerakan karakter game-nya, *face palm, lol

Poligami

Pembahasan yang tidak pernah surut, dikhawatirkan, ditakuti, sebagian besar wanita menafikannya. Dulu sekali, saya berpikir bahwa poligami mampu mengembangkan pribadi seorang wanita. Meskipun demikian, saat ini dan nanti saya tidak ingin dipoligami. Bukan mengingkari kebolehan dari perintah Allah. Namun esensinya memang tidak mudah. Teman diskusi saya, M.E. mengatakan, bahwa dia akan membuang madu dan anaknya ke jurang jika suaminya poligami. Suaminya sendiri tidak bisa berjanji untuk tidak poligami karena sebagai manusia kita tidak tahu takdir yang menanti. Hakikatnya, inilah yang membuat para istri galau. Teman lain yang berinisial W.A. pernah berpikir untuk mengizinkan suaminya berpoligami sebab dalam satu tahun pernikahannya dia belum juga diberi karunia seorang anak. Tapi, sesungguhnnya dia memang amat sangat tidak rela berbagi suami.

Harus adil syaratnya, tapi bukan dalam perasaan. Sudah fitrahnya hati akan condong kepada salah satunya. Tidak dipungkiri, malah hal ini yang terlihat sangat memberatkan. Sungguh indah jika kita diberi kelembutan dan kelapangan hati untuk menerima, bersyukur, dan bersabar, tapi... itu lagi... tidak rela, sulit, Rasanya hati hancur, padahal saya belum mengalaminya hahaha, dan juga tidak ingin mengalaminya. "Jangan poligami ya bii, plisss, ..." begitu kata saya, hahaha.




Tiada kata lagi yang mampu ditumpahkan, selain perasaan bahagia, bersyukur, berterima kasih kepada Allah, terima kasih sudah dipertemukan. Satu tahun waktu yang amat singkat. Dalam hitungan akhirat mungkin tidak sampai sehari. 

Ujian selalu menanti, yang berupa kesedihan atau kebahagiaan. Namun, semoga, semoga, dan semoga... kami bisa melaluinya, terus, lurus, hingga akhir waktu. Mudah-mudahan dipertemukan kembali dikehidupan yang kekal.

Terima kasih banyak untuk suami, yang selalu memahami dan mendengarkan, yang mau menerima dan mendidik kebobrokan jiwa raga ini, yang selalu bersedih ketika saya bersedih, yang ikut tertawa ketika saya tertawa, yang mengingatkan untuk menjadi diri sendiri, percaya diri, dan berprasangka baik, yang tidak pernah lupa apa-apa yang tidak saya sukai, yang membiarkan saya asyik masyuk melakukan hobi, yang menyadarkan saya, bahwa hidup ini adalah sekolah kehidupan, dan yang bersedia menerima rasa cinta ini. Saya sangat mencintaimu...





3 comments:

  1. Suka banget baca tulisan ini. Semoga langgeng terus kak Inot dan kak Agung ^^

    ReplyDelete
  2. Aamiin, Allhumma aamiin, semoga Ica segera dipertemukan dengan jodohnya :D

    ReplyDelete
  3. Barokallah... semoga sakinah mawaddah warahmah dan menjadi keluarga Al-Quran Amin

    ReplyDelete