Dari
judul sudah terlihat bahwa tulisan ini isinya pemikiran negatif hahaha. Semoga
meskipun itu negatif, namun semoga tetap bisa memberi manfaat.
Hingga
saat ini saya masih bingung dimana kelebihan dan potensi saya sebagai seorang
manusia hahaha. Ada yang bilang kita sulit menemukan kelebihan diri sendiri
karena terlalu fokus pada kekurangan.
Semua
orang punya kelebihan dan kekurangan dalam hal yang berbeda. Buruknya kita yang
suka menggampangkan diri seperti “menuduh” atau beranggapan orang lain yang
tidak punya kemampuan yang sama seperti dirinya itu kurang berusaha atau
bekerja keras dalam bidang yang sama. Makanya ada orang yang pintar matematika
(logika), tapi tidak pintar biologi. Pintar dalam hal agama tapi kurang pintar
fisika. Contoh lain adalah saya yang tidak pintar dalam segala hal hahahaha.
Jadi, memang, bisa saja orang itu bekerja keras dalam bidang lainnya.
Intinya
untuk berhasil perlu keluar dari zona nyaman. Dulu saya sangat monoton sekali.
Tidak berkegiatan dan menikmati itu. Setiap hari menonton anime, baca komik,
menunggu episode baru setiap minggunya, kemudian menonton film. Tidak produktif
sekali. Saya juga tidak tahu dapat inisiatif darimana untuk keluar dari zona
nyaman ini.
Selepas
lulus smakbo saya kuliah di sebuah akademi, dimana hanya orang-orang tertentu
saja yang mengetahui bahwa akademi tersebut ada dan nyata, hahaha. Orang tua
mengharapkan saya untuk kuliah di universitas ternama seperti UGM, UI, ITB, dan
IPB. Keluarga saya bilang, saya tidak berpikir positif, sudah menyerah dan
kurang berusaha. Saya tidak mau membela diri dan membantah semua
aggapan-anggapan itu. Saat itu saya sama sekali tidak memahami materi yang akan
diujikan saat smptn. Saya belajar di tempat les kurang dari 5 bulan sebelum
ujian smptn. Sedangkan teman-teman saya yang mau kuliah sudah les dari kelas 3
atau bahkan kelas 2. Saya sangat kebingungan dan terbebani. Saya sudah mencoba
untuk membaca dan latihan soal-soal, tapi saya tetap tidak mengerti. Saya bukan
menyerah, tapi mengukur kemampuan diri. Saya mau kuliah di IPB tapi dengan
kemampuan seperti saya saat itu sangat kurang sekali, sedangkan saya diharuskan
memilih jurusan favorit/banyak peminat. Akhirnya saya memutuskan untuk tidak
ikut smptn.
Kuliah
ditahun pertama saya sangat menyukai fisika. Dosen fisika saya, Bapak Mohamad
Hayat, menjelaskan materi fisika dengan sangat baik, mudah dipahami. Dan mulai
dari sana saya menemukan cara belajar untuk saya sendiri. Saya sekolah selama
13 tahun, namun baru menemukan metode terbaik saya untuk belajar adalah saat
kuliah. Saya juga mulai tertarik untuk nongkrong di perpustakaan. Mencoba
belajar membaca buku teks berbahasa Inggris. Mudah? Tidak, itu sulit buat saya.
Tapi saya senang melakukannya. Di buku Skoog saya menemukan instrumen yang
tidak familiar seperti Auger Electron Spectrometry. Menemukan kosa kata dan
pengetahuan baru ternyata didapat dari banyak membaca. Saya baru sadar saat
itu.
Kemudian
teman smakbo yang dulu satu pkl dengan saya, Ndaw, memberitahu saya sesuatu
yang bagus, semacam film dokumenter tentang astronomi, yaitu Cosmos yang dibawakan
oleh Neil Degrasse Tyson. Meskipun dia mennyetujui teori evolusi, tapi banyak
sekali pengetahuan astronomi yang menarik.
Tapi
apakah orang lain tahu proses saya belajar? Tidak kan, begitu pula sebaliknya
saya tidak tahu proses orang lain belajar. Keadaan juga tidak memungkinkan setiap
orang untuk menjelaskan bagaimana mereka belajar agar orang lain paham
ketidaksamaan kemampuan masing-masing.
Sampai
sekarang saya juga berpikir, sulit sekali untuk menjadi orang yang pandai dalam
ilmu pengetahuan namun juga mampu menghapal Alquran disaat bersamaan. Membagi
waktunya sulit. Harus sangat fokus sekali menghapal Alquran, disiplin,
mengulang-ngulang setiap hari.
Sama
halnya dengan persoalan berdagang. Berdagang adalah langkah awal saya untuk
keluar dari zona nyaman. Katanya saya kurang berusaha dalam belajar, tapi saat
saya suruh dia untuk berdagang sendiri alasannya, “tidak bisa”, “tidak ahli”,
dan sebagainya. See? Kalau punya kelebihan pasti ada kurangnya, dan itu berbeda
pada masing-masing orang. Memangnya saya bisa berdagang? Saya tidak bisa, dan
tidak tahu bagaimana harus memulai.
Akhirnya
saat kuliah, saya belajar mulai dari jualan pulsa, jualan pulpen dan penggaris
di kampus, sampai jadi buruh cuci jas lab yang tarifnya hanya 2000/jas lab. Dari
jualan pulsa, saya jadi tahu rasanya dihutangi uang hahaha, harus berani
menagih hutang, kemudian caranya berjualan pulsa, berapa untung ruginya. Dari
jualan pulpen dan penggaris, saya belajar bahwa barang dagangan saya laku
karena itu sesuai kebutuhan mahasiswa atau teman-teman saat itu yang tiba-tiba
pulpennya hilang, lupa bawa pulpen, atau tinta pulpennya habis. Dari membuka
jasa cuci jas lab saya belajar harus dibagaimanakan supaya nodanya hilang, dan
jas lab selesai dicuci tepat waktu.
Merambahlah
saya mencoba untuk berdagang online. Saya belajar bagaimana caranya complain ke
JNE kalau barang yang saya kirim tidak sampai. Saya juga belajar tanggapan
orang-orang yang membeli produk saya. Ternyata metode Rasulullah saw berdagang
itu benar, jangan menutupi kekurangan dari barang dagangan. Intinya jujurlah.
Semua
butuh proses pembelajaran. Sadarlah saya pada posisi ini, jangan menjudge orang
lain yang kemampuannya tidak seperti kita. Orang itu pasti punya kelebihan yang
mungkin tidak kita ketahui, dan proses belajar yang tidak kita pahami. Jangan
dengan mudah “menuduh” orang lain tidak berusaha karena kita lebih dimudahkan
dalam kesuksesan.
Dua
tahun masa kuliah adalah salah satu masa terbaik yang pernah saya rasakan.
Belum pernah saya merasa begitu menikmati rasanya belajar saat itu. Tapi ya
itu, beberapa orang menganggap bahwa hanya orang-orang yang berkuliah di
universitas ternama saja yang dapat merasakan pengalaman hebat. Padahal
pengalaman hidup atau pembelajaran bisa kita temukan dimana saja. Misalnya saja
orang-orang yang memilih bekerja sambil kuliah, itu sulit lho. Perjuangan
kuliah dengan biaya sendiri.
Dan…
lalu saya bersuudzon seperti dianggap tidak berusaha untuk mencari beasiswa
atau uang tambahan. Sistem pemberian beasiswa di akademi berbeda dengan
universitas. Tidak banyak beasiswa yang diberikan disini. Hanya mahasiswa aktif
berorganisasi dan mendapat IP tinggi yang mendapatkannnya. Lalu… lagi… saya
dianggap kurang berusaha dalam belajar karena IP tidak sampai 3.5, hahaha.
Padahal saat itu masa-masa saya senang belajar. Saya sudah menutup mata
terhadap IP, yang penting saya belajar dan saya menikmatinya.
Terlebih
lagi saya tidak mengikuti organisasi. Kemudian saya diberi saran harus
mengikuti organisasi. Katanya yang suka berorganisasi akan mendapat pekerjaan
lebih cepat. Pendapat itu tidak salah, tapi menurut saya jangan pula menuduh
orang yang tidak berorganisasi tidak
akan lebih sukses. Kita tidak tahu kesuksesan apa yang dapat mereka raih di
masa depan. Bisa saja mereka menjadi berubah. Dan kesadaran diri orang lain
untuk berubah tidaklah sama. Kadang mereka harus mengalami hal buruk terlebih
dulu baru tersadar.
Saya
baru mendapat pekerjaan dua bulan setelah wisuda. Ada teman yang mendapat
pekerjaan lebih cepat bahkan sebelum wisuda. Mereka bekerja sebagai sales bukan
analis, lalu beberapa orang menyesal dan ingin kerja di laboratorium saja.
Teman saya, perempuan, bekerja tiga shift, kantornya juga tidak terlalu dekat
dengan rumah. Bayangkan wanita harus pulang sendirian di malam hari. Tapi gaji dia lebih besar dari saya hahaha, ya
jelas dia kan tiga shift. Gaji saya tidak sebesar dia, namun kantor saya dekat
sekali dari rumah.
Saya
wisuda pada bulan November, dan sudah berniat untuk menunggu kira-kira sebulan
lagi. Jika tidak ada panggilan kerja di Bogor maka saya akan berhenti ngekos
dan pulang ke rumah. Qodarullah, saya tidak mendapat kerja di Bogor. Bulan
Januari saya mendapat kerja yang lokasinya sangat dekat dari rumah. Kalau saat
itu saya bekerja di Bogor mungkin saya belum menikah sekarang. See? Ada hikmahnya
bukan? Teman-teman yang lain yang belum mendapatkan pekerjaan juga demikian,
bukan mereka tidak berusaha, tapi Allah yang mengatur rezeki kita.
Ya
begitulah, catatan saya setelah menikah, ada banyak yang harus diubah, berusaha
keluar dari zona nyaman. Sekarang harus berusaha berpikir positif, menumbuhkan
rasa empati, banyak-banyak bersabar karena akan ada banyak mulut yang bicara,
diimbangi dengan syukur yang setinggi-tingginya, agar saat diuji kita tidak
berpikir bahwa kita adalah orang paling sengsara di dunia.
Pada
akhirnya, harus ada sisi saya yang dulu yang perlu saya terapkan saat ini,
yaitu ketidakpedulian. Saat kuliah, teman-teman saya bilang kalau saya pakai
baju itu tidak matching, kurang gaul. Tapi buat saya itu sangat buang-buang
waktu memikirkan baju apa yang pas untuk kuliah. Bagi saya yang penting menutup
aurat, tidak mencolok, tidak menyerupai lawan jenis, dada tertutup, sopan. Pantas
saja Mark Zuckerberg tidak punya banyak gaya, sederhana sekali, bahkan warna
yang dipakai itu-itu saja. Karena demikian kenyatannya, terlalu memikirkan
penampilan itu sangat buang-buang waktu. Lagipula saya bukan artis yang pakai
apapun selalu dikomentari orang.
Ketidakpedulian
yang kedua adalah dengarkan yang penting saja. Karena mendengarkan omongan yang
tidak penting cuma akan bikin bingung dan pusing. Kita tidak bisa membuat semua
orang bahagia dan setuju terhadap tindakan yang kita lakukan, yang penting
berusaha yang terbaik.
No comments:
Post a Comment