Wednesday, October 28, 2015

Sulitnya...

Dari judul sudah terlihat bahwa tulisan ini isinya pemikiran negatif hahaha. Semoga meskipun itu negatif, namun semoga tetap bisa memberi manfaat.

Hingga saat ini saya masih bingung dimana kelebihan dan potensi saya sebagai seorang manusia hahaha. Ada yang bilang kita sulit menemukan kelebihan diri sendiri karena terlalu fokus pada kekurangan.

Pun saya memang mengakui bahwa saya fokus pada kekurangan karena itu yang harus saya perbaiki. Saya bukan sudah baik, tapi jika dibanding dulu, saya sedikit better-lah. Tapi cuma sedikit. Tidak apa, dibanding tidak berubah sama sekali.

Semua orang punya kelebihan dan kekurangan dalam hal yang berbeda. Buruknya kita yang suka menggampangkan diri seperti “menuduh” atau beranggapan orang lain yang tidak punya kemampuan yang sama seperti dirinya itu kurang berusaha atau bekerja keras dalam bidang yang sama. Makanya ada orang yang pintar matematika (logika), tapi tidak pintar biologi. Pintar dalam hal agama tapi kurang pintar fisika. Contoh lain adalah saya yang tidak pintar dalam segala hal hahahaha. Jadi, memang, bisa saja orang itu bekerja keras dalam bidang lainnya.

Intinya untuk berhasil perlu keluar dari zona nyaman. Dulu saya sangat monoton sekali. Tidak berkegiatan dan menikmati itu. Setiap hari menonton anime, baca komik, menunggu episode baru setiap minggunya, kemudian menonton film. Tidak produktif sekali. Saya juga tidak tahu dapat inisiatif darimana untuk keluar dari zona nyaman ini.

Selepas lulus smakbo saya kuliah di sebuah akademi, dimana hanya orang-orang tertentu saja yang mengetahui bahwa akademi tersebut ada dan nyata, hahaha. Orang tua mengharapkan saya untuk kuliah di universitas ternama seperti UGM, UI, ITB, dan IPB. Keluarga saya bilang, saya tidak berpikir positif, sudah menyerah dan kurang berusaha. Saya tidak mau membela diri dan membantah semua aggapan-anggapan itu. Saat itu saya sama sekali tidak memahami materi yang akan diujikan saat smptn. Saya belajar di tempat les kurang dari 5 bulan sebelum ujian smptn. Sedangkan teman-teman saya yang mau kuliah sudah les dari kelas 3 atau bahkan kelas 2. Saya sangat kebingungan dan terbebani. Saya sudah mencoba untuk membaca dan latihan soal-soal, tapi saya tetap tidak mengerti. Saya bukan menyerah, tapi mengukur kemampuan diri. Saya mau kuliah di IPB tapi dengan kemampuan seperti saya saat itu sangat kurang sekali, sedangkan saya diharuskan memilih jurusan favorit/banyak peminat. Akhirnya saya memutuskan untuk tidak ikut smptn.

Kuliah ditahun pertama saya sangat menyukai fisika. Dosen fisika saya, Bapak Mohamad Hayat, menjelaskan materi fisika dengan sangat baik, mudah dipahami. Dan mulai dari sana saya menemukan cara belajar untuk saya sendiri. Saya sekolah selama 13 tahun, namun baru menemukan metode terbaik saya untuk belajar adalah saat kuliah. Saya juga mulai tertarik untuk nongkrong di perpustakaan. Mencoba belajar membaca buku teks berbahasa Inggris. Mudah? Tidak, itu sulit buat saya. Tapi saya senang melakukannya. Di buku Skoog saya menemukan instrumen yang tidak familiar seperti Auger Electron Spectrometry. Menemukan kosa kata dan pengetahuan baru ternyata didapat dari banyak membaca. Saya baru sadar saat itu.

Kemudian teman smakbo yang dulu satu pkl dengan saya, Ndaw, memberitahu saya sesuatu yang bagus, semacam film dokumenter tentang astronomi, yaitu Cosmos yang dibawakan oleh Neil Degrasse Tyson. Meskipun dia mennyetujui teori evolusi, tapi banyak sekali pengetahuan astronomi yang menarik.

Tapi apakah orang lain tahu proses saya belajar? Tidak kan, begitu pula sebaliknya saya tidak tahu proses orang lain belajar. Keadaan juga tidak memungkinkan setiap orang untuk menjelaskan bagaimana mereka belajar agar orang lain paham ketidaksamaan kemampuan masing-masing.

Sampai sekarang saya juga berpikir, sulit sekali untuk menjadi orang yang pandai dalam ilmu pengetahuan namun juga mampu menghapal Alquran disaat bersamaan. Membagi waktunya sulit. Harus sangat fokus sekali menghapal Alquran, disiplin, mengulang-ngulang setiap hari.

Sama halnya dengan persoalan berdagang. Berdagang adalah langkah awal saya untuk keluar dari zona nyaman. Katanya saya kurang berusaha dalam belajar, tapi saat saya suruh dia untuk berdagang sendiri alasannya, “tidak bisa”, “tidak ahli”, dan sebagainya. See? Kalau punya kelebihan pasti ada kurangnya, dan itu berbeda pada masing-masing orang. Memangnya saya bisa berdagang? Saya tidak bisa, dan tidak tahu bagaimana harus memulai.

Akhirnya saat kuliah, saya belajar mulai dari jualan pulsa, jualan pulpen dan penggaris di kampus, sampai jadi buruh cuci jas lab yang tarifnya hanya 2000/jas lab. Dari jualan pulsa, saya jadi tahu rasanya dihutangi uang hahaha, harus berani menagih hutang, kemudian caranya berjualan pulsa, berapa untung ruginya. Dari jualan pulpen dan penggaris, saya belajar bahwa barang dagangan saya laku karena itu sesuai kebutuhan mahasiswa atau teman-teman saat itu yang tiba-tiba pulpennya hilang, lupa bawa pulpen, atau tinta pulpennya habis. Dari membuka jasa cuci jas lab saya belajar harus dibagaimanakan supaya nodanya hilang, dan jas lab selesai dicuci tepat waktu.

Merambahlah saya mencoba untuk berdagang online. Saya belajar bagaimana caranya complain ke JNE kalau barang yang saya kirim tidak sampai. Saya juga belajar tanggapan orang-orang yang membeli produk saya. Ternyata metode Rasulullah saw berdagang itu benar, jangan menutupi kekurangan dari barang dagangan. Intinya jujurlah.

Semua butuh proses pembelajaran. Sadarlah saya pada posisi ini, jangan menjudge orang lain yang kemampuannya tidak seperti kita. Orang itu pasti punya kelebihan yang mungkin tidak kita ketahui, dan proses belajar yang tidak kita pahami. Jangan dengan mudah “menuduh” orang lain tidak berusaha karena kita lebih dimudahkan dalam kesuksesan.

Dua tahun masa kuliah adalah salah satu masa terbaik yang pernah saya rasakan. Belum pernah saya merasa begitu menikmati rasanya belajar saat itu. Tapi ya itu, beberapa orang menganggap bahwa hanya orang-orang yang berkuliah di universitas ternama saja yang dapat merasakan pengalaman hebat. Padahal pengalaman hidup atau pembelajaran bisa kita temukan dimana saja. Misalnya saja orang-orang yang memilih bekerja sambil kuliah, itu sulit lho. Perjuangan kuliah dengan biaya sendiri.

Dan… lalu saya bersuudzon seperti dianggap tidak berusaha untuk mencari beasiswa atau uang tambahan. Sistem pemberian beasiswa di akademi berbeda dengan universitas. Tidak banyak beasiswa yang diberikan disini. Hanya mahasiswa aktif berorganisasi dan mendapat IP tinggi yang mendapatkannnya. Lalu… lagi… saya dianggap kurang berusaha dalam belajar karena IP tidak sampai 3.5, hahaha. Padahal saat itu masa-masa saya senang belajar. Saya sudah menutup mata terhadap IP, yang penting saya belajar dan saya menikmatinya.

Terlebih lagi saya tidak mengikuti organisasi. Kemudian saya diberi saran harus mengikuti organisasi. Katanya yang suka berorganisasi akan mendapat pekerjaan lebih cepat. Pendapat itu tidak salah, tapi menurut saya jangan pula menuduh orang yang tidak berorganisasi  tidak akan lebih sukses. Kita tidak tahu kesuksesan apa yang dapat mereka raih di masa depan. Bisa saja mereka menjadi berubah. Dan kesadaran diri orang lain untuk berubah tidaklah sama. Kadang mereka harus mengalami hal buruk terlebih dulu baru tersadar.

Saya baru mendapat pekerjaan dua bulan setelah wisuda. Ada teman yang mendapat pekerjaan lebih cepat bahkan sebelum wisuda. Mereka bekerja sebagai sales bukan analis, lalu beberapa orang menyesal dan ingin kerja di laboratorium saja. Teman saya, perempuan, bekerja tiga shift, kantornya juga tidak terlalu dekat dengan rumah. Bayangkan wanita harus pulang sendirian di malam hari.  Tapi gaji dia lebih besar dari saya hahaha, ya jelas dia kan tiga shift. Gaji saya tidak sebesar dia, namun kantor saya dekat sekali dari rumah.

Saya wisuda pada bulan November, dan sudah berniat untuk menunggu kira-kira sebulan lagi. Jika tidak ada panggilan kerja di Bogor maka saya akan berhenti ngekos dan pulang ke rumah. Qodarullah, saya tidak mendapat kerja di Bogor. Bulan Januari saya mendapat kerja yang lokasinya sangat dekat dari rumah. Kalau saat itu saya bekerja di Bogor mungkin saya belum menikah sekarang. See? Ada hikmahnya bukan? Teman-teman yang lain yang belum mendapatkan pekerjaan juga demikian, bukan mereka tidak berusaha, tapi Allah yang mengatur rezeki kita.

Ya begitulah, catatan saya setelah menikah, ada banyak yang harus diubah, berusaha keluar dari zona nyaman. Sekarang harus berusaha berpikir positif, menumbuhkan rasa empati, banyak-banyak bersabar karena akan ada banyak mulut yang bicara, diimbangi dengan syukur yang setinggi-tingginya, agar saat diuji kita tidak berpikir bahwa kita adalah orang paling sengsara di dunia.

Pada akhirnya, harus ada sisi saya yang dulu yang perlu saya terapkan saat ini, yaitu ketidakpedulian. Saat kuliah, teman-teman saya bilang kalau saya pakai baju itu tidak matching, kurang gaul. Tapi buat saya itu sangat buang-buang waktu memikirkan baju apa yang pas untuk kuliah. Bagi saya yang penting menutup aurat, tidak mencolok, tidak menyerupai lawan jenis, dada tertutup, sopan. Pantas saja Mark Zuckerberg tidak punya banyak gaya, sederhana sekali, bahkan warna yang dipakai itu-itu saja. Karena demikian kenyatannya, terlalu memikirkan penampilan itu sangat buang-buang waktu. Lagipula saya bukan artis yang pakai apapun selalu dikomentari orang.

Ketidakpedulian yang kedua adalah dengarkan yang penting saja. Karena mendengarkan omongan yang tidak penting cuma akan bikin bingung dan pusing. Kita tidak bisa membuat semua orang bahagia dan setuju terhadap tindakan yang kita lakukan, yang penting berusaha yang terbaik.


No comments:

Post a Comment