Punya atau tidak punya suami apa bedanya? Mungkin persoalan tanggung jawab.
Dulu saya mikir, ko orang-orang yang sudah menikah seperti "tenggelam", hilang dari permukaan. Dihubungi sulit. Saya penasaran apa yang mereka lakukan dirumah. Sampai saya memutuskan nanti kalau sudah menikah jangan seperti itu. Ya, saat itu saya bersuudzon.
Kemudian, saya merasakan sendiri menjadi seorang istri. Awalnya sulit membangun kebiasaan baru. Namun tanggung jawab mengharuskan saya tidur lebih malam dan bangun lebih awal. Meskipun tidak selalu setiap hari bisa seperti itu.
Mendengar cerita dari beberapa teman yang juga sudah menikah, mereka malah merasa tidak punya teman. Dulu saya pikir, teman yang ditinggalkan menikah oleh sahabatnya yang akan merasa tidak punya teman, namun ini sebaliknya. Dan yang saya pribadi rasakan, saya merasa bahwa saya tidak berubah tapi orang lain yang mulai berubah.
"Mungkin", begitulah kata pertama untuk bersikap husnudzon, mereka enggan karena khawatir menganggu aktivitas kita dalam mengurus rumah tangga.
Tentunya kasus ini tidak dialami oleh semua orang, ini hanya sudut pandang saya saja. Kadang saya bingung juga harus bagaimana.
Waktu sahabat saya menikah, saya merasa sangat kehilangan. Kehilangan teman bicara, kehilangan teman bermain. Saya bukan orang yang berani kemana-mana sendirian. Jadi untuk jalan-jalan bahkan ke mall sekalipun rasanya sepi sekali jika sendirian. Saat itu saya nekat untuk mengajak dia nonton bahkan menginap padahal dia sedang hamil!! Mungkin suaminya paham dan mengerti, suaminya mengizinkan, baginya menikah bukan menjadi halangan untuk saya dan istrinya tidak lagi menjalin persahabatan seperti dulu, Tentunya saya tidak memaksakan kehendak saya ketika itu. Saya juga merasa khawatir, dan tidak enak. Bagaimana pun juga suaminya lebih berhak dari saya.
Ada juga teman saya yang belum menikah namun merasa dirinya tidak punya teman, padahal dia cantik, baik, shalihah, disukai banyak orang.
Kesibukan terhadap pekerjaan rumah, mungkin yang membuat seorang istri merasa jauh dari temannya karena kurang berinteraksi. Apalagi wanita-wanita karir yang bekerja dikantor.
Kalau diperhatikan, teman-teman di Facebook saat-saat awal sangat hobi sekali menceritakan pernikahan mereka yang digambarkan melalui foto-foto. Lalu saling update status dan mention, sharing artikel, dan memuji pasangan masing-masing. Lalu, kemudian, bergantilah postingan soal kehamilan, setelah itu segala prentelan aktivitas anak. Beberapa orang menghilang begitu saja, sibuk menghadapi dunia nyata mereka. Memang setelah menikah banyak sekali yang harus dipikirkan. Tidak lupa ada adab-adab yang harus dijaga.
Ini sudut pandang yang kurang objektif. Dalam kondisi berbeda, ibu rumah tangga yang punya bisnis dirumah cenderung menjadi lebih aktif. Memang tidak semua hal tidak bisa kita nilai dari apa yang mereka posting di media sosial.
Tapi saya penasaran, apa yang membuat mereka merasa tidak punya teman?
Mudah-mudahan saya bisa survei persoalan ini.
No comments:
Post a Comment