Siapa sih yang tidak suka diperhatikan? Memang ada beberapa orang yang hanya ingin diperhatikan dalam hal-hal tertentu. Perhatian dari orang lain pula yang dirasa oleh kita sebagai saat yang tepat untuk "show up" atau menunjukkan kemampuan.
Adanya perasaan diperhatikan juga menunjukkan secara nyata bahwa kita sedang tidak sendirian. Pun juga ada saat dimana kita merasa sangat butuh diperhatikan, namun kita terlanjur menjudge keadaan dengan ketidakberpihakkan. Sehingga kita merasa "tidak ada yang mau mengerti".
Wajar memang mencari perhatian orang lain. Tapi jika berlebihan, ternyata itu adalah suatu penyakit psikologis. Penyakit ini mampu membuat seseorang menjadi nyaman meskipun harus melukai diri sendiri agar diperhatikan oleh orang lain.
Bahkan sebagian konflik rumah tangga dapat muncul karena kurangnya perhatian. Seperti suami yang berselingkuh karena merasa tidak diperhatikan oleh istri atau sebaliknya. Sikap anak tumbuh menjadi pribadi yang berbeda dari anak lain pun sebab adanya perbedaan kualitas perhatian yang diberikan orang tua.
Begitu penting ya perhatian itu...
Pengaruh media sosial sangat hebat sekali terhadap tumbuh kembang psikologis kita. Tanpa disadari kita meletakkan privasi atau pundi-pundinya ke situs tersebut. Tanpa merasa khawatir akan adanya suatu masalah yang akan muncul. Mungkin pada awalnya kita tidak memperhatikan kaidah-kaidah agama, moral, dan lainnya. Hingga orang lain yang memperhatikan dan merasa bahwa itu kurang ahsan, angkat bicara dan menjabarkan mengenai hukumnya.
Barulah kita menyadari, "Oh ada baiknya tidak memposting foto selfie", "Oh jadi sebaiknya kita tidak meng-upload foto-foto anak kita", dan lain sebagainya. Kenapa kita baru sadar? Mungkin karena kurang memperhatikan atau sudah diperhatikan namun tidak mau memahami, atau sudah paham tapi mencari-cari niat agar itu tidak menjadi suatu dosa. Ketika saudara terdekat terkena musibah, barulah mereka percaya.
Koreksi untuk diri pribadi. Betul, segala sesuatu harus dipikirkan dengan positif. Agar pikiran buruk tidak membuat kita menjadi terpuruk. Kadang karena kebencian atau kecintaan kita mengabaikan sisi positif dan negatif suatu hal.
Sifat selalu merasa "menjadi korban", agaknya akan memunculkan tingkah laku mencari-cari simpati atau perhatian. Saya berusaha tidak menjudge, tapi, sepertinya, sifat merasa "menjadi korban" ini banyak mengadu ke media sosial, untuk tujan apa? kalau boleh saya tanya hahaha.
Ya silahkan saja, saya tidak melarang. Cuma penasaran, efek ini dampaknya mengarah kemana.
Apakah tidak ada orang terdekat untuk bercerita? Atau itu merupakan suatu bentuk kode? Atau apa saya tidak tahu?
Mungkin saya juga begitu. "Iseng", kata-kata yang sering dijadikan alasan, juga "buat ngerame-ramein timeline" katanya. Menurut KBBI Online, iseng artinya merasa menganggur (tidak ada yang perlu segera dikerjakan". Kelihatannya iseng ini lebih mengarah kesia-siaan, jika isengnya tidak bermanfaat.
Bagaimana jika isengnya adalah mengeluh, merasa bahwa diri ini sedang menjadi orang yang paling menderita di dunia ini hahaha, atau mungkin iseng bentuk yang lain adalah iseng berbangga diri.
Saya pribadi menggolongkan hal seperti ini menjadi salah satu homework yang harus saya kerjakan, yaitu soal self-control. Pengontrolan diri, saya butuh perhatian siapa, siapa orang yang butuh perhatian saya, apa yang perlu saya posting dan tidak. Juga, saya memang menganggap hal-hal yang berkaitan dengan keluarga, hubungan pribadi lebih cenderung ke arah privasi. Sehingga saya lebih suka mempostingnya di blog yang kemungkinan pembacanya lebih sedikit ketimbang media sosial seperti Facebook. Sebab cukup banyak yang harus saya tulis. Pun jika saya mengeluh, saya berharap turut menyertakan hikmah, agar keluhan saya tidak berujung sia-sia, agar orang lain dapat mengambil manfaatnya.
Allahu a'lam
keren,... nice opinion
ReplyDelete