Astagfirullah, ya Allah saya ga mau sebetulnya mengeluh seperti ini... tapi saya sangat tidak nyaman dengan keadaan seperti ini. Yah pada dasarnya saya mungkin memang kurang sabar dan bersyukur. Dan persoalan seperti ini bergantung bagaimana cara kita memandangnya.
Saya saat ingin belajar dirumah, sangat ingin sekali. Saya juga bukan bermaksud membuat banyak excuses untuk tidak belajar karena adanya kasus ini. Saya sudah merasakan menumpulnya otak, kemampuan menganalisa, logika dan lainnya. Saya bukan orang cerdas seperti teman saya yang lain. Namun saya berpikir bahwa menjaga ilmu yang sudah kita ketahui itu diperlukan.
Niatnya saya bermaksud untuk mengulang seluruh mata kuliah analisis kimia, ditambah memahami kimia inti lebih dalam lagi. Memang ketertarikan saya terhadap atom dan berbagai macam sub atomnya cukup besar saat ini. Saya butuh belajar.
Saya bukan bermaksud untuk mengeluhkan ketidakpekaan orang lain terhadap ketidakmampuan saya untuk belajar dalam kondisi yang ramai, terlihat oleh orang lain, atau diajak bicara saat saya sedang fokus. Perlahan-lahan saya mulai berpikiran buruk, bahwa seandainya saya bicarakan pun, mereka tidak akan mengerti.
Kadang saya berpikir, mengapa saya yang harus beradaptasi dengan mereka, sedangkan mereka asik dengan urusan pribadinya tanpa peka terhadap keinginan orang lain. Ini juga pelajaran buat saya, menjaga hubungan dengan orang lain memang sulit. Kita tidak bisa membuat semua orang bahagia.
Saya sangat ingin menangis. Memang, memang, Allah selalu bekerja dengan cara yang tidak biasa. Tapi, beruntungnya saya, Allah membuat saya paham dan tidak berhenti untuk berkeyakinan, bahwa segala sesuatu yang menimpa saya adalah yang terbaik. Dan itu terbukti benar, Allah selalu benar, Dia telah mengizinkan saya untuk mengambil hikmah. Dan penyesalan yang datang terakhir itu membuat saya lagi-lagi berpikir hal yang sama, "inot seandainya kamu dulu lebih bersyukur atau bersabar!".
Lisan yang harus dijaga ini, harus tetap diam hingga saatnya tiba atau saya berbicara dengan menebak-nebak kondisi yang aman agar nasehat saya bisa diterima. Saya berlepas tangan dari memberi nasehat, saya sangat khawatir dengan lidah saya ini. Ya Allah tolong buat saya diam, jika apa yang saya bicarakan tidak bermakna sama sekali.
Ada saat dimana saya menemukan rasa bahagia hanya dengan mengingat Allah. Dan Allah lagi-lagi membuktikan itu pada saya, Allah selalu memberi bukti nyata pada saya. Dia benar. Dia selalu benar.
Pada akhirnya, setelah saya menuliskan hal ini dengan panjang lebar. Akhirnya saya sadar, bahwa hanya Allah yang saya butuhkan.
Yah, lagi-lagi hanya Allah tempat kembali....
No comments:
Post a Comment