Tuesday, May 26, 2015

Belajar Dari Kasus Myanmar-Rohingnya


Source: http://myanmartravelpartners.com/

Bismillahirrahmanirrahim, semoga Allah mengampuni opini, beserta kebodohan lainnya dalam tulisan saya ini.

Myanmar, salah satu negara tetangga kita yang menjadi pembicaraan hangat saat ini. Setelah membaca artikel dari Eramuslim, setidaknya ada beberapa hal yang dapat kita jadikan sebagai pelajaran. Terlepas dari benar atau tidaknya artikel tersebut, sebab berasal dari terjemahan agensi berita Reuters. Dan saya pun tidak bisa men-tabayunkan isi artikelnya.
Pekerja toko emas melihat jepit rambut itu, ternyata jepit itu sedikit rusak, maka Pemilik toko muslim itu, seorang wanita muda berusia 20-an, karena rusak maka ia menawar hanya 50.000 kyat. Aye protes, menyebut pemilik tidak masuk akal. Karena hinaan Aye maka pemilik toko muslim itu menamparnya, kata saksi. Aye Aye dan suaminya berteriak di toko tersebut dan segera tiga staf toko muslim itu menarik mereka keluar toko, menurut pengakuan sepihak suami isteri budha itu mereka dipegangi dan dipukuli oleh tiga staf toko.
Lagi, disebabkan oleh akhlak seorang muslim yang kurang baik. Keterangan saksi belum tentu benar, namun hendaknya kita mengambil hikmah bahwa sikap adalah hal yang sangat penting. Kadang, saya tidak suka pernyataan "Kita ini kan bukan Nabi!". Betul, kita memang bukan Nabi. Tetapi, alasan tersebut tidak bisa kita jadikan acuan untuk selalu memaklumi kesalahan-kesalahan yang kita lakukan. Artinya, seorang muslim harus mempunyai target untuk berkepribadian baik setiap harinya. Kita memang tidak bisa berakhlak canggih layaknya Rasulullah saw, tapi kita bisa tidak berhenti untuk belajar dan mencoba. Belajar menjadi bijaksana. Mengapa bijaksana? Kebijaksanaan adalah kecerdasan dalam bersikap. Bagi saya, ini adalah akhlak yang sangat tinggi, sulit untuk dilaksanakan.
Sebagai contoh, cerita yang saya dengar dari Omesh saat dia menjadi tamu disalah satu acara (jika saya tidak salah). Kita bisa balajar dari almarhum Ustad Jefri. Omesh bercerita pada alm. Ustad Jefri bahwa dia memelihara anjing. Telah kita ketahui bahwa anjing adalah binatang najis. Omesh pun mengkonsultasikan persoalan tersebut pada alm. Ustad Jefri. Ustad Jefri tahu bahwa Omesh sangat menyayangi anjingnya. Bijaknya beliau adalah beliau tidak langsung melarang dan menyuruh Omesh untuk meninggalkan anjing tersebut. Beliau bertanya dengan logis, "Apakah Omesh mampu jika harus bersuci setiap waktu?". Omesh pun menyadari bahwa dia tidak mampu. Akhirnya Ustad Jefri, menyarankan agar Omesh pelan-pelan memisahkan diri dari anjingnya, mulai dari mengandangkan, dititipkan ke tetangga, hingga anjing itu diberikan kepada orang lain yang mampu menyayangi dan merawatnya. Jika Ustad Jefri langsung melarang Omesh, mungkin Omesh tidak akan seperti sekarang yang belajar untuk mengikhlaskan.

Tidak semua orang bisa bersikap bijaksana bukan?
Wirathu takut Myanmar akan mengikuti jalan seperti Indonesia setelah Islam masuk ke Nusantara pada abad ke-13.
Ketakutan terhadap perkembangan Islam. Tidak hanya Budha saja yang takut akan Islam, begitu pula Yahudi, dan lainnya. Saya juga tidak paham betul alasannya. Propaganda yang dibuat oleh barat akan wajah kaum muslimin sebetulnya sangat berefek terhadap masyarakat barat. Ketika saya membaca 9gag, ternyata banyak orang ketakutan saat seorang muslim mengucapkan "Allahu akbar!". Mereka takut akan adanya bom bunuh diri dan sejenisnya. Menurut saya Islam sulit dirusak dari luar, artinya kaum muslim kemungkinan besar akan tutup telinga jika mendengar pernyataan dari orang  non-muslim yang mengarah pada kerusakan. Oleh sebab itu kebanyakan perpecahan bersasal dari dalam Islam itu sendiri. Bukan agamanya yang tidak sempurna, melainkan kita sebagai umat muslim. Itulah gunanya ukhuwah dan saling mengingatkan satu sama lain.Banyak orang non-muslim yang repot-repot belajar Islam untuk menghancurkan Islam dari dalam. Sayangnya, tidak banyak kaum muslim yang mau repot-repot belajar agamanya sendiri, padahal itu untuk kepentingannya nanti di akhirat. Kita terlalu disibukkan oleh persoalan tidak penting dan menjadikan gaya hidup hedonis sebagai panutan.
Kegagalan pemenang Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi, pemimpin oposisi saat ini di parlemen, untuk meredakan ketegangan lebih lanjut merusak citranya sebagai kekuatan moral pemersatu. Suu Kyi, seorang Buddhis yang taat, mengatakan sangat sedikit dan kurang berperan terhadap kerusuhan ini. Dan Suu Kyi menolak untuk diwawancarai untuk tragedi ini.

Source: http://id.wikipedia.org/
"Gelar" perdamaian yang sia-sia. Aung San Suu Kyi, seorang aktivis yang berjuang mempromosikan demokrasi dinegaranya tanpa menggunakan kekerasan dalam menentang kekuasaan rezim militer (Wikipedia). Inilah yang membedakan non-muslim dengan muslim taat, layaknya Abu Bakar. Aung San Suu Kyi nampak mendadak bisu dalam kasus Rohingnya. Saya pribadi belum menemukan kabar yang menyatakan adanya langkah positif dari penerima Nobel tersebut. Apakah seorang yang telah diberi gelar perdamaian, lantas berhenti begitu saja untuk memperjuangkan perdamaian yang lain?
Kita dapat mencontoh Abu Bakar Ash Shidiq, yang dengan gelarnya beliau tetap menjadi orang jujur dan membenarkan Rasulullah saw hingga akhir hayat.
Menikmati reputasi ekstremis nya, Wirathu menggambarkan dirinya sebagai “Osama bin Laden nya Burma.” 
Double standard. Saya kira sudah banyak yang tahu persoalan double standard ini. Jika oknum yang mengaku Islam (padahal bukan) melakukan pembantaian maka mereka disebut sebagai teroris. Jika oknum agama lain mereka tidak disebut sebagai teroris. Dalam kasus ini, pelaku adalah kaum Budhist, bukan oknum yang berpura-pura sebagai Budhist. 
“Dan ketika mereka menjadi kaya, mereka membangun masjid yang tidak terbuka, tidak seperti pagoda dan biara-biara,” tambahnya. “Mereka seperti stasiun basis musuh bagi kita. Masjid lebih berarti markas musuh, jadi itu sebabnya kita harus mencegah adanya markas musuh lebih banyak.”
Seharusnya kita lebih bersemangat dalam memakmurkan Masjid. Lihat! Betapa sadarnya mereka akan manfaat luar biasa dari Masjid! Zaman sekarang, hanya orang-orang anti-maintsream yang menjadikan Masjid sebagai tempat mulia untuk beribadah, memakmurkannya, mengkuti kajian, dan lain sebagainya. Yang sanggup berjalan di mall berjam-jam, seharusnya sanggup juga pergi ke Masjid. Yang sanggup wisata kuliner di restoran mahal, seharusnya sanggup juga pergi ke Masjid. Begitu pula yang mendaki gunung berliku-liku, seharusnya sanggup untuk pergi ke Masjid.

Masih banyak hal lain yang dapat kita perlajari dari sudut pandang berbeda. Kasus Rohingnya kabarnya bukan persoalan agama. Namun, pernyataan Biksu Budha akan takutnya Myanmar seperti Indonesia, seperti kode garis keras bahwa kasus ini menjadi masalah agama.

Allahu a'lam

No comments:

Post a Comment