Bukan keinginan Nana kehidupan dirinya yang penuh keprihatinan. Menyedihkan memang, setelah teman-temannya mati dibunuh, dia seorang diri, lalu menikah dengan Hanzo. Awalnya, sungguh Nana mengharapkan tumbuhnya keluarga baru untuk menemaninya. Tapi, keadaan tidak sedemikian mudah, sehingga yang dialami adalah penderitaan.
Mengalirnya darah sihir dalam tubuh seseorang tidak menjadi harapan semua orang. Nana berbeda, DNA sihirnya tidak identik dengan DNA sihir keluarga Drake ataupun Killsting. Tak ada sebab yang jelas mengenai pertengkaran kedua keluarga sihir ini. Dan bukan hal yang biasa seorang keluarga Drake mampu menikah diam-diam dengan keluarga Killsting, itulah orang tua Nana yang membuangnya. Nana tidak mampu melakukan sihir apapun. Ya, dia berbeda.
Perlu diketahui pula DNA sihir tidaklah sama dengan DNA dalam ilmu biologi atau genetika. Bentuknya serupa, tapi susunannya tidak ada hubungannya sama sekali antara sihir dan genetika. Bentuk khas DNA sihir dapat saja ditiru persis dengan sihir murni tingkat tinggi. Hanya ada dua sihir murni didunia ini, perasaan dan alam. Alam semesta adalah sihir murni yang tidak bisa dikendalikan oleh manusia.
Cinta adalah kata yang tak terdefinisi dengan mutlak. Bagi Nana hidupnya bukanlah soal dia mencintai suaminya atau tidak. Dia hanya butuh seseorang untuk menemaninya, tidak peduli 'gelar' yang disandang lawan bicaranya, entah itu bernama sahabat, kekasih, atau suami.
Terkadang perlu menyelidiki alasan Hanzo menikahi Nana. Tapi Nana tidak akan mampu. Dia merasa dirinya ditolak mentah-mentah dalam kehidupan Hanzo. Tinggal bersama disebuah rumah mewah bergaya tradisional Jepang, dengan kamar tidur yang berbeda, tidak ada bedanya tidur di hotel bintang lima. Bersistirahat, sambil menunggu tanpa tahu menahu sesuatu yang ditunggunya. Hampa.
"Aku hanya berusaha mencari teman!" begitulah pikiran Nana.
No comments:
Post a Comment